Saya kira, semakin banyak belajar, mengikuti kelas-kelas kepenulisan, bergabung dengan berbagai komunitas, akan membuat saya jago menulis. Ternyata itu keliru. Saya justru semakin merasa kecil. Sadar bahwa lebih banyak hal yang tidak saya tahu, dari pada apa yang sudah saya tahu. Lucunya, saya malah berharap untuk selalu merasa begitu.
Saya belum pandai menulis. Ya, apa yang saya pelajari bertahun-tahun belakangan ini, hal yang saya latih dengan konsisten meski kelimpungan mengatur waktu di tengah tugas rumah yang saling berkejaran, nyatanya hanya secuil dari dunia kepenulisan yang mungkin tak ada ujungnya. Ini bidang kreatif. Banyak sekali jenis tulisan yang kian berkembang, teknik menulis yang kian beragam, serta karya tulis yang kian banyak memenuhi dunia literasi. Sedangkan saya, masih sebatas penulis blog dan sesekali menulis antologi bersama.
Namun, di sisi sebaliknya, meski belum pandai menulis, bila dibandingkan dengan diri saya yang dulu, yang memulai perjalanan menulisnya dari nol, bahkan menulis satu paragraf saja bisa seharian, tentu saja kini sudah jauh lebih baik. Acuan mudahnya, bila menyandingkan artikel ini dengan artikel yang saya tulis 9 tahun lalu, jelas tampak sekali bedanya. Dan semua ini tak lepas dari curahan ilmu, pengalaman, dan kesempatan selama bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN).
IIDN: Komunitas Ramah Ibu-Ibu
Namun, lagi-lagi saya keliru. Suka, passion, atau entah apa istilah lainnya untuk aktivitas yang kita senangi, tak menjamin bahwa kita akan baik-baik saja di sepanjang prosesnya. Karena saya memulai langkah pertama dari serba ketidaktahuan, jadinya saya sering burnout, insecure, overthinking, bahkan menangis dan ingin menyerah ketika prosesnya terasa sulit.
Ternyata berjalan sendirian memang tidak enak. Ini juga sering saya share di konten-konten media sosial, betapa pentingnya bagi ibu-ibu yang ingin produktif dari rumah untuk menemukan support system yang tepat. Dan support system ini tidak akan datang sendiri, melainkan harus diperjuangkan. Support system yang berani saya katakan WAJIB adalah bergabung dengan komunitas yang relevan, yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kita. Ini sangat membantu agar kita tidak mudah patah semangat.
Untungnya, sejak pertama menjadi anggota IIDN, saya sudah merasakan bahwa komunitas ini cocok untuk emak-emak yang jarang keluar rumah seperti saya.
Bukannya anti sosial, tapi memang kondisi membuat saya tidak bisa sebebas itu ke mana-mana. Mungkin ini juga relate dengan banyak sekali ibu di luar sana. Nah, enaknya IIDN mengadakan kelas daring yang bisa diikuti dari rumah, bahkan jamnya pun mempertimbangkan waktu lapang kaum ibu, penyampaiannya materinya benar-benar pelan dari dasar agar bisa dimengerti oleh pemula, dan sering ada latihannya juga yang membuat kita bisa langsung praktik. Jadi, saya enjoy mengikuti program-program IIDN tanpa terbebani.
Sungguh, hidup di zaman digital menjadi privilege tersendiri bagi saya. Digitalisasi menciptakan kelas daring yang lekat dengan kehidupan saat ini, dan inilah yang paling sering dijalankan oleh IIIDN.
Komunikasi atau diskusi pun bisa melalui grup WhatsApp. Rasanya tak ada alasan untuk malas belajar dengan fasilitas digital yang sangat memudahkan.
