Jujur saja, saya tertarik membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans adalah karena keviralannya. Sebenarnya saat saya tahu bahwa pengalaman yang ia ceritakan tentang child grooming, ada perasaan maju-mundur untuk membaca. Soalnya saya tipikal yang mudah ke-trigger. Tapi, karena penasaran, akhirnya saya memutuskan membaca juga.
Bukan bacaan yang terlalu panjang, sekitar 200-an halaman. 2 hari saya selesai membaca. Alurnya pun cepat, jadi tak membosankan. Terlebih saya pun tahu sosok penulisnya, sering lihat di TV, seolah apa yang dialami tokoh utama tergambar jelas di kepala. Memang agak ke-trigger, tapi ternyata tidak terlalu. Bagi yang penasaran, silakan baca sendiri, ya. Bagus kok, banyak pelajarannya.
Baca juga: 5 Pelajaran dari Film JUMBO, Bisa Jadi Bahan Diskusi dengan Anak
Nah, karena saya seorang ibu, maka saya banyak melihatnya dari sudut pandang orang tua. Bagaimana child grooming itu bisa terjadi pada Aurelie, menurut saya, sedikit banyaknya ada kaitannya dengan pola asuh dan kehadiran orang tua. Bukannya merasa paling benar atau menyalahkan orang tua Aurelie, karena bagaimanapun, setiap orang tua pasti melakukan yang terbaik untuk anaknya. Saya hanya ingin sharing 5 poin pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman kelam Aurelie yang ia tuangkan dalam buku Broken Strings ini.
Saya harap, ini juga bisa menjadi pelajaran semua orang tua yang memiliki anak dalam rentang usia remaja dan/atau di bawah itu. Karena child grooming nyata adanya, lebih-lebih sekarang. Aurelie hanya satu korban. Ada lagi Manohara dulu. Tak menutup kemungkinan banyak korban lain yang masih memendam traumanya dan belum berani mengungkapkan. Bikin ngeri nauzubillahiminzalik.
1. Waspadai Hubungan dengan Perbedaan Usia yang Jauh
Ketika anak terlalu dekat dengan lawan jenis, baik itu orang baru atau orang yang sudah lama dikenali, sebaiknya perlu diwaspadai. Harus dipahami betul batasannya. Bukannya berburuk sangka, saat ini, predator anak bisa saja orang yang sangat dipercaya kan?
Terlebih ketika orang tua tahu kalau anak remajanya memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis dan rentang usianya terlalu jauh. Tak peduli anak laki-laki atau perempuan, semua sama, mesti dijaga. Kelabilan usia remaja, atau usia anak-anak yang belum bisa berpikir matang, sangat rentan akan manipulasi pada praktik child grooming.
Kita sebagai orang tua mesti melek akan kedekatan yang tak wajar. Kalau sudah menjurus ke hal aneh-aneh, segera nasehati anak dengan cara paling baik, awasi sebaik mungkin, dan bantu agar bisa terlepas dari ikatan orang jahat tersebut. Di sini, pasti ada ilmu parenting yang harus dipelajari lebih lanjut. Maka dari itu, bagaimanapun orang tua mesti selalu memperbarui ilmunya agar dapat mengikuti kebutuhan zaman.
2. Pentingnya Membiasakan Komunikasi Intens dengan Anak
Beberapa kali dalam buku Broken Strings, Aurelie menceritakan bahwa ia tak berani mengutarakan apa yang ia rasa dan alami. Andai lebih awal menceritakan apa yang terjadi pada orang tuanya, pasti tak akan menggurat trauma sedalam itu. Tapi, ini bukan sepenuhnya juga kesalahan anak. Pasti ada alasan kenapa ia tidak mau bercerita.
Kalau dari sudut pandang saya, sebisa mungkin harus membangun kebiasaan berkomunikasi yang baik dengan anak. Tentu saja ini tak bisa dadakan, karena kenyamanan anak bercerita pada orang tua tergantung pada pola asuh jangka panjang. Cara yang bisa saya lakukan, dan alhamdulillah sudah saya usahakan sejak anak-anak masih kecil adalah selalu mengajak ngobrol sebelum tidur, menanyakan apa yang terjadi di sekolah, atau apa saja. Sesekali saya selipkan nasihat bahwa ketika ada masalah, lebih baik bersegera cerita kepada orang tua supaya mendapat bantuan. Pokoknya, sering-sering ajak anak ngobrol, bahkan hal receh sekalipun.
Selain itu, kedekatan emosional juga turut membangun kenyamanan berkomunikasi ini. Quality time dengan anak adalah kunci. Karena setahu saya, waktu berkualitas barang sebentar, itu sudah cukup untuk menguatkan ikatan orang tua dan anak. Misal jalan-jalan keluarga, main bareng, atau aktivitas apa saja sekreatif kita. Mudah-mudahan ini bisa membiasakan anak-anak nyaman menceritakan kehidupannya pada saya atau ayahnya.
3. Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Kesalahan Anak
Ketika anak berani mengutarakan apa yang ia rasa, terutama saat melakukan kesalahan, akan lebih bijak bila tidak langsung menghakimi. Saya belajar dari bagian saat Aurelie berani bercerita soal keadaanya, tapi malah disalahkan oleh orang tuanya. Ujungnya, ia malah kembali ke Bobby yang sudah jelas-jelas menjadi penyebab kekacauan. Ia tahu, tapi tak ada lagi tempat yang bisa dituju selain itu. Dampaknya malah makin panjang.
