Rabu minggu lalu, anak pertama saya yang kelas 3 SD kebagian jadwal market day di sekolahnya. Ini jadi pengalaman pertama bagi saya untuk mendampingi. Ternyata yang disiapkan bukan hanya menu apa yang akan dijual, melainkan banyak hal lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Jujur, saya tidak menyangka persiapannya lumayan banyak.
Tapi, sebelum membahas apa saja yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan market day, saya mau sharing sedikit dulu tentang manfaat yang dirasakan anak-anak. Program ini bukan sekadar jualan untuk seru-seruan, melainkan mengasah banyak skill yang belum tentu didapatkan anak dari proses belajar mengajar di kelas.
Manfaat Market Day di Sekolah
Ini murni dari apa yang saya lihat kemarin. Mulai dari proses persiapan, hingga market day selesai. Anak-anak merasakan beberapa manfaat dan pelajaran berikut.
🌸 Kreativitas dan Bekerja Sama
Pelaksanaan market day di sekolah anak saya dimulai dari pembentukan kelompok. Satu kelas, dibagi menjadi 4 kelompok. Di sini jelas sangat dibutuhkan kerja sama yang baik agar proses pelaksanaannya berjalan lancar. Anak-anak diminta untuk berdiskusi secara mandiri terkait menu apa yang akan dijual, harganya, dan hal yang diperlukan lainnya.
Lucu sekali melihat hasil diskusi yang dibawa pulang. Mereka sudah membuat list menu jualan masing-masing, beserta harga. Kreatif! Sudah bisa membayangkan kondisi kalau nanti pas panas akan banyak yang butuh minuman segar, makanan mengenyangkan, dan penyeimbang camilan yang lebih ringan. Sampai tema stand pun sudah dibicarakan akan berwarna biru. Jadi, orang tua tinggal eksekusi saja.
🌸 Berwirausaha
Anak-anak jadi paham kalau mau jualan itu harus menghitung modal, harga jual, dan untung. Bagaimana mendapatkan untung yang banyak, dengan menentukan harga jual yang masuk akal. Selain itu mereka juga belajar untuk menentukan posisi. Awalnya yang menerima uang adalah semua anak sesuai jualan masing-masing. Ternyata itu menyusahkan. Akhirnya ditunjuklah satu kasir. Keren kan? Pokoknya anak-anak paham bahwa berjualan pun butuh sistem yang jelas, problem solving, dan manajemen keuangan.
🌸 Marketing
Anak-anak berpikir bagaimana dagangannya laku. Masih menjadi hal menarik bagi saya, saat melihat mereka berteriak mempromosikan minuman segar, puding, dan makanan lain dengan menyampaikan keunggulannya. Kemudian berkeliling menawarkan langsung jualan ke teman-temannya dengan baki. Bahkan juga memberi bundling beli 2 harganya jadi 5 ribu! Saya kagum, mereka sudah paham apa itu promosi dan marketing.
Baca juga: Bukan Hanya Uang Pangkal! Ini Realita Pengeluaran Orang Tua untuk Sekolah Anak
Selain itu, manfaat yang tak kalah penting lainnya adalah melatih kepercayaan diri, berkomunikasi, dan tanggung jawab. Kemudian ketika melihat dagangan mereka ada yang tidak habis, ada proses menerima kegagalan dan legowo juga di sana. Intinya, bagi saya pribadi, market day memang sebaiknya tetap menjadi program rutin di sekolah.
Ini yang Harus Disiapkan saat Anak Market Day di Sekolah
✅ Bikin Grup WhatsApp
Bukan anaknya ya, tapi orang tuanya. Ini yang paling pertama wajib dilakukan. Komunikasi orang tua harus intens agar persiapan matang dan market day berjalan baik. Saat kelompok dibagi, guru mengumumkan di grup kelas, lalu orang tua berinisiatif membuat grup WhatsApp. Duh, tanpa grup ini rasanya pasti akan sangat sulit.
✅ Menu yang Dijual
Anak-anak memang sudah berdiskusi di kelas mau menjual apa. Tapi, yang menentukan keputusan akhirnya tetap orang tua. Terkadang ide anak-anak belum tentu bisa direalisasikan. Bisa saja menunya tidak sehat, susah sekali dibuat, atau modalnya terlalu mahal. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing, ya. Pastikan juga menu ini sesuai dengan selera target pasarnya, misal anak SD. Pasti mau yang manis, yang segar, berwarna-warni, dan dapat dikemas menarik dalam ukuran kecil.
✅ Kemasan
Ternyata ini tak kalah penting! Ukuran kemasan menentukan seberapa isinya, berapa banyak juga nanti jumlah kemasan yang didapatkan. Kemudian harga packaging ternyata juga tidak semua murah. Kemarin saja saya membeli pouch ukuran 500 ml untuk lemon tea, satunya Rp1.400. Karena inginnya yang menarik dengan gambar-gambar biar laris manis. Alhasil, modal jadi melonjak. Yang jelas, kemasan ini harus dipertimbangkan dari segi ukuran, desain, harga, dan selera target pembelinya.
