Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!


Jauh sebelum menikah, aku sudah membayangkan betapa bahagianya bisa hadir dalam setiap momen kehidupan anak. Yap, aku memang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Banyak orang yang menganggap itu bukanlah sesuatu yang layak untuk dicita-citakan. Bagi mereka, tanpa usaha apa-apa pun semua wanita bisa menjadi ibu rumah tangga. Tapi tidak begitu bagiku. Ibu rumah tangga tetaplah membutuhkan ilmu yang tak luput dari proses belajar.

Setelah kelahiran anak pertama, aku memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengurus keluarga. Awalnya memang berat. Aku tertekan dengan semua kehidupan baru yang dijalani. Pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya, waktu bertemu dengan teman-teman yang tersita, memanjakan diri, bersantai, tidur nyenyak, atau sekedar bernyanyi saat mandi pun sirna. Aku menjadi begitu sibuk, sangat sibuk.

Bukannya tidak mampu membayar Asisten Rumah Tangga (ART) untuk membantu, tapi aku pribadi merasa kurang nyaman jika ada orang lain yang bukan saudara tinggal bersama di rumah kecil ini. Apalagi banyak kelakuan ART yang harus dihadapi. Aku pernah mencoba mempekerjakan 2 orang ART sebelum ini, bukannya banyak membantu, malah menambah masalah baru.

***

Bisa karena terbiasa. Semua tekanan itu perlahan menghilang. Aku bukan lagi wanita lemah yang selalu mengeluhkan keadaan. Menjadi ibu rumah tangga ternyata tidak semenakutkan itu, asalkan selalu berpikir positif dan percaya bahwa kita mampu.

Semua hal dalam hidup ini perlu pengaturan yang tepat dari segi cara dan waktu, termasuk mengerjakan seluruh urusan domestik keluarga. Profesionalitas bahasa kerennya.

Mulai dari pagi hingga pagi lagi, jadwal yang tersusun sangat padat tanpa jeda. Apalagi masih ada bayi ASI yang harus aku susui setidaknya 1 sampai 3 kali di tengah malam. Tidur pulas semalaman masih menjadi sebuah imajinasi. Lelah memang, tapi membahagiakan. Puasnya itu beda.

Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder. Ini Tipsnya!

***

Apa saja tips yang bisa dilakukan agar semua pekerjaan rumah tangga bisa diselesaikan meskipun ada 2 balita yang harus diasuh?
________________

Anak satu saja sudah membuat sibuk, apalagi dua?

Pengalaman memang mengajarkan banyak hal. Keadaan ibu beranak satu dengan ibu beranak dua tidaklah sama. Sekarang aku merasa jauh lebih rileks sehingga bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan cekatan. Aku selalu berpikir dan berusaha menemukan trik agar semua antrian pekerjaan bisa diselesaikan secepat mungkin. Waktu terasa sangat berharga.

Meskipun masing-masing ibu memiliki standar dan cara berbeda dalam mengurus rumah tangga, mungkin saja beberapa tips ala aku berikut ini bisa memberikan inspirasi baru. 

🌸 Membersihkan rumah cukup sekali sehari atau jika sudah terlalu mengganggu dan urgent

Membersihkan rumah terlalu sering hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Rumah yang rapi dan bersih tidak akan bertahan lebih dari 1 menit jika ada balita di rumah. Aku biasanya memilih waktu sebelum tidur malam sebagai saat yang tepat untuk bersih-bersih. Selain memberikan rasa nyaman saat bangun pagi karena melihat sesuatu yang rapi, malam hari setelah anak tidur merupakan waktu panjang yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan segala yang belum selesai tanpa interupsi. Bukan pemandangan asing lagi jika aku menyapu, mencuci piring atau mengepel di malam hari. 

Meskipun begitu, terkadang bisa saja mainan yang berserakan terlalu banyak dan memenuhi lantai sehingga untuk berjalan saja sulit. Anak-anak yang sedang bermain terlihat susah bergerak dan kesakitan saat terinjak mainan yang bersudut lancip. Atau bisa jadi ada tamu dadakan yang akan singgah beberapa menit lagi. Di keadaan seperti inilah aku juga harus segera mengambil tindakan bersih-bersih rumah. Jika di totalkan, sesering-seringnya aku membersihkan rumah dalam sehari, itu tidak lebih dari 3 kali.

🌸 Belanja kebutuhan cukup 1 kali seminggu

Selama hampir 4 tahun belakangan ini, aku tidak lagi mengenal istilah belanja bulanan. Yang ada adalah belanja mingguan. 1 kali dalam seminggu, aku akan berbelanja semua keperluan rumah mulai dari bahan masak, cemilan, keperluan mandi, keperluan mencuci dan semua yang akan dipakai di rumah. Daftar belanjaan yang nyaris sama hanyalah keperluan bahan-bahan masakan seperti ayam, daging, telur, sayuran dan bumbu dapur. Selain itu, tergantung stok persediaan yang masih tersimpan di lemari. Bisa saja minggu ini keperluan mandi habis, minggu depannya keperluan mencuci yang habis. 

Kenapa aku melakukannya 1 kali dalam seminggu? Karena terlalu memusingkan untuk mengingat begitu banyaknya keperluan rumah tangga untuk 1 bulan. Jadi sekalian saja habis belanja sayur, mampir ke mini market.

