Pengalaman Cabut Gigi Pakai BPJS di Puskesmas Kebayoran Lama

No comments

Gigi saya memang selalu bermasalah sejak SMP dulu. Padahal gosok gigi tidak pernah terlewat, pakai obat kumur rajin, scalling juga akhir-akhir ini sudah dirutinkan, yang bolong ditambal, pokoknya sudah semua diusahakan. Eh, tetap juga kemarin terkena musibah gigi pecah dan harus dicabut. Duh, rasanya sedih banget kehilangan gigi lagi.


Pengalaman Cabut Gigi Pakai BPJS di Puskesmas Kebayoran Lama

Tapi, mau bagaimana. Tidak ada pilihan. Akhirnya tindakan cabut gigi kali ini saya percayakan melalui BPJS, bukan di klinik seperti biasanya. Bertahun-tahun bayar bulanan, saya malah baru tahu ternyata perawatan gigi bisa pakai BPJS. Proses dan cara lengkapnya saya tulis detail, ya. Mana tahu ada di antara teman-teman yang berencana cabut gigi pakai BPJS juga.


Gigi Pecah Terbelah Dua

Gigi Pecah Terbelah Dua

Sebelumnya, saya mau menceritakan kondisi gigi saya dulu. Siapa sangka gigi geraham yang besar dan kokoh itu ternyata bisa terbelah dua? Padahal saya hanya memakan kulit garing ayam goreng bawang putih. Kebetulan memang hasil bikinan sendiri yang agak keras, tapi bukan yang sekeras itu juga untuk memecahkan gigi. Entah dikunyahan yang ke berapa, tek! Ada bunyi seperti gigi diketuk disertai rasa sakit hebat. 


Baca juga: Sedot Kista Tiroid dengan dr. Dante Spesialis Endokrin


Saya mikirnya ada bagian keras dari makanan yang menusuk gusi, makanya sakit. Tapi, setelah dilihat dan menggoyangkan gigi di area yang sakit, terpoteklah satu gigi geraham dengan celah besar di tengahnya. Garis pecahannya rapi, tidak ada pecahan sama sekali, sampai-sampai kalau tidak dibantu dorong dengan tangan, tidak akan tampak bahwa gigi itu pecah. Kedua bagiannya pun masih menempel baik di gusi. 


Saya biarkan beberapa hari dengan harapan sembuh sendiri dan akarnya bisa menacap kuat meski sudah pecah. Namun, makin lama makin sakit dan saya susah makan. Akhirnya saya putuskan untuk ke dokter gigi saja. Sudah yakin bakal dicabut setelah melihat dan baca-baca berbagai referensi. 


Ambil Antrean Online Melalui Aplikasi Mobile JKN

Ambil Antrean Online Melalui Aplikasi Mobile JKN

Proses pertama untuk cabut gigi pakai BPJS yang harus dilakukan adalah mengambil antrean online melalui aplikasi Mobile JKN. Sebenarnya mendaftar langsung di lokasi bisa, tapi saran saya, lebih baik ambil antrean online saja biar sat set pas pendaftaran. O iya, pengguna BPJS tidak bisa langsung datang ke rumah sakit untuk berobat, melainkan harus ke Faskes Tingkat Pertama dulu. Faskes ini tergantung pada alamat KTP kita. 


Pengalaman saya kemarin, antrean online ini bisa diambil sehari sebelumnya. Misalnya teman-teman mau ke puskesmas tanggal 15, maka tanggal 14 sudah bisa ambil antrean online di aplikasi. Kalau bisa pagi-pagi saja ambil antreannya sekitar jam 8 supaya dapat nomor awal. Berikut cara lengkap mengambil antrean online di aplikasi Mobile JKN.

