Kenyamanan Bertumbuh di Komunitas Bloggercrony Indonesia

No comments
Kamu hanya akan dihargai di lingkungan yang tepat. Familiar dengan pernyataan ini? Saya benar-benar mengalami bahwa tidak di semua circle, skill dan keberadaan kita selalu diterima baik. Inilah yang saya pelajari sejak menjadi bloger, bahwa fokus mencari circle yang sefrekuensi, jauh lebih bermanfaat untuk menumbuhkan diri dengan lebih terarah.

Kenyamanan Bertumbuh di Bloggercrony Community Indonesia

Perjalanan ngeblog saya mungkin masih belum sepanjang teman-teman senior yang lain. Namun, ini menjadi aktivitas konsisten terpanjang yang pernah saya lakukan, dan atas pilihan sendiri. Serta menjadi salah satu hal yang paling saya syukuri karena banyak sekali memberi perubahan berarti. 

Prosesnya jelas tidak mudah bagi saya yang memulai dari nol. Ada saja tantangannya, kadang membuat saya malas, jenuh, stres sendiri, nangis, hingga muncul perasaan ingin berhenti. Namun, karena saya sudah jatuh cinta dengan aktivitas blogging, akhirnya kembali lagi membuka laptop dan menulis. Lucu memang kalau diingat-ingat, suami sampai bosan menyaksikan lingkaran yang tak ada habisnya ini. 


Sumber besar yang mengalirkan semangat, ya lingkungan yang tepat. Seperti kenyamanan bertumbuh yang saya rasakan di Komunitas Bloggercrony Indonesia atau sering juga disebut Bloggercrony Community. Kalau tidak salah ingat, tahun ini merupakan tahun kelima saya bergabung sebagai anggotanya. Banyak sekali pengalaman, ilmu, dan relasi positif yang saya dapatkan. Semuanya sangat membantu dan saya harap akan selalu begitu.

O iya, kebetulan tanggal 24 Februari 2026 kemarin, Bloggercrony Community tepat berusia 11 tahun. Yey! Sekalian saya ucapkan di sini, ya. Happy anniversary! Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi hadiah kecil di momen Bloggercrony Community 11 tahun. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah menjadi wadah bertumbuh yang nyaman bagi saya bloger "rumahan" ini.

Sepertinya akan lebih seru kalau saya ceritakan runut mulai dari awal saya ngeblog, bergabung di Bloggercrony Community, hingga menjadi diri saya yang sekarang. Dan saya sangat bangga untuk itu! 

Anak Bawang yang Baru Mulai Ngeblog

Anak Bawang yang Baru Mulai Ngeblog

Tidak ada alasan besar, saya mulai menulis blog hanya demi menjaga kewarasan. Serius, saat itu mental saya memang sedang tidak baik-baik saja. Saya butuh penyeimbang antara kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga dan aktivitas produktif yang tidak mengubur identitas. "Kamu ngeblog aja gimana?" celetuk suami. Langsung saya iyakan. Sudah, sesimpel itu garis start-nya.

Saya mulai prosesnya dari nol. Tidak banyak tahu soal blog, hanya dulu pernah mempelajari sekilas saat masih kuliah. Suami yang ambil alih urusan teknis, mulai dari membuat blognya, mengatur temanya, hingga membeli domainnya. Saya terima beres, tugas saya hanya sebatas mengisi. Kabar baiknya, blog novarty.com ini, terus berkembang meski butuh waktu yang cukup panjang. 

Ya, mengerjakan sesuatu tanpa ekspektasi apa-apa memang menyenangkan. Saya enjoy menulis apa yang saya alami di rumah dan apa yang saya rasakan. Saat itu, hasil tarian jemari di keyboard ini masih ala kadarnya. Singkat sekali, karena kemampuan menulis saya juga ala kadarnya. Ajaibnya, entah bagaimana bisa, pembaca satu per satu berdatangan seiring bertambahnya artikel baru. Bahkan ada yang mengungkapkan terima kasih, baik di kolom komentar blog, maupun DM dan chat by WhatsApp bila kebetulan kami saling kenal. Tulisan yang saya anggap sepele, terlalu biasa, hanya cerita keseharian ibu rumah tangga, bisa lo membantu masalah orang lain.

Berkat blog, untuk pertama kalinya setelah resign, saya bisa hadir bagi orang lain. Meski secara fisik tidak bertemu dengan pembaca. Inilah pemantik tekad saya untuk fokus sebagai bloger.

