Menulis sebagai Self-Healing Itu Benar-Benar Bekerja dan Membahagiakan

3 comments

Saya suka menulis. Saya bahagia ketika aktivitas menulis ini mampu menjaga kewarasan saya, melahirkan karya dan menjadi bukti aktualisasi diri.


Menjalani kehidupan yang erat dengan aktivitas menulis, terutama blogging dan naskah buku, membuat saya semakin jatuh cinta. Tidak terbayangkan bagaimana kondisi mental saya sebagai ibu rumah tangga yang memilih resign, bila tidak diimbangi dengan menulis. Inilah yang menyelamatkan saya dalam masa-masa terburuk. 


Menulis sebagai self-healing
Buku Hitam, bukti karya dari aktivitas menulis yang bisa menyembuhkan

Bila ditanya apa sumber kebahagiaan saya di tengah sibuknya mengurus anak dan rumah tangga, jawabannya sudah pasti menulis. Saya bisa curhat ketika segala rasa yang tidak menyamankan akan meledak dalam dada, saya bisa mengembangkan diri dalam banyak hal, serta sebagai bukti bahwa ibu rumah tangga juga bisa produktif dari rumah. Intinya, saya sangat bahagia karena keinginan untuk dianggap sebagai 'ibu rumah tangga yang tak biasa' berhasil saya dapatkan dari menulis.


Kenapa saya bisa sejatuh cinta ini dengan aktivitas menulis? Sejauh mana menulis bisa memberi kebahagiaan bagi saya?



Menulis Sebagai Self-Healing

Memilih media menulis yang tepat untuk healing
Blog menjadi media menulis healing yang paling tepat untuk saya

Manfaat penyembuhan dari menulis ini kembali diisukan sejak pandemi datang. Banyak orang-orang yang stres di rumah karena sebelumnya biasa beraktivitas sibuk di luar. Saya paham betul bagaimana rasanya. Ketika tiba-tiba kehidupan diputar 180 derajat. Betapa tertekan dan jenuhnya hanya di rumah saja tanpa bisa ke mana-mana.


Kembali ke 5 tahun silam, saya nyaris depresi disebabkan aktivitas ibu rumah tangga yang begitu monoton. Tanpa putus mengerjakan tugas yang sama dan hanya berhadapan dengan bayi sepanjang hari. Apa yang membangkitkan saya? Jelas, menulis. Banyak sekali artikel blog yang lahir dari ketidakwarasan saya. Dan benar, saya pasti lebih lega setelahnya. Apalagi bila artkel tersebut dibanjiri komentar, wah otomatis saya merasa jauh lebih baik dalam sekejap.


Namun beberapa waktu belakangan, saya sempat meragukan manfaat menulis sebagai self-healing ini. Ketika blog saya sudah mulai mendapatkan tawaran kerja sama, saya mulai dikejar deadline. Bukannya bersyukur, saya malah jadi kalang-kabut. Disandingkan dengan kondisi anak-anak yang sudah mulai bbesar dan sangat aktif,  menjadikan menulis yang sebelumnya memberi ketenangan, kini malah berubah menjadi pematik tekanan. 


Bila ingin bahagia, tentu harus disembuhkan dulu lukanya.


Akhirnya saya mulai menata diri. Bila disuruh meninggalkan aktivitas menulis, saya tentu tidak mau. Lalu bagaimana solusinya? Ternyata saya keliru. Aktivitas menulis yang benar-benar berhasil sebagai self-healing, ada caranya dan harus sesuai pula kondisinya. Dengan cara yang tepat inilah, akhirnya saya bisa kembali merasakan healing dari menulis.


Baca juga: 5 Tahun Ngeblog, Dapat Apa?


1. Media yang Sesuai

Perkembangan digital semakin menambah ragam media untuk menulis. Bila sebelumnya hanya bisa dilakuakan di atas kertas, kini lebih bebas merangkai kata di mana saja. Hanya bermodal smartphone, akhirnya menghasilkan puluhan karya. Jangankan untuk healing, menulis memiliki begitu banyak fungsi yang tak ada habisnya.