Salah satu yang paling saya ingat dan itu menjadi ilmu berharga yang masih saya terapkan sampai sekarang adalah ketika mengikuti kelas Mbak Wid (ketua umum IIDN periode sebelumnya) untuk melibatkan indera agar tulisan menjadi lebih hidup. Contohnya ayam goreng. Kalau hanya menuliskan di meja makan ada ayam goreng, itu hanya sebatas memberi tahu. Tapi, kalau kalimatnya dibuat menjadi di meja ada ayam goreng baru matang yang aroma rempah marinasinya tercium hingga ruang tamu, pasti pembaca bisa membayangkan bahwa ayam ini enak, baru matang panas-panas yang asapnya mengantarkan aroma hingga ke ruang depan. Indera penciuman dilibatkan di sini. Saat itulah saya paham tentang telling dan showing dalam menulis.
Jadi, kalau teman-teman sedang mencari komunitas menulis yang ramah untuk ibu-ibu, saya tak akan ragu merekomendasikan IIDN. Bukan iklan, ya. Ini murni dari pengalaman pribadi. Karena sebagian besar pondasi dalam perjalanan menulis saya, dibangun dari ilmu-ilmu yang saya dapatkan dari IIDN. Terima kasih!
Bukan Hanya Diajarkan Menulis, tapi juga Ilmu yang Berkaitan
Karya membanggakan yang saya hasilkan dari mengikuti kelas IIDN adalah menerbitkan dua buku solo berjudul Ketika Ibu Resign dan Blogging for Moms.
Ibu biasa ini, ternyata bisa menerbitkan buku sendiri yang harapannya bisa bermanfaat bagi ibu-ibu lain dengan pengalaman hidup serupa.
Lalu, kalau kelas selain kepenulisan, apa saja? Mulai dari memperbaiki internal diri agar keluar dari lingkaran overthingking yang bikin kita enggak maju-maju, marketing atau pemasaran, membuat konten media sosial, voice over untuk menyuarakan tulisan, personal branding, menjadi penulis di era digital, hingga menyemangati bahwa menjadi ibu bukanlah akhir untuk mengembangkan diri.
Sehingga kita lebih mantap berpijak untuk menjadi penulis yang tidak hanya bisa menulis, melainkan mampu membangun branding dengan baik, mempromosikan karya-karyanya agar tetap memiliki ruang untuk dikenal, menghidupkan media sosial dengan konten-konten menarik, dan banyak lagi. Kurang lengkap apa coba? #IIDN memang tempatnya ibu-ibu untuk bertumbuh sebagai penulis, tanpa meninggalkan jati diri dan tanggung jawabnya. Itulah IIDN di mata saya.
Membuka Jalan untuk Terus Konsisten
Sejak saat itu, saya percaya diri mengikuti lomba blog hingga sekarang. Walau tidak di semua lomba juara, menjadi pemenang di lebih dari 60 lomba blog dan artikel sudah membuat saya bangga luar biasa.
Walau mungkin ada yang berpendapat itu hanya sebuah kebetulan, bagi saya ini tak lepas dari titik balik yang diberikan oleh IIDN. Pasti pengurus atau juri lomba Modena tak akan tahu bahwa dampak kemenangan kali itu sangat besar bagi saya, bagi perjalanan menulis saya.
Hal yang juga menjadi pembuka satu gembok skill saya adalah ketika ditawarkan menjadi salah satu pembicara dalam kelas lomba blog. Bayangkan, saya yang sebelumnya hanya mengetik diam di balik layar, diminta untuk berbicara di depan orang banyak. Kalau IIDN saja percaya, kenapa saya tidak percaya pada diri sendiri? Dengan yakin setengah nekat, saya mengiyakan.
Tanpa disadari, itu pun menjadi pintu peluang bagi saya. Kesempatan yang lebih banyak perlahan datang untuk diminta mengisi berbagai kelas, dan kini berani membuka kelas sendiri.
![]() |
| Mengikuti kelas IIDN bersama Kirana Kejora |
Masih ada lagi. Saya tak akan tahu kalau saya secinta itu dengan budaya dari tanah kelahiran saya kalau tidak mengikuti kelas IIDN bersama Kirana Kejora beberapa tahun setelahnya. Beliau adalah penulis novel yang beberapa karyanya sudah difilmkan dan aktif mengabadikan budaya lewat tulisan. Kelas tersebut membuka jalan bagi saya untuk menulis buku antologi budaya, bergabung pula dengan komunitas yang didirikan oleh beliau, dan pastinya lebih banyak mempelajari budaya Nusantara. Setidaknya, saya sudah berkontribusi untuk menjaga identitas bangsa ini.