  1. Download dan instal aplikasi Mobile JKN. Tersedia di Google Playstore atau App Store.
  2. Bila belum punya akun, daftar dulu dengan mengisi NIK dan data lain, kalau tidak salah ada beberapa verifikasi, pokoknya ikuti saja sampai proses pendaftaran selesai dan kita bisa login ke aplikasinya.
  3. Bila sekeluarga sudah terdaftar BPJS, maka semua akun akan muncul. Sepertinya bisa mengambil antrean online untuk sluruh anggota keluarga hanya dengan satu aplikasi terinstal saja.
  4. Untuk mengambil antrean online, klik tombol Ambil Antrean, lalu pilih Faskes Tingkat Pertama.
  5. Pada kolom peserta, pastikan nama kita yang tertera, bukan anggota keluarga lain.
  6. Pilih Faskes Tingkat Pertama yang akan dikunjungi.
  7. Pilih Poli Gigi, tanggal kedatangan, dan dokter giginya.
  8. Terakhir tuliskan keluhannya. Walau nanti akan ditanya kembali, mungkin ini untuk pendataan saja.
  9. Klik tombol Simpan.
  10. Bila kita pasien baru di puskesmas tersebut, maka akan muncul pop-up pesan konfirmasi memasukkan data yang tersimpan untuk mendaftarkan diri. Klik saja Setuju. Tapi, kalau pasien lama, tidak akan muncul pesan konformasi ini.
  11. Terakhir, otomatis muncul nomor antrean yang nanti akan diperlihatkan ke petugas puskesmas.


Puskesmas Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Puskesmas Kebayoran Lama, Jakarta Selatan

Informasi tambahan, kita tidak bisa mendaftar lebih dari satu kali, ya. Fitur ambil antrean tidak akan aktif untuk akun BPJS kita kalau kita sudah terdaftar di Faskes Tingkat Pertama, tapi tetap bisa mendaftarkan akun BPJS anggota keluarga di aplikasi yang sama.


Nah, untuk proses ambil antrean online sudah selesai. Saya melakukanya 2 kali, yang pertama untuk konsultasi dilihat kondisi giginya, di kunjungan kedua baru cabut gigi.


Mendaftar di Puskesmas sesuai Jadwal

Mendaftar di Puskesmas sesuai Jadwal

Setelah mendapatkan nomor antrean, selanjutnya adalah datang ke Faskes Tingkat Pertama yang dipilih sesuai jadwal. Karena saya dapat nomor awal, sekitar jam 8 pagi saya sudah sampai di puskesmas. Kalau di Puskesmas Kebayoran lama, tidak jauh dari gerbang masuk, ada tempat khusus pendaftaran. Tinggal perlihatkan bukti nomor antrean di aplikasi Mobile JKN ke petugas loket khusus antrean online, dan setelahnya akan diberikan kertas pendaftaran. Langsung disuruh naik ke Poli Gigi di lantai 2.


Meski masih pagi, sudah ramai sekali pasien yang menunggu di lantai 2. Pastikan memberikan kertas pendaftaran ke petugas Poli Gigi. Kalau pintu poli tertutup, ketuk dan buka saja. Jangan hanya menunggu, karena petugas akan memanggil sesuai kertas yang diberikan ini. Kalau kertas nomor antrean tidak diberikan, ya tidak akan dipanggil-panggil.

Suasana pagi hari di lantai 2 Puskesmas Kebayoran Lama
Suasana pagi hari di lantai 2 Puskesmas Kebayoran Lama

Poli Gigi

Tinggal tunggu saja sampai nomor kita dipanggil. Pastikan tidak lupa nomornya. Andai nomor antrean sudah terlewati karena terlambat datang, maka akan dipanggil ulang setelah pasien di dalam selesai tindakan. Biar lebih jelas, saya simpulkan proses pendaftaran di puskesmas ini, ya. 

  1. Menuju loket pendaftaran khusus anteran online. Perlihatkan nomor antrean di aplikasi Mobile JKN ke petugas.
  2. Petugas pendaftaran akan memberi selembar kertas bertuliskan nomor antrean dan data pasien.
  3. Cari Poli Gigi, langsung berikan kertas tersebut ke petugas Poli Gigi.
  4. Tunggu nomor dipanggil.


Konsultasi dan Cabut Gigi

Ruang tindakan yang bersih dengan fasilitas memadai
Ruang tindakan yang bersih dengan fasilitas memadai

Ini part utamanya. Setelah nomor antrian saya dipanggil dan masuk ke dalam, ternyata tersedia 3 kursi tindakan dengan 3 dokter gigi dan 3 perawat, serta beberapa petugas lain. Kalau dilihat-lihat, fasilitasnya oke, sama dengan klinik gigi ternama yang pernah saya datangi.  Dan dalam pikiran saya, kalau pasiennya banyak, dengan ketersedian 3 dokter gigi dengan ruang tindakan masing-masing, pasti akan mempercepat perputaran antrean. Pasien tidak akan terlalu lama menunggu.