Lalu bagaimana cara memilih media menulis yang tepat digunakan sebagai healing? Apakah harus berupa buku diary yang banyak direkomendasikan ahli, atau bisa-bisa saja memanfaatkan sosial media dan platform menulis lainnya?


Bagi saya, apa pun bisa asal sesuai dengan kebutuhan.


Misalnya saya yang biasanya ngeblog. Saya sangat nyaman dengan blog saya, hingga akan memikirkannya lebih dulu sebagai wajan yang akan menampung segala curhatan saya. Tidak masalah bila dibaca banyak orang. Malah dari komentar pembaca, saya bisa mendapatkan aliran semangat dan solusi. Atau masalah yang saya ceritakan, terkadang bisa menjadi pemecah masalah bagi orang lain. Menarik, bukan? Saya tenang karena bisa mencurahkan perasaan dan saya juga bahagia karena ternyata saya tidak sendiri.


Aku dan Kista Tiroid di blog
Aku dan Kista Tiroid, artikel curhat di blog yang ternyata sangat bermanfaat bagi pembaca

Lalu saya merambah ke dunia penulisan buku. Menerbitkan buku memang menjadi salah satu cita-cita saya setelah fokus ngeblog. Maka saya mulai membuat naskah yang sebagian besar isinya adalah pengalaman saya. Kesannya berbeda. Secara interaksi, mungkin tidak sebesar dengan pembaca blog. Tapi ketika saya melihat buku tersebut hadir secara fisik, tidak peduli siapa pembacanya, ada kebahagiaan yang terpercik. Wah, ternyata saya bisa membuat aktivitas menulis yang basic-nya curhat, berniat memberi sedikit ruang di hati, menjelma menjadi karya yang layak diapresiasi.


Nah, media ini harus dipilih sesuai dengan kenyamanan. Bukan sekadar ikut-ikutan atau kata teman. Tetapi kembalikan ke diri. Bila ingin menyimpannya sendiri dan memang lebih nyaman dengan itu, maka menggunakan media fisik seperti diary dan menulisnya dengan tangan, tentu pilihan yang sangat tepat. Namun bila membaginya di media sosial dan mendapat respon setelahnya ternyata jauh lebih menenangkan dan membahagiakan, maka lakukanlah.


Tapi perlu digarisbawahi bahwa menulis di media yang bisa dibaca banyak orang, tentu memiliki risiko. Bisa saja tulisan kita tidak mendapat respon sesuai keinginan. Mungkin sebaliknya dan malah akan menambah beban masalah. Agar ini tidak sampai terjadi, maka buatlah tulisan yang positif. Tidak peduli seburuk apa suasana hati, jangan sampai membuat konten pengundang petaka.


2. Menulis yang Positif

Ini adalah kunci kesuksesan menulis sebagai healing. Baik itu tulisan yang hanya bisa diakses secara pribadi, atau pun yang bisa dibaca seluruh mata. Ungkapkanlah apa yang dirasa dengan baik. Bukan dengan kata-kata kasar atau semacamnya.


Pernah beberapa kali saya mencoba menulis di buku diary yang menyelipkan umpatan kasar. Beranggapan bahwa itu aman karena tidak ada yang akan membaca dan akan menemukan kelegaan setelahnya. Tapi yang terjadi malah berlawanan, kekesalan saya berlipat. Akhirnya tulisan itu saya sobek dan buang.


Kesimpulannya, bila ingin berhasil menyembuhkan luka dengan menulis, maka ungkapkanlah dengan rangkaian kata yang baik. Kalau di blog, biasanya saya rangkum dalam bentuk tips atau sharing pengalaman. Saya akan menghindari aib yang fatal agar tak menjadi bumerang. Jadi pilahan dari penggalan masalahlah yang saya rangkum sehingga bisa memberi benefit bagi pembaca. 