✅ Harga Jual
Kebetulan di sekolah anak saya diberi modal 75 ribu per anak. Jadi setidaknya modal untuk menu siap jual jangan terlalu jauh dari itu agar bisa mendapat untung. Harus sudah dipastikan berapa bungkus atau kemasan yang bisa didapatkan dari modal yang ada. Meski modalnya nanti ditambah dari uang sendiri, setidaknya harga jual jangan bikin rugi. Bukannya pelit atau hitung-hitungan, tapi kan anak lagi belajar jualan. Kalau dari awal sudah tahu pasti rugi, tujuan market day tidak tercapai dong?
✅ Peralatan Jual
Apakah nanti butuh wadah untuk jualan, butuh termos dan es batu untuk menu dingin, dan peralatan lainnya? Sebisa mungkin peralatan ini jangan terlalu banyak dan tidak menyusahkan. Seperlunya saja, karena menu yang dijual sudah dikemas siap jual. Misal kemarin saya menjual lemon tea, lalu tidak membawa wadah untuk meletakkannya di meja. Untung ada salah satu wali murid sekelompok membawa wadah stainless banyak. Bisa menjadi penyelamat.
✅ Dekorasi
✅ Pembagian Peran
Kemarin saya dan ibu-ibu lain sempat membahas pembagian peran anak-anak saat jualan, tapi tak terlalu detail. Pas market day berlangsung, sempat riuh karena masing-masing anak menerima uang dari menu jualannya masing-masing. Solusinya, hanya ada satu kasir yang menerima uang untuk semua menu jualan. Berhubung orang tua boleh mendampingi, jadi kasir sebaiknya didampingi. Nanti ada juga yang bertugas untuk promosi atau pembagian tugas lainnya bila perlu.
✅ Strategi Jualan
Jujur, sebelum hari-H market day, saya agak khawatir lemon tea yang akan dijual anak saya tidak laku. Soalnya kalau berlebih, harus dibawa pulang lagi dan kita otomatis harus menghabiskan kalau tidak mau mubazir. Untung kalau jualannya bisa awet lama, kalau besoknya basi, kan di hari itu harus dimakan atau diminum. Karena inilah saya memikirkan strategi supaya jualan habis.
Meski langsung ludes di awal, saya sudah memesankan kalau setengah jam sebelum waktu market day berakhir lemon tea belum habis, beri pormosi beli 1 gratis 1. Kemarin pas di akhir-akhir, anak-anak juga berkeliling menjajakan menu yang masih tersisa dengan memberi harga 5 ribu untuk 2 item. Ini jitu juga. Jadi, strategi jualan sederhana perlu dijalankan agar anak-anak belajar menyelesaikan masalah dan berbisnis.
Baca juga: Tips Memilih Ekstrakurikuler yang Tepat untuk Anak
Terakhir yang paling penting dari semuanya adalah jangan lupa mendiskusikan dengan anak perihal menu, harga, kemasan, strategi, dan lainnya agar anak merasa pendapatnya didengar. Bagaimanapun ini acara sekolahnya. Bisa dibilang merekalah pemeran utamanya. Kalau malah emaknya yang memutuskan tanpa diskusi, jadinya ya emaknya yang belajar jualan, hehe.
Semoga bermanfaat.









kemarin anakku juga ngadain market day mba... jujurnya aku ga ada masalah sih ama acara ini, kecuali grub orangtua muridnya yg suka bikin emosi... bukan2 kenapa2, aku masalahnya juga ada kerjaan, yg tidak memungkinkan untuk join kegiatan begini. malah dibilang ga support anak hahahahaha. pengen dipites kan yg ada..
ReplyDeletepadahal dah jelas2 aku bilang, aku ga bisa bantu masalah dekorasi, atau apalah printilannya, tapi semua biaya aku yg bayar. itu ga masalah.. akhirnya setelah ribut, memang aku fully jd donatur aja, supaya ibu2 itu ga usah bayar sepeserpun.
dan lagi, krn ini kegiatan anak, seharusnya memang anak2 yg lebih banyak berperan, termasuk buat laporan. yg aku ga suka, kenapa malah emaknya yg buat laporan, anak seusia ini hrsnya udah bisalah bikin laporan di canva. itu aja yg kdg sebel ama kegiatan sekolah mereka ini...
padahal market day memang baguuus untuk melatih jiwa marketing anak2 sedari dini. dengan begini mereka jadi tahu cara2 berjualan, hitung untung rugi, hitung modal etc kan .
Aku paham banget, Mbak. Karena kemarin banyak juga yang orang tuanya nggak bisa bantu dekorasi karena harus kerja.
DeleteKalau aku lebih ke persiapan sekolahnya, Mbak. Misal mau membuat sebuah program, sebaiknya jangan terlalu melibatkan orang tua. Ada batasannya orang tua boleh membantu sampai mana. Jadi memang persentasenya lebih banyak dilakukan anak.
Dan dari aku pribadi, andai orang tuanya kerja, ya udah sih mending dibantu aja. Wong stand-nya sama kan, nggak satu anak satu stand. Biar nggak ribet, hati tenang hehe