Saya membayangkan, bila anak saya melakukan kesalahan besar dan berani cerita, merespon dengan hal serupa pasti akan membuat segalanya semakin buruk. Jadi, saya harus bersiap ketika mendengar hal yang tidak baik dari anak, tidak langsung menghakimi, melainkan merangkul terlebih dahulu. Remaja kalau dikerasi, pasti akan dibalas lebih keras. Banyak orang tua yang bilang begitu. Mending masuki dunianya, peluk dia, dan bantu perlahan menyelesaikan masalahnya. Walau pasti ada kecamuk dalam hati kita sebagai orang tua, kondisi anak yang mengalami tetap harus diutamakan.
4. Aturan Tegas Soal Pergaulan
Urusan yang satu ini sangat menantang. Bagaimana caranya agar kita bisa membuat aturan tegas soal pergaulan anak, tapi anak tak merasa keberatan. Sesingkat pemikiran saya sekarang, cara yang paling masuk akal untuk dilakukan adalah dengan menanamkan nasihat-nasihat tentang pergaulan sedini mungkin. Bagaimana bergaul dengan lawan jenis, dengan orang yang lebih tua, hingga melindungi diri ketika bertemu seseorang yang membuat tak nyaman.
Sehingga ketika mereka sudah lebih besar, mereka sudah tahu kenapa kita membuat aturan dan melarang ini-itu. Anak sekarang tidak bisa hanya sekadar dilarang, tapi mesti jelas alasannya. Momen-momen ngobrol dan quality time itulah yang dimanfaatkan untuk menanamkan nasihat. Entah kenapa, saya selalu percaya bahwa semakin dini kita menanamkan sesuatu pada anak, akan semakin kuat pula akarnya tertanam dalam diri mereka.
Satu lagi, jangan pernah lagi menganggap tabu membahas soal seks dengan anak. Tentunya dengan bahasa yang sesuai umur. Misal kalau masih usia anak-anak, bisa dengan memberi tahu bagian mana yang harus ditutupi, bagian vital mereka. Nanti setelah baligh, bisa ditingkatkan lagi literasi yang diberikan. Intinya sampaikan dengan sebaik mungkin. Banyak kok konten-konten atau artikel yang bisa dijadikan referensi tentang ini.
5. Sebelum Dewasa, Enggak Boleh Pacaran!
Terserah mau dibilang kuno atau tidak gaul, saya sudah yakin bahwa tidak ada pacaran sebelum anak-anak dewasa. Dewasa pun kalau bisa pas sudah kerja saja, ketika ada niat untuk menikah. Itu harapan saya. Tapi, kalau tetap ingin menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis, minimal harus dewasa dulu. Masih remaja? NO! Ini saya kaitkan juga dengan upaya di poin keempat tadi.
Soalnya, saya heran ketika membaca saat Bobby bisa masuk ke kamar Aurelie. Kok bisa? Kalau anak saya bertemu dengan teman lawan jenisnya di rumah, tak akan saya biarkan berdua saja. Pasti saya awasi dalam jangkauan pandangan saja, meskipun mereka sudah dewasa nanti. Lebih aman, karena anak adalah tanggung jawab saya dunia akhirat. Bismillah semoga bisa merealisasikannya nanti.
Baca juga: Cara Menghadapi Perundungan Di Sekolah, Anak dan Orang Tua Wajib Tahu!
Sekali lagi, ini hanya sudut pandang saya, ya. Tidak apa bila ada yang tidak setuju, itu wajar karena kita punya pandangan masing-masing. Bukan berarti pula saya merasa paling benar, toh anak saya juga masih kecil-kecil. Tapi, membaca kisah Aurelie Moeremans, mengajarkan saya apa yang bisa dilakukan agar anak-anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik. Saya pun juga masih harus banyak belajar tentang parenting.
Melalui tulisan ini, saya ungkapkan simpati dan empati yang sebesar-besarnya kepada Aurelie. Membaca Broken Strings saja perasaan saya tak enak, apalagi Aurelie yang mengalaminya sendiri di usia remaja. Sekarang, berbahagaialah, Aurelie! Terima kasih sudah berani menulis. Manfaatnya bukan hanya dirasakan bagi mere'ka yang mengalami kejadian serupa, tapi juga orang tua seperti saya yang masih butuh banyak belajar.
Semoga bermanfaat.







Sangat bermanfaat sekali mba, semoga semakin banyak orangtua membaca artikel ini.
ReplyDeleteJujurly, aku nggak punya keberanian buat baca buku Broken Strings. Khawatir ke trigger dan malah kebayang hal-hal yang keji dan nyakitinnya.
Mbak hebat, mampu beresin buku tersebut di dua hari. Lalu kasih pandangan dan masukan buat para ortu untuk lebih akrab, dekat dan tegas terhadap anak remaja yang memang dipenuhi rasa penasaran, rapuh, dkk. Sangat membuka paradigma.
Makasih, Mbaaaak. Tapi menurutku pembahasannya cukup aman sih, nggak yang berlebihan gitu. Makanya aku nggak terlalu ketriger. Malah lebih ke gemes pengen bantuin Aurelie hehe
DeleteCoba deh Mbak baca :)