Sebenarnya orang tidak akan peduli dengan masalah kita bila tidak terlalu akrab. Yang pembaca pedulikan adalah apa yang akan dia peroleh dari tulisan kita. Makanya saya hanya akan memberi sedikit sentuhan story telling di bagian awal, lalu dilanjutkan dengan sesuatu yang berguna untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jadi pembaca bisa mendapat informasi sekaligus solusi.


Apakah bisa mendapatkan healing melalui penulisan naskah buku? Bisa, dong!

Bahkan melalui cerpen atau cerita fiksi juga ampuh memberi penyembuhan. Sebagai penulis pemula, hampir semua naskah cerpen atau senandika yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi. Konflik yang harus ada dalam cerita, pasti berupa kejadian yang tidak mengenakkan. Nah, di sinilah sesi curhatnya. Saya menjadikan masalah saya sebagai konflik.


Berbeda lagi dengan senandika, saya bisa curhat dengan kata-kata manis tanpa harus mengumbar identitas. Karena dalam ketentuan karya senandika menggunakan POV1 yang otomatis semuanya menggunakan "aku". Tidak peduli kisah siapa yang menjadi sumbernya. 


Menulis naskah buku sebagai self healing
Contoh naskah buku sebagai self-healing yang saya tulis


Menulis adalah cara yang manis untuk healing.


Bila masalah kita dikemas baik dan positif, pasti akan menjadi healing yang bermakna dan menghasilkan. Bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga memiliki nilai kebermanfaatan.


Kurang bahagia apa coba, bila kita bisa bermanfaat bagi orang lain walau hanya di rumah? Dan itu bisa didapatkan dari menulis.


3. Kondisi yang Kondusif

Ketika saya benar-benar ingin menulis sebagai healing, saya akan menunggu tengah malam setelah anak-anak tidur. Selain bebas gangguan, suasananya juga hening dan hanya ada saya dan layar. Proses menulis akan lebih lancar bila dibandingkan dengan saya menulis di siang hari dengan latar suara anak-anak yang bermain


Beberapa teman juga merekomandasikan menulis saat subuh sebelum aktivitas harian dimulai. Saya pun pernah mencoba ini beberapa kali, namun malah mengantuk di jam-jam sibuk mengurus anak, yaitu pukul 10 pagi. Akhirnya saya kembali ke malam hari dan berhenti sebelum jam 12 malam.


Tubuh manusia memiliki siklus waktunya masing-masing. Di waktu mana otak lebih cepat berpikir atau di waktu mana rasa lebih mudah mengalir. Teman-teman bisa memilih waktu ternyaman untuk mencurahkan isi hati dalam tulisan. Sebisa mungkin niatkan sebelumnya dan hanya sendirian. Jadi lebih fokus dan healing itu sendiri bisa berhasil.



Menulis Memberi Kebahagiaan

Prestasi dan karya dari menulis
Kebahagiaan sekaligus kebanggaan dari aktivitas menulis sebagai self-healing

Luka-luka yang berhasil diobati oleh aktivitas menulis, ternyata membuat diri bisa lebih aktif, produktif dan kreatif. Kondisi mental yang fit, tentu tidak akan membiarkan raga hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sehingga banyak bingkisan kebahagiaan yang menyusul setelah healing dilakukan.


Menulis membuat saya kembali dipandang "lebih".

Kaget. Itu yang saya rasakan ketika pandangan meremehkan tiba-tiba diarahkan kepada saya saat memutusakan menjadi ibu rumah tangga. Stigma di masyarakat begitu kuat. Padahal menurut saya tidak ada yang salah bila seorang ibu memilih full di rumah.


Berkat menulis inilah akhirnya saya bisa membuktikan bahwa ibu rumah tangga bisa melakukan banyak hal produktif dan bermanfaat dari rumah. Secara tidak langsung, saya membantah stigma tersebut dan tidak lagi dipandang sebelah mata.


Menulis membuat saya bisa mengukir prestasi dan melahirkan karya.