Duh, kalau diceritakan semua, pasti akan sangat panjang. Setidaknya, dari sedikit yang saya ceritakan, sudah membuktikan bahwa saya tidak melebih-lebihkan. Saya yang dulunya sangat awam menulis, perlahan bertumbuh hingga sampai di titik ini. Tapi, sekali lagi, saya berharap akan selalu merasa belum pandai menulis agar terus termotivasi untuk terus belajar.
Impian Saya yang Baru Terwujud Berkat IIDN
Meski sudah mengikuti beberapa kelas menulis fiksi, entah itu cerpen atau novel, tetap belum terwujud juga harapan itu. Untuk menulis cerpen yang singkat saja, saya bisa menghabiskan berminggu-minggu untuk memikirkan alur ceritanya. Apalagi novel? Padahal outline-nya sudah sering saya buat. Saking lamanya belum terealisasi jadi novel, sudah berapa kali diubah-ubah.
Nah, ketika membaca ajakan di grup WhatsApp IIDN untuk menulis selama 20 hari tanpa putus di bulan Ramadan lalu, saya langsung mendaftar. Sepertinya saya tipe orang yang harus dipecut dan mesti mengikuti program dengan speed cepat dan waktu terbatas. Benar saja, seperti kedua buku solo saya yang lahir dari kelas IIDN, naskah novel pertama saya akhirnya rampung berkat IIDN. Walau banyak kekurangan, naskah yang selesai jauh lebih baik dari pada naskah sempurna yang tak kunjung selesai.
Judulnya Patriarki. Saya coba menyalinnya ke salah satu platform menulis. Masih belum semua, baru setengah dari jumlah bab. Belum banyak pula yang baca. Wajar, karena saya pendatang baru. Malah saya jadi penasaran, bagaimana caranya agar tulisan kita ramai pembaca di platform menulis digital? Semoga next IIDN mengadakan kelas terkait ini, ya. Tambah ilmu baru lagi deh.
Benar kan? Semakin banyak mencoba hal baru, semakin banyak hal yang tidak saya tahu. Sehingga sampai sekarang, saya masih saja belum pandai menulis.
Sebentar lagi IIDN akan memasuki usia yang ke-16. Yey, happy anniversary!
Saya memang tidak mengikuti perjalanan IIDN dari awal. Tapi, di momen #IIDNAnniversary ini, saya mau menyampaikan bahwa apa yang sudah diberikan IIDN selama bergabung, sudah membentuk dasar kuat untuk skill menulis saya.
Kesempatan dan apresiasi yang diberikan menjadi amunisi yang mempertahankan konsistensi. Ke depannya, saya menantikan pengalaman yang jauh lebih menarik dan berlimpah ilmu bersama Mbak-Mbak pengurus yang baru, yang sebagian besarnya saya kenal. Diketuai Mbak Novi, saya yakin IIDN dapat terus merangkul lebih banyak ibu untuk aktif menulis tanpa harus meninggalkan tanggung jawab utama sebagai ibu.
Terima kasih, IIDN.
Inilah #AnniversaryWritingJourney dari saya, ibu rumahan yang belum pandai menulis.













waaah hebat mbaaa..... IIDN ini aku pastinya sering dengar dan baca, tapi memang belum jadi member... krn merasa belum sempat untuk waktunya ikut kegiatan, kuatir malah ga aktif nanti... tapi aku tahu, member iidn ini tulisannya memang bagus2, krn banyak temenku yg jd member di sana :).
ReplyDeletesekarang ini belajar ttg kepenulisan memang bisa dari mana aja yaaa. memudahkan krn era digitalisasi skr. Semoga nantinya makin banyak juga buku2 yg mba nova bisa terbitin ;)