Saya ingin bermanfaat, saya ingin kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di rumah ini, kehidupan yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang ini, bisa membantu masalah seseorang di luar sana. 

Saya mulai sadar, bergantung sepenuhnya pada suami untuk mengurusi blog, bukanlah pilihan bijak. Saya blogernya, justru saya yang harus mengelolanya. Mulailah saya pelajari apa yang tersembunyi di balik blog kecil ini. Ternyata, yang saya tahu hanya secuil! Yang tersembunyi, jauh lebih banyak. Semacam gunung es. Daftar ilmu yang harus saya pelajari sangat panjang. Mulai dari keyword, DA/PA, trafik, berbagai tools, melengkapinya dengan visual menarik, hingga membuat konten media sosial dan pentingnya membangun personal branding.

Jujur, saat itu saya pusing. Saking banyaknya yang harus saya pelajari dan lakukan. Menulis blog yang mulanya terasa begitu menyenangkan, berubah menjadi beban baru. Sesulit inikah menjadi bloger? 

Tapi, bagaimanapun kendali tetap berada di tangan saya. Menyadari sampai di mana kapasitas diri, perlahan mengarahkan langkah untuk kembali menemukan rasa menyenangkan itu. Saya memang perlu mempelajari cara terbaik untuk mengelola blog, termasuk SEO yang sulit itu. Namun, saya bisa membatasinya sesuai kemampuan. Inilah cara ngeblog ala saya, yang akhirnya bisa menikmati lagi proses menulis yang dulu saya rasakan.

Makanya, saya selalu menanamkan "kenyamanan" setiap kali bertemu siapa saja yang baru memulai langkahnya sebagai bloger. Agar jangan sampai menganggap blogging sebagai beban, melainkan sebuah wadah yang memberikan banyak manfaat. Saya percaya bahwa setiap bloger punya rutenya masing-masing, tidak terkecuali bloger senior, maupun pemula. Ada yang menikmati proses menulisnya seperti saya, ada yang suka mengutak-atik SEO, ada yang fokus di AdSense, bahkan ada juga yang mencintai relasi blogernya. 

Meskipun berbeda, meski lintas generasi dengan budaya atau kalcer blogging yang mungkin saja tak lagi sama, semuanya tetap bloger kan? 

Menemukan Kenyamanan Bertumbuh di Komunitas Bloggercrony Indonesia

Menemukan Kenyamanan Bertumbuh di Bloggercrony Community

Tahu apa yang membuat saya bergabung dengan Bloggercrony? Hashtag di media sosial. Waktu itu saya memutuskan kembali menggunakan Twitter setelah sekian tahun dibiarkan terbengkalai. Niatnya untuk membagikan tautan blog. Nah, lewatlah hashtag #BCCSquad di beberapa utas yang kebetulan muncul. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. #BCCSquad itu apa? Penasaran, saya cari informasinya. Oh, ternyata ini komunitas bloger! BCC Squad adalah sebutan bagi anggota Bloggercrony Community. Langsung saya ajukan diri untuk bergabung.

Sebagai member baru, saya membayangkan akan butuh waktu lama untuk berbaur. Apalagi saya bukan tipe bloger yang sering bertemu tatap muka dengan bloger lainnya. Saya tak banyak kenalan, lebih sering berjalan sendiri. Mengejutkannya, saya merasa diterima begitu baik di sini. Bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai kawan meskipun belum saling kenal. Baik oleh pengurusnya, maupun oleh sesama anggota. 

Kesan pertama yang membuat saya nyaman hingga sekarang. Lebay? Tidak. Perasaaan ini dibuktikan dengan banyak jejak cerita bersama Komunitas Bloggercrony Indonesia. Saya tuliskan dari tahun ke tahun, ya. Mana tahu ada bloger pemula, semoga bisa menjadi referensi atau bayangan bahwa sebuah komunitas sangat bisa menjadi rumah bertumbuh yang hangat. 

🌸 BloggerDay 2022, Mengenal BCC

BloggerDay 2022, Mengenal BCC

Setelah bergabung, di sinilah mula mengenal wajah-wajah pengurus Bloggercrony Community. O iya, supaya tidak kepanjangan, saya singkat jadi BCC saja, ya. Meski acaranya berlangsung online, dengan 100 peserta yang hadir dari seluruh Indonesia, saya sudah merasakan atmosfer yang baik. Rame aja bawaannya, karena pengurus dan pembawa acaranya berbeda generasi. Seriusnya ada, bercandanya juga ada. Makanya, saya langsung klik dan betah mengikuti acara dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore.