Untuk kebersihan, juga jempol banget. Bahkan semua dokter dan petugas menggunakan penutup kepala bila tidak berhijab, masker, sarung tangan, dan baju pelindung khusus. Saat cabut gigi, saya diperlihatkan kalau peralatan yang digunakan masih terbungkus dan masih steril. Dokternya juga baik-baik dan ramah. Sebagai pasien baru, saya merasa cukup ditenangkan.


Di kunjungan pertama, saya konsultasi dan diperiksa oleh drg. Evlyn Napitupulu. 

Beliau sepertinya yang paling senior bila dibandingkan dengan dokter lainnya. Konsultasi dengan drg. Evlyn tidak lama, saya hanya ditanya keluhannya apa, kemudian dicek bagian gigi yang pecah. Beliau tidak berani membuka pecahan, takut saya kesakitan dan semakin memperparah pecahannya. 


Mungkin karena antrean pasien banyak, dokter bertindak lebih cepat namun bukan yang tergesa-gesa. To the point, penjelasan drg. Evlyn sesuai keluhan dan jawabannya tidak bertele-tele. Makanya sebentar selesai. Pas saya tanya, "Dok, memang harus dicabut?" Beliau jawab, "Kalau nggak ada fungsinya dan bikin susah makan, buat apa giginya ada di situ?" Jujur, saya lebih suka yang tegas dan jelas seperti ini. Karena memang gigi saya sudah tidak bisa diselamatkan. Ditambal tidak bisa, disambung apa lagi.


Lalu dijadwalkan untuk cabut gigi tepat seminggu setelahnya. Saya langsung setuju, wong tidak ada opsi lain. Tidak lupa saya diresepkan obat, yang lengkapnya akan saya jelaskan detail dibagian "mengambil obat".


Di kunjungan kedua, akhirnya saya cabut gigi geraham!

Entah kenapa, pas pendaftaran saya memilih drg. Evlyn, tapi eksekusinya dengan dokter berbeda, yaitu drg. Nitya. Sepertinya antrean di sini acak ke dokter mana yang sudah selesai tindakan, tidak terpaku pada dokter pilihan saat pendaftaran. Tak apa, yang penting gigi saya dicabut, itu saja.

 

drg. Nitya jauh lebih muda dan lebih ramah. Saya yang penakut ini diberi waktu untuk tenang dulu sebelum cabut gigi. Kayaknya kalau pasien anak, cocok sekali dengan beliau. Lumayan berhasil membuat saya lebih tenang. Walau pas disuntik bius tetap sakit. Kalau ada yang bilang suntik sebelum cabut gigi cuma seperti digigit semut, tidak berlaku di saya. Sebentar, tapi tetap sakit, terutama di tusukan pertama. Alhamdulillah pembiusan ini lancar dan langsung mati rasa.


Masuklah ke proses pencabutan. Yang saya kira bakal sebentar, ternyata giginya patah! Kata dokter, ini karena gigi saya sudah pernah perawatan sebelumnya. Memang benar, sudah berkali-kali di tambal, makanya rapuh. Saya masih santai di saat ini. Tapi, setelah drg. Nitya kesulitan, sampai dibor berkali-kali, dicongkel-congkel, lalu ujungnya menyerah meminta bantuan drg. Evlyn, saya mulai panik. 


Bagian atas gigi yang sudah tercabut
Bagian atas gigi yang sudah tercabut

drg. Evlyn pun tetap kesulitan mencabut sisa akar gigi yang masih tertinggal. Suntikan bius ditambah karena saya sudah mulai merasakan sakit. Nah, suntikan bius kedua ini, sakitnya sampai menyetrum ke leher, entah kenapa. Lama sekali beliau mengebor, mengorek, sampai akhirnya akar gigi tercabut. Kata beliau, akar gigi saya miring, makanya sulit.


Sudah selesai? Belum! Akar gigi yang satu lagi masih didalam. Namun, ketika drg. Evlyn mengubek-ubek, katanya sudah tulang, bukan akar gigi. Jadi, akar gigi saya tunggal, alias cuma satu. Normalnya kan geraham minimal ada dua akar, makanya saya agak deg-degan takut akar yang satunya masih tertinggal. Tapi, kembali lagi, yang lebih tahu pasti dokter. Saya percayakan saja.