Buah manis konsistensi yang satu ini berulang kali menoreh kebanggaan dalam diri saya. Menjalani kehidupan sesuai passion, membuat saya berjuta kali lebih bahagia ketika meraih prestasi dan apresiasi di sana. Tidak pernah menduga bahwa saya mampu melahirkan buku antologi dan satu naskah buku solo yang kini tengah mencari jodohnya. 


Sebagian besar ya hasil dari curhatan saya selama menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Bukti bahwa mencurahkan perasaan dalam tulisan positif akan memberi hal positif juga bagi Si Penulis.


Menulis membuat saya mendapat penghasilan.

Saya juga bisa berpenghasilan dari aktivitas blogging. Walau memang belum sebesar ketika saya bekerja dulu. Tapi soal urusan bahagia, saya sangat bahagia berkat pencapaian ini. Bagi saya, bisa bekerja dari rumah sambil mengurus keluarga adalah sebuah impian yang susah saya realisasikan sebelumnya. Makanya saya bersyukur sekali ketika rutinitas menulis blog mewujudkan mimpi tersebut.


Menulis membuat saya jauh berkembang.

Dari menulis saja, saya bisa belajar berbagai hal. Mulai dari bidang kepenulisan itu sendiri, parenting, finansial, lingkungan, desain, public speaking, video editing hingga nutrisi dan kuliner. Proses riset memaksa saya membaca banyak sumber tulisan. Kebutuhan sebuah tulisan yang menarik juga menuntut saya untuk belajar desain grafis. Dan spesialnya lagi, saya juga belajar public speaking ketika berkesempatan sharimg bersama teman-teman blogger. Malah kini sudah tertarik pula mengemas tulisan saya dalam video YouTube dan Reels.


Seluas itu pengembangan diri saya. Kalau tidak karena menulis, mana mungkin saya berniat mempelajari itu semua tanpa tujuan jelas. Kesibukan belajar ini membuat saya tak sempat lagi memikirkan kehidupan orang lain, iri-irian, apalagi ngejulit. Mengurangi dosa dan tentunya mental lebih terjaga.


Menulis membuat saya membangun circle relasi baru.

Hobi untuk bergabung dalam banyak komunitas serta mengikuti kelas-kelas blogging dan penulisan buku, membuka pintu relasi yang begitu lebar. Saya memiliki teman di seluruh pelosok negeri. Tidak peduli sudah bertatap muka atau belum, namun sebuah komunitas selalu mampu memberi kehangatan dan merangkul seluruh anggotanya.


Saya bahagia saat berkumpul dengan teman-teman sefrekuensi. Obrolan kita lebih nyambung serta bisa saling belajar dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Pokoknya komunitas ini merupakan rumah kedua bagi saya. Tempat belajar, bersahabat dan merasakan keseruan.


***


Baca juga: 7 Manfaat Menulis Buku Antologi Bagi Penulis Pemula


Menulis yang memberi kebahagiaan ini mengingatkan saya pada komentar kontra yang pernah saya terima saat resign dulu. "Jadi ibu rumah tangga itu pasti stres. Cuma di rumah saja. Bayangkan kalau bekerja, kan bisa ke mana-mana."


Saya tidak menyalahkan, karena memang keterbatasan pasti terjadi setelah memantapkan diri sebagai ibu rumah tangga. Ada anak yang harus diasuh dan lebih banyak di rumah dari pada di luar. Tapi saya membuktikan bahwa yang membuat stres itu bukanlah kondisinya, tempatnya atau kejadiannya. Namun bagaimana cara kita untuk meresponnya dan menghadapinya.


Ingat, kebahagiaan itu harus dicari, bukan menunggunya datang sendiri.


Yuk, share kebahagiaan versi teman-teman di kolom komentar! Bagaimana mendapatkan kebahagiaan tersebut dan sebesar apa manfaat yang diberikannya dalam kehidupan. 


Agar lebih banyak lagi teman-teman kita yang menemukan kebahagiaan dan bisa melakukan berbagai hal positif. 


Semoga bermanfaat.

3 comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)