Sesuai tema, yaitu #ScaleUpYourSkill, kami semua diajak untuk mengasah skill dan menemukan peluang sesuai jati diri sebagai bloger. Apapun tujuan yang ingin dicapai, hendaklah mementingkan kebermanfaatan dan teruslah konsisten. Di sanalah peluang akan muncul. Seperti pesan Kak Fawwaz (pengurus BCC): Baik monetisasi atau organik, mari kenali potensi diri dan kembangkan, mari kenali potensi lingkungan dan dokumentasikan. Satukan demi kebaikan dan perbaikan bersama.

🌸 Menanam Mangrove di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

Menanam Mangrove di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

Ini kegiatan offline pertama saya di BCC. Antusias sekali rasanya, sekalian ambil nafas sejenak dari tugas rumah tangga. Tidak menyangka akan terpilih, karena saya masih anggota baru. Eh, namanya rezeki, saya jadi bisa mendapatkan pengalaman naik kapal, menanam mangrove, dan menikmati keindahan Pulau Tidung bersama BCC Squad lain, yaitu Mbak Erin, Efa, Alin, dan Ulfah. 

Ditemani full oleh kakak-kakak dari Yayasan Mangrove Indonesia Lestari yang super ramah. Kami dibekali ilmu tentang mangrove yang sebelumnya belum saya tahu. Bahkan saya tak bisa menjawab ketika ditanya apa bedanya mangrove dengan bakau. Memang secupu itu pengetahuan saya. Berkat BCC, saya jadi paham dan setidaknya tidak lagi buta tentang urgensi mangrove dalam menjaga ekosistem. Bisa dikatakan, ini adalah salah satu pengalaman yang paling menyenangkan bagi saya.

🌸 Belajar Public Speaking di Markas BCC

Belajar Public Speaking di Markas BCC

Lagi-lagi yang pertama, ini cerita kunjungan saya ke markas BCC Cipete. Beruntung lagi, saya menjadi salah satu peserta terpilih di private class belajar public speaking bersama Anwari Natari, yang akrab disapa Mas Away. Di sini, saya bertemu langsung para pengurus BCC, yang sebelumnya hanya saya lihat dari layar. Semuanya ramah, tidak membuat canggung. Membuat saya makin suka dengan atmosfer Bloggercrony. Bisa segera akrab!

Pas sekali waktu itu saya baru fokus membangun channel YouTube. Berbicara di depan kamera sendiri, meski tidak ada yang melihat, bukanlah hal mudah dan sempat meruntuhkan kepercayaan diri. Bayangkan saja, untuk menghasilkan video 5 menit, saya bisa mengerjakannya berhari-hari. Itu pun hasilnya tidak "wah" seperti video orang-orang.

Mas Away membekali kami mengenai public speaking, mulai dari persiapan, latihan, hingga praktiknya. Kata Mas Away, "Bila punya niat baik dan memberi manfaat, kenapa tidak percaya diri?" Tapi, harus diimbangi juga dengan persiapan dan latihan. Karena orang yang berhak percaya diri adalah orang yang melakukan persiapan sebaik mungkin. Serta butuh latihan agar dapat menjadi sebuah keterampilan, dan butuh latihan lebih ekstra lagi agar menjadi reflek.

🌸 Pengalaman Camping Pertama

Pengalaman Camping Pertama

Di BloggerDay 2023, saya kembali mendapatkan pengalaman asyik selanjutnya. Camping! Belum pernah sebelumnya saya bermalam di tenda. Tidak mungkin kan saya melewati kesempatan ini? Lebih ke camping edukasi sih, karena saya tetap mendapatkan ilmu di sini. 

Acara berlangsung di Puncak Halimun Camp. Saya masih ingat, saat itu lagi hangat-hangatnya pembahasan AI. Bagaimana bloger menghadapi fenomena AI? Jawabannya tetap skill set up yang menjadikan kita mampu beradaptasi dengan baik. Skill set itulah yang menjadi pelengkap keunikan blogger, supaya tetap tangguh meski digempur kepesatan industri digital. Tidak cukup menjadi jago saja, namun harus konsisten mengembangkannya, dengan mempertahankan attitude agar tetap dinilai profesional dan kredibel. Lebih tepatnya, memegang teguh Kredibilitas, Profesionalitas, Etika, serta Knowledge, Skill dan Attitude (KSA).
Dua hari satu malam bersama teman-teman bloger, yang sebagian besarnya baru saya kenal, kembali mengukir cerita. Terutama di malam hari yang dingin karena kebetulan hujan, kami diajak berkumpul dan saling sharing. Semakin dekat dan akrab. Paginya pun masih diisi agenda kebersamaan. Rasanya semalam masih kurang! 