Setelah pencabutan, gusi yang bolong diberi kapas untuk digigit. Saya minta satu kapas lagi sebagai pengganti khawatir nanti darahnya tidak tertampung di kapas pertama. drg. Nitya memberi pesan bahwa saya tidak boleh makan yang panas dan pedas dulu beberapa hari, tidak boleh kumur keras, serta tidak boleh makan beberapa jam ke depan. Plus diresepkan obat-obatan lagi dan wajib minum antibiotik per 8 jam. Bila selama satu minggu masih sakit dan bengkak, saya disuruh balik untuk konsultasi.


Proses pencabutan gigi selesai. Saya sukses dibuat gemetar karena prosesnya yang sulit. Sampai ditangani 2 dokter sekaligus. Saya kurang tau entah karena memang giginya yang bermasalah, tapi sebelumnya saya tidak pernah cabut gigi selama ini. Positif thinking saja semoga segera pulih dan tidak ada akar gigi yang tertinggal. 


Mengambil Obat

Tempat mengambil obat
Tempat mengambil obat

Karena diresepkan obat, saya harus mengambilnya di lantai 1. Lokasi apotek ini agak ke dalam dan tersembunyi, jadi bagi yang baru pertama ke Puskesmas Kebayoran lama, tanya saja ke satpam. Semua satpamnya ramah-ramah kok.


Tidak ada kertas apa pun yang dibawa dari Poli Gigi. Sepertinya sudah menggunakan sistem terintegrasi. Jadi, dokter tinggal menginput resep apa ke pasien yang mana, nanti datanya langsung masuk ke apotek. 


Tidak terlalu lama menunggu, nomor antrean saya sesuai poli, yaitu Poli Gigi, dipanggil. Obat diberikan dan dijelaskan instruksi minumnya. Lalu diminta menandatangani semacam bukti tanda terima. Berikut obat-obat yang saya bawa pulang.

  • Kunjungan pertama: antibioik selama 3 hari dan obat anti nyeri.
  • Kunjungan kedua setelah cabut gigi: antibiotik untuk 3 hari, anti radang untuk 3 hari, anti nyeri, dan vitamin C.

Obat yang diresepkan setelah cabut gigi
Obat yang diresepkan setelah cabut gigi

Setelah mengambil obat, sudah bisa pulang. Tidak ada bayaran sepeser pun yang ditagih mulai dari awal pendaftaran sampai mengambil obat.


Proses Penyembuhan

Gimana rasanya setelah gigi diubek-ubek lama banget? Di puskesmas saya masih kuat, walau sudah terasa sakit tepat setelah cabut gigi. Untungnya saya bawa pereda nyeri, jadi langsung saya minum. Ini bisa jadi tips buat teman-teman yang mau cabut gigi. Takutnya setelah tindakan, sakitnya langsung terasa. Untuk proses penyembuhannya, ini detail dari hari ke hari.


Hari ke-1

Pas di rumah, saya lihat hasil cabutannya sekalian mau ganti kapas. Ternyata lubangnya super besar! Saya syok dan sebadan-badan langsung lemas. Darah masih banyak yang keluar, mau digigit kapas lagi, sakitnya sudah semakin menusuk. Di sini tangis saya pecah. Saya tidak menyangka kalau lubang hasil cabutnya bakal sebesar itu, bahkan gusi di sampingnya terlihat terpotek dan hilang entah kemana. Saya tidak tahu apakah ini normal atau tidak, yang jelas ini lubang yang jauh  lebih besar dibanding bekas cabutan dua gigi geramam sebelumnya. Saya tidak berani mengambil foto karena sudah sibuk mengurus mental sendiri.


Dua jam setelahnya saya sudah tidak sanggup menggigit kapas. Di sini darah masih keluar. Saya pun menghindari berbaring karena darah jadi makin banyak keluar saat rebahan. Makan pun cuma pisang saja biar bisa minum obat. Malamnya belum gosok gigi karena masih berdarah. Saya kuatkan meski takut, berharap besok bisa membaik.


