"Bu, lebaran nanti aku tidak bisa pulang lagi."
Seketika air mata saya mengalir. Ini menjadi lebaran yang ketiga, saya tidak pulang lagi ke Padang. Padahal tiket sudah dibeli jauh-jauh hari, bahkan sejak lima bulan sebelum Ramadan. Saking antusiasnya dan demi menjamin tiket bisa terbeli sebelum harganya melambung tinggi. Namun, Tuhan kembali menyuruh saya bersabar lebih lama. Pilu, membayangkan sepinya rumah orang tua yang melewati momen lebaran hanya bertiga saja dengan adik satu-satunya, yang untungnya masih menemani.