🌸 Jaket Cokelat Muda BCC

Jaket Cokelat Muda BCC

Di BloggerDay 2024, saya memakai jaket cokelat muda yang tidak dimiliki semua anggota BCC. Bangga, jelas! Saya beruntung (lagi dan lagi) karena mendapatkannya. Spesialnya, kali ini saya datang bukan sebagai peserta, melainkan menjadi bagian dari panitia yang ikut menyambut. Walau hanya panitia peramai saja, dengan sedikit peran, saya happy. Ternyata begini ya rasanya berada di sisi penyelenggara acara. Sampai Mbak Wawa nanya sambil ketawa, "Gimana rasanya jadi panitia?" Capek! Apalagi pengurus lain yang pasti lebih banyak lagi mengurus ini-itu.

🌸 Mengisi #BloggerHangout85 

Mengisi #BloggerHangout85

Dipercaya mengisi kegiatan rutin BCC, yaitu BloggerHangout, memberi kesan tersendiri. Karena perjuangan emak-emak yang hobi ngeblog dari rumah ini, diapresiasi. Tema yang saya bawaakan tentang Upgrade Skill untuk Buka Peluang Baru. Sesuai pengalaman saja, jadi saya hanya mengutarakan apa yang saya lakukan, rasakan, dan saya tahu di sepanjang perjalanan menjadi bloger. Kegiatan ini berlangsung hybrid, yaitu offline di Carro Square Pondok Indah, dan juga diikuti secara daring. 

Sebenarnya, apa yang saya share tak jauh dari apa yang ditanamkan oleh Bloggercrony dari lama, yaitu membuka peluang dengan meningkatkan kemampuan. Blogger sebenarnya memiliki aset skill yang sangat menguntungkan di dunia digital, dan semuanya potensial untuk dikembangkan. Diberi ruang untuk membagikan sedikit pengalaman, semakin meyakinkan saya bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia, tidak peduli ibu rumah tangga sekalipun. 

🌸 Meneguhkan AKAR di #LastAnnualBloggerDay

Meneguhkan AKAR di #LastAnnualBloggerDay

Tahun lalu, saya bersyukur bisa hadir kembali di acara tahunan Bloggercrony secara offline di Parung, Bogor. Ini menjadi yang terakhir sebagai "annual", karena setelahnya BloggerDay akan diselenggarakan 3 tahun sekali sesuai periode kepengurusan. Makanya, yang terakhir ini juga tak kalah membekas.

AKAR, singkatan dari Aktif, Kreatif, Adaptif, Relevan, menjadi tema yang mengajak untuk mengukuhkan kembali identitas sebagai bloger. Meskipun dunia terus berubah dan digitalisasi begitu pesat pergerakannya, peran bloger melalui konten-konten yang bermanfaat dan sudut pandang yang unik, pasti mampu mempertahankan relevasinya. Kuncinya, ya kembali ke AKAR. Sejauh mana kita menerapkannya untuk mempertahankan relevansi tersebut.

Saya masih ingat soal limiting belief yang dibahas oleh Harry Wahyudi S.Kom, C.NLP, Pembina Youth Skill Foundation waktu itu. Terkadang kitalah yang sering membatasi kemampuan diri, merasa tak bisa, padahal belum mencoba. Sudah takut dulu dengan perubahan dunia digital, padahal belum tentu tak mampu bertahan. Kenapa tidak melihat dari sisi positifnya, misal peluangnya yang semakin beragam? Jadi, mengukuhkan identitas sebagai bloger tetap harus dimulai dari mengenali dan mengontrol diri. Barulah setelah itu bisa menerapkan AKAR. Itu poin penting yang saya tangkap.


Seru, kan? BCC memang komunitas bloger, namun yang diajarkan bukan melulu tentang blogging. Bidang apa yang berkaitan, yang dirasa perlu dimiliki oleh bloger, ilmunya terus diberikan. Bahkan di bidang yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan akan berkaitan. Kolaborasi juga terus digaungkan sebagai salah satu kunci kesuksesan untuk melangkah lebih panjang. Sehingga bloger dapat beradaptasi dengan baik dan menangkap peluang di setiap pergerakan momen.

Selain itu, yang tak pernah putus adalah diskusi kaya ilmu di WhatsApp group BCC, event atau job yang lumayan menambah tabungan, serta kebersamaan yang seolah mengatakan, "Kamu nggak sendiri lo. Banyak banget bloger di sini yang siap bantuin kamu kalau ada masalah."

