Kenapa Saya Resign dari PNS?

2 comments

Tidak pernah menyangka sebelumnya saya akan meninggalkan status PNS yang saya banggakan dan tentunya juga dibanggakan oleh orang tua saya. Mengingat perjuangan saat tes yang harus bolak-balik ke provinsi tetangga, rasanya berat sekali. Namun tetap saja, akhirnya lima tahun lalu, saya mantap resign dari salah satu kementerian.


Resign PNS

"Pasti ada alasan besar, di balik pengorbanan besar."


Saya menganggap bahwa keputusan ini adalah pengorbanan besar. Bagaimana tidak, dari yang sebelumnya berpenghasilan tetap, kini tidak lagi menerima gaji setiap bulan. Masa depan saya tentu dipertaruhkan. Dulu bisa menikmati dinas luar kota atau bercengkrama dengan teman-teman kantor, sekarang di rumah saja mengurus anak dan mengerjakan setumpuk tugas rumah tangga. Lalu, apa sih yang membuat saya bersikeras meninggalkan itu semua? Berikut alasannya.


Baca juga: 4 Alasan Kenapa Ibu Butuh Kesiapan Mental Sebelum Resign dan Jadi Ibu Rumah Tangga


1. Anak

Saya resign tepat setelah kelahiran anak pertama. Jelas alasan utamanya adalah karena anak. Banyak yang sangsi dengan keputusan saya. Dibilang ini hanyalah emosi sesaat karena selama cuti tiga bulan, saya selalu bersama anak. Apalagi anak pertama, pasti besar meninggalkannya. Nanti kalau sudah bekerja, akan terasa biasa saja.


Tapi apa yang saya rasakan berbeda. Saya ingin selalu hadir di setiap detik tumbuh kembang anak-anak. Menjadi orang pertama yang melihat langkah pertama mereka, mendengar kata pertama mereka dan hingga besar pun ingin menjadi orang pertama yang mereka cari saat ada masalah. Saya ingin membangun ikatan seerat mungkin dan sedini mungkin. Saya khawatir, bila bekerja, saya tidak bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan kebersamaan dengan anak-anak. Nanti pasti ujung-ujungnya saya kewalahan sendiri. Mengingat sifat saya yang cenderung meninggalkan apa yang membuat saya tidak nyaman. 


Lagi pula, kerjaan kantor pasti bisa diselesaikan oleh orang lain. Mungkin bisa lebih baik dari saya yang konsentrasinya sudah terbagi dengan anak. Hasil kerja tidak akan maksimal dan akhirnya merugikan instansi. Sedangkan bila saya bersama anak, tentu kehadiran ibunyalah yang paling dibutuhkan. Jadi secara posisi, saya pastikan hasilnya akan lebih baik bila saya full bersama anak, dari pada bekerja yang tidak total. 


Saya yakin, setiap ibu pasti memprioritaskan anak di atas segalanya. Tapi mungkin caranya berbeda. Dan inilah cara saya. 


2. Trauma Masa Kecil

Ini juga menjadi alasan kuat. Bila banyak teman-teman saya yang ingin menjadi wanita karier karena memiliki ibu yang juga sukses menjadi wanita karier, maka tidak bagi saya. Salah satunya trauma karena pengasuh. Ada beberapa pengasuh yang tidak memperlakukan saya dengan baik saat masih kecil. Jadi rasa itu membekas sampai sekarang. 


Setiap kali membayangkan anak saya ditinggal bersama pengasuh, yang selalu berputar di kepala adalah kenangan tak mengenakkan saat kecil dulu. Padahal belum tentu itu terjadi. Nah, dampaknya buat saya sangat tidak mengenakkan. Saya bisa berkeringat dingin, cemas berlebih dan tidak bisa konsentrasi melakukan apa pun. 


Anak pertama saya sempat bersama pengasuh beberapa minggu. Setelah mencoba, bukannya tenang, rasa takut itu tak pernah hilang. Bahkan untuk membiarkan pengasuh membawa bayi saya berjemur ke luar saja, saya selalu was-was dan begitu cemas. 


3. Kurang Nyaman dengan Jam Kerja Tetap

Setiap hari kerja, saya selalu malas bangun untuk berangkat ke kantor. Bukan karena suasana kantornya atau kerjaannya, tapi karena saya tidak nyaman diikat waktu. Harus bekerja jam segini dan pulang jam segini. Saya selalu mengidamkan pekerjaan itu bisa dibawa pulang. Dan menurut saya itu sangat memungkinkan. Namun karena peraturan, saya harus tetap berada di kantor selama jam kerja.


Sedangkan belum punya anak, saya sudah seperti ini. Apalagi setelah melahirkan. Ada hal lain yang menanti di rumah. Saya tidak yakin bisa menjalaninya dengan baik. Dari pada saya tertekan, lebih baik bila fokus saja di rumah dengan anak dan cari pekerjaan lain yang sesuai passion agar hasilnya lebih maksimal. Semoga segera terwujud, aamiin. Yang penting sampai saat ini, alhamdulillah saya masih bisa produktif dalam bidang yang saya sukai.


4. Keuangan Keluarga "Aman"

Saya sudah menghitung-hitung berapa biaya yang akan saya habiskan untuk pengasuh atau daycare, uang makan dan kebutuhan lain apabila saya tetap bekerja. Hasilnya? Memang masih ada sisa, namun tidak banyak. Dan saya anggap itu jauh lebih kecil dibandingkan kepuasan saya dan kebahagiaan saya bersama anak. Jadi untuk beberapa tahun di awal, saya yakin tidak ada masalah dengan keuangan keluarga.