Hari ke-2

Alhamdulillah darah sudah berhenti. Tapi, dilubang yang menganga itu penuh dengan darah yang masih tampak merah, begitu juga di gigi sekitarnya. Sakitnya masih sama saja, dan terasa bengkak di gusi dan sedikit di pipi. Bekas suntikan bius yang menjalar ke leher pun masih terasa sakit. Biarlah, yang penting darah sudah tidak keluar lagi.


Karena mulut sudah terasa tak enak, di hari kedua ini saya sudah gosok gigi di bagian yang aman dan berkumur-kumur seadanya. Makan masih susah, pilih yang lembek-lembek. Minum obat harus dirutinkan, saya jaga betul jangan sampai telat apalagi terlewat. 


Hari ke-7

Barulah di hari ke-7 ini, atau seminggu, semua terasa membaik. Sakitnya berkurang banyak walau gusinya masih bengkak. Saya sudah bisa makan dengan lebih baik dengan gigi di sebelahnya. Tapi, sakit sesekali masih terasa terutama saat ada makanan yang nyasar atau kumur-kumur. Saat makan pedas dan panas juga terasa lebih perih. Darah masih terlihat menumpuk di kawah gusi. Tak apa, yang jelas tidak makin parah.


Minggu ke-2

Sudah tidak sakit lagi, tapi masih ada bagian gusi yang bengkak dan terasa mengganjal. Darah di kawahnya sudah bersih. Lubang besar yang menyeramkan itu sudah mulai merapat, tidak lagi menganga lebar. Alhamdulillah alhamdulillah. Sekarang saya tinggal menunggu sisa bengkak di gusi hilang sempurna karena masih khawatir masih ada akar yang tertinggal. Semoga tidak, aamiin. 


Rencananya setelah ini saya mau pasang gigi palsu, meski kalau pakai BPJS hanya bisa disubsidi sekitar 500.000 rupiah per rahang. Kata dr. Nitya, minimal satu bulan lagi baru bisa minta rujukan untuk pembuatan gigi palsu ke rumah sakit. Karena di puskesmas tidak bisa membuat gigi palsu. Nanti kalau jadi, saya akan cerita-cerita lagi di blog ini, ya.


Baca juga: Kedua Anak Saya Terkena Flu Singapura! Ini Gejala dan Obat yang Saya Beri


Secara keseluruhan, saya sangat terbantu dan mengapresiasi adanya fasilitas perawatan gigi dengan  BPJS. Apalagi peralatannya sudah lengkap dan modern, dokternya pun baik-baik dan terus menenangkan saat saya merasa cemas. Namun, saya ingin memberi sedikit saran.

  • Sebaiknya sebelum cabut gigi, dokter memberi pilihan untuk rontgen dulu demi menghindari kesulitan pencabutan seperti saya kemarin. Setidaknya pasien tahu kalau rontgen bisa membantu walau harus dengan biaya sendiri dan melakukannya di tempat lain.
  • dr. Nitya menyarankan untuk "merapikan" sisa akar gigi yang susah dicabut, lalu dr. Evlyn tetap mengusahakan mencabut. Saya memang tidak terlalu paham maksud dari "merapikan" tersebut, yang saya tangkap itu adalah keputusan pembiaran akar gigi tertinggal. Semoga ini bisa menjadi pertimbangan kembali.
  • dr. Evlyn meminta dr. Nitya untuk mengecek kembali apakah benar akarnya cuma satu dan di posisi akar kedua itu adalah tulang, tapi tidak dicek ulang. Bukannya saya ragu dengan dr. Evlyn, saya berharap memang dicek lagi mengingat dokter yang bertanggung jawab di awal adalah dr. Nitya.


Terakhir, kalau ditanya apakah saya mau kembali melakukan perawatan gigi pakai BPJS? Sepertinya mau-mau saja kalau untuk perawatan dasar seperti penambalan biasa atau scalling. Tapi, kalau untuk cabut gigi, saya harus mengatasi trauma dulu. Bukan karena kecewa atau alasan yang jelek-jelek, buktinya bekas cabutan saya pulih dengan baik. Bisa jadi meski ke klinik di luar pun, saya akan tetap mengalami hal serupa karena kondisi gigi yang memang sulit dicabut. Mungkin saja, kan? Ini murni masalah mental saya yang memang takutan dengan tindakan medis berdarah-darah, hehe.


Semoga sedikit pengalaman ini bisa menjadi referensi teman-teman yang mau cabut gigi pakai BPJS, ya. 

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)