Kenyamanan yang saya rasakan bukan omong kosong atau berlebihan kan? Seseru itu menjadi #BCCSquad. Untung saja dulu hashtag-nya berlalu lalang di media sosial, yang mengarahkan saya untuk bergabung.

Menjadi Diri yang Beradaptasi

Menjadi Diri yang Beradaptasi

Perlahan tapi pasti, setiap tema yang diangkat dalam BloggerDay dari tahun ke tahun, juga saya terapkan dalam perjalanan ngeblog. Pola pikir saya berubah, yang mulanya menganggap aktivitas blogging sebagai kebutuhan pribadi, kini ingin meluaskannya agar lebih banyak orang dapat bertumbuh bersama di sini. Karena saya merasakan betul bahwa blog sangat bisa dijadikan wadah belajar, menyeimbangkan mental, dan mengembangkan diri.

Saya dulu hanyalah seorang ibu yang memilih resign dan menjadi ibu rumah tangga. Dianggap bodoh dan tak jarang diremehkan karena keputusan itu. Namun, blog membuat saya mampu membuktikan bahwa ibu rumah tangga tak layak dipandang sebelah mata.

Saya dulu tak banyak tahu, tak banyak membaca, dan tak terlalu peduli dengan perkembangan. Namun, blog memaksa saya untuk terus mencari tahu banyak hal, membaca apa pun, dan harus up to date agar tak tertinggal.

Saya dulu tak pernah tahu bahwa saya bisa menulis. Bahkan orang-orang di sekitar saya juga tak ada yang tahu. Namun, blog membuat saya mampu menerbitkan dua buku solo, belasan antologi bersama, dan tujuh e-book.

Saya dulu malu dengan status saya, bingung memperkenalkan diri sebagai apa, tak tahu harus menjawab dengan bagaimana ketika ditanya pekerjaan, kini saya bangga mengatakan bahwa saya seorang BLOGER.

Tak jarang yang menanyakan apakah bloger masih eksis, apakah bloger masih dapat job, apakah bloger masih bertahan di tengah gempuran konten visual? Saya selalu menjawab dengan yakin, "Ya!" Tapi dengan satu syarat, harus menjadi bloger yang mau beradaptasi. Bagi saya, meninggalkan sesuatu yang dianggap sudah sepi peluang, bukan berarti tak ada peluang dan tak bisa dikembangkan. Bisa jadi diri kitalah yang butuh di-upgrade agar dapat menyesuaikan posisi skill dengan kebutuhan zaman. 

Bloger menjadi kreator konten, justru bagus agar bisa menguatkan branding-nya.
Bloger menulis buku, tak masalah karena skill menulis yang ia miliki sudah mumpuni.
Bloger fokus di microstock karena senang foto-foto, pintar menangkap peluang.
Bloger membuka kelas, menjual e-book, atau produk digital lain, ini perluasan kesempatan yang jelas relate dengan kebutuhan masyarakat digital sekarang.

Itulah bentuk adaptasi dalam pandangan saya. Bagaimana memanfaatkan skill yang didapat selama menjadi bloger untuk membuka lebih banyak peluang. Saya percaya, peluang tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dikejar dan diupayakan.

Satu lagi, mungkin pula cara ngeblog sekarang tak lagi sama dengan 10 tahun lalu. Terkadang jalur/cara ngeblog bloger muda dengan bloger yang sudah lebih dulu terjun (menolak dibilang tua, hehe) sudah berbeda. Itu wajar, mengingat banyaknya perubahan. Yang diperlukan adalah mengoneksikannya di satu titik agar bisa sama-sama belajar untuk menguatkan proses adaptasi. Kolaborasi dan relasi, hanya dengan itu kita bisa membuka diri atas segala perubahan. Sejalan dengan apa yang dilakukan Bloggercrony Community sampai saat ini.

Sekali lagi, happy anniversary yang ke-11, Bloggercrony Community!
Terima kasih sudah menjadi rumah nyaman untuk saya bertumbuh selama 5 tahun ini dan semoga tahun-tahun selanjutnya.

Selagi ada komunitas yang tak putus mewadahi, mengalirkan semangat, menghujani dengan ilmu-ilmu yang terus berkembang, dan mendorong menangkap peluang baru yang terus bermunculan, bloger akan tetap memiliki pegangan untuk terus hadir sebagai bagian dari ekosistem digital.

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)