Tapi itu kan kalau anak-anak masih kecil. Nanti kalau mereka sudah besar, apa pengeluarannya masih sama? Pasti lebih besar 'kan? Tentu saja lebih besar. Nah, ini juga sudah saya pikirkan. Saya dan suami sepakat untuk selalu berusaha mencari pintu pemasukan lain. Walau jalannya tidak akan semulus rencana, tapi saya yakin, selama konsisten, pasti ada hasilnya.


Segagal-gagalnya usaha kami nanti, insyaAllah gaji suami masih bisa mencukupi. Ini juga sudah kami tanya ke teman-teman di kantor yang istrinya tidak bekerja. Walau hidup sederhana, gaji mereka masih cukup untuk membiayai hingga anak kuliah. Inilah yang membuat saya jadi tenang. 


5. Dapat Izin Suami

Awalnya suami tidak memberi izin. Namun setelah didiskusikan matang-matang, baik dari sisi psikologis saya, keuangan keluarga dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti, suami akhirnya sepakat dan setuju kalau saya di rumah saja bersama anak-anak.


Di tulisan saya beberapa tahun lalu, banyak yang komentar bahwa izin suami menjadi penyebab paling sering urungnya niat mereka untuk resign. Sebagai istri, tentu izin suami tidak bisa dikesampingkan. Suami melarang, pasti ada alasannya. Sedikit saran, jujurlah dengan keadaan. Diskusikan dengan terbuka dan pertimbangkan baik dan buruknya. Saya yakin, bila ternyata lebih banyak positifnya, suami akan berubah pikiran. Tapi kalau sebaliknya, tentu keputusan resign tidak mungkin diambil. 


Kenapa saya tidak membahas izin orang tua? Bukannya ingin menjadi anak durhaka, namun saya berprinsip bahwa setelah menikah, saya sudah memiliki keluarga sendiri yang harus dipikirkan bagaimana ke depannya. Apa yang terbaik, tentu keluarga kecil saya lah yang paling tahu. Ditambah lagi kini status saya sudah menjadi orang tua. Bukan hanya orang tua saya saja yang ingin terbaik untuk anaknya, saya pun juga ingin yang terbaik untuk anak saya. Makanya saya harus berani memilih. Bagaimanapun, yang menjalani tetaplah saya, serta suami dan anak-anak yang tinggal dalam satu atap.


Meski orang tua tidak setuju, tetap harus mengutarakan niat resign secara jelas. Apa alasannya dan apa yang akan dilakukan setelahnya. Sebenarnya orang tua kita hanya tidak ingin anaknya menderita bila nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka berilah penjelasan selengkap-lengkapnya agar kekhawatiran itu sedikit mereda. Mungkin di awal tidak langsung menerima, selama kita memiliki alasan yang kuat, lambat laun orang tua pasti mengerti.


6. Tidak Siap Menghadapi Drama ART

Saya sudah mendengar drama-drama ART atau pengasuh ini sejak dari remaja. Orang tua saya yang dua-duanya bekerja, beberapa kali menceritakan ulah-ulah ART yang suka bikin pusing. Teman-teman di kantor pun sama. Tidak jarang pula harus ekstra sabar dan rela mengalah dengan permintaan atau sikap kurang baik dari ART. Apalagi kalau mendekati lebaran, siap-siap saja menerima konsekuensi ART tak kembali. Momen anak-anak yang terpaksa ikut ke kantor usai lebaran, sudah menjadi pemandangan lumrah.


Ini tentu sebuah masalah besar bagi orang tua yang mengandalkan ART selama bekerja. Mencari ART dengan cepat juga susah, karena belum tentu langsung cocok. Akhirnya, bekerja jadi tidak fokus. Atau malah tidak bisa bekerja karena pasti lebih mengutamakan anak. 


Tapi kan ada daycare? Memang ada dan bisa menjadi solusi teraman dalam urusan menitipkan anak. Namun belum tentu nanti ada daycare yang cocok, baik dari segi lokasi, fasilitas atau biaya. Mau tidak mau, ART atau pengasuh tetap jadi andalan. 


Saya tidak mau mengalaminya. Rasanya tidak sanggup dipusingkan dengan masalah yang sebenarnya bisa saya hindari. Yang saya simpulkan cuma satu, bila anak-anak bersama saya, saya tidak perlu menghadapi drama ART. Titik. Sesederhana itu. 


***


Baca juga: Pentingnya Menyesuaikan Diri dengan Pekerjaan Suami


Itulah beberapa alasan terkuat saya yang melatarbelakangi keputusan resign dari PNS. Alasan-alasan ini tidak ditemukan dalam sekejap saat niat resign terlintas. Namun setelah memikirkan bermalam-malam dan membuat list, kira-kira apa saja hal yang membuat saya harus melanjutkan bekerja atau tidak. Ternyata dalam list tersebut lebih banyak tertulis alasan yang memberatkan saya untuk di rumah saja bersama anak. 


Jadi, memutuskan resign dari PNS tidaklah semudah yang dikira. Alasannya harus jelas, karena alasan inilah yang akan kita pegang agar jangan sampai ada penyesalan setelahnya. 


Adakah dari teman-teman yang juga memantapkan hati untuk resign dari PNS? Cerita di kolom komentar, yuk.

Atau kalau ada yang ingin ditanyakan, boleh banget! 


Semoga bermanfaat.

2 comments

  1. keputusan yang besar dan melalui pemikiran matang. sukses terus kak

    ReplyDelete
  2. Ikut menyimak cerita nya dan semoga sukses selalu Mbak..

    ReplyDelete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)