🌸 Masak cukup 1 kali sehari dengan 1 menu atau maksimal 2 menu sederhana

Makanan sehat tidak harus rumit dan banyak rempah. Bahan masakan yang diolah sederhana juga bisa enak kok. Jangan membebani diri sendiri untuk menyajikan aneka menu lengkap di meja makan. Jauh lebih meringankan jika memasak 1 atau maksimal 2 menu saja dalam 1 hari untuk seluruh anggota keluarga. Protein hewani, protein nabati dan sayuran bisa dimasak menjadi satu dengan resep yang kreatif. Jika pun ada beberapa sayur yang pengolahannya tidak biasa digabung dengan protein, baru lah dimasak terpisah. 

Aku memilih waktu di pagi hari setelah shalat Subuh dan sebelum anak-anak bangun untuk memasak menu sehari. Jadi makanan tetap segar dan tidak perlu sering dihangatkan untuk menghindari basi. Takar porsi agar pas habis dalam sehari supaya tidak bosan dengan menu yang sama berhari-hari. Karena ada dua balita yang belum bisa mengkonsumsi makanan pedas, aku memilih untuk memasak terpisah sambal gorang atau membeli chili oil dan sambal kemasan. Kadang makan nasi tanpa sambal itu kurang greget.

Baca juga : 3 Resep Olahan Daging Sederhana dan Enak untuk Keluarga


🌸 Tidak wajib setrika baju rumah

Baju sehari-hari yang dipakai di rumah seperti kaos tipis atau daster dan celana pendek, tidak perlu disetrika jika memang tidak sempat. Bukannya malas mengerjakan, tapi terlalu berbahaya jika anak-anak mendekat disaat kita tengah sibuk memaju-mundurkan setrikaan. Bisa saja anak terkena besi panas atau tersandung kabelnya. Mengerjakan saat malam hari juga tidak mungkin karena harus beristirahat agar kondisi tubuh tetap terjaga.

Bagaimana dengan baju kerja suami atau baju bepergian? Aku menyetrika sesaat sebelum digunakan. Sepertinya memang boros listrik dan waktu, tapi inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan sampai saat ini agar ritual setrika tidak menjadi beban.

🌸 Mencuci baju dalam satu waktu sampai keranjang benar-benar kosong

Wajib menyisihkan waktu satu hari untuk mencuci. Berhubung selama ini aku hanya memiliki pengalaman mencuci dengan mesin cuci yang harus dipencet-pencet secara manual, setidaknya aku harus membersamai mesin cuci ini selama digunakan. Jika terbengkalai atau lupa, bisa jadi urusan cuci-mencuci tidak selesai dari pagi hingga pagi lagi. Hari mencuci ini tergantung dengan stok pakaian di lemari. Aku harus rutin mencuci 1 kali dalam 5 hari agar pakaian bersih anak-anak masih ada. Maklumlah, anak-anak bisa ganti baju beberapa kali dalam sehari, jadi bisa dijadikan alarm untuk segera mencuci jika stok pakaian bersih mereka menipis.

🌸 Menyikat kamar mandi setiap kali mandi

Jujur pekerjaan yang satu ini menduduki urutan pertama dalam "hal yang paling malas dilakukan". Malasnya bukan baru-baru ini, tapi semenjak gadis aku sering membiarkan kamar mandi hingga begitu kotor. Menjijikkan memang. Tapi anehnya, aku juga paling benci dengan kamar mandi yang jorok. Ah sudah lah, semakin membingungkan untuk dibahas panjang lebar.

Intinya, dengan kehadiran anak-anak, aku tidak boleh membiarkan kemalasan itu merajalela hingga kamar mandi berubah menjadi area berbahaya untuk mereka. Lantai licin bisa menyebabkan tergelincir dan keadaan kotor tentunya sangat tidak menyehatkan. Sedangkan setiap hari kita bisa berkali-kali memasuki kamar mandi. Jadi solusi jitu yang aku praktekkan hingga sekarang adalah menyikat lantai kamar mandi setiap kali selesai mandi. Lebih nyaman jika menggunakan sikat bertangkai panjang agar tidak perlu jongkok atau membungkuk untuk menyikat. Nah, toiletnya bisa disikat 2 kali seminggu saja. Tidak lama kok, 5 menit saja sudah cukup.

Note : kamar mandi berukuran standar perumahan, tanpa bak air, tanpa bathub dan tanpa pemisah antara area basah dan area kering seperti kamar mandi hotel.

🌸 Kondisikan anak saat sibuk

Aku tipe orang yang tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Jadi jika anak menangis dan rewel saat aku sibuk, dijamin hasilnya akan berantakan. Dari pada pekerjaan rumah tidak kunjung selesai, lebih baik aku mengkondisikan anak-anak agar tetap diam dan tidak mengganggu untuk beberapa saat. Ini harus aku lakukan jika pekerjaan atau aktifitas tersebut bisa membahayakan mereka, seperti memasak atau saat ditinggal mandi. 

Youtube adalah penolong terhebat saat terdesak. Video anak seperti Pingfong, Cocomelon, Vlad dan Nikita atau animasi lainnya dijamin sukses membuat anak-anak diam sesaat. Sebagai catatan, aku bukan tipe orang tua yang anti gadget. Jadi membiarkan mereka menonton video kesukaannya sejenak tidak ada masalah. Jangan lupa selalu mengawasi dan mengajak berkomunikasi sesekali dengan pertanyaan singkat mengenai tontonannya agar tidak terlalu terpaku menatap layar. 

Tapi kadang-kadang memberikan kertas gambar dan krayon atau menghidangkan cemilan manis juga mempan untuk membuat mereka tidak mendekat beberapa menit. 

Baca juga : Tips Mendapatkan Dampak Positif Gadget untuk Tumbuh Kembang Anak


🌸 Makan, mandi dan tidur di satu waktu

Poin terakhir yang bisa menghemat waktu lumayan lama adalah makan, mandi dan tidur secara bersama dalam satu waktu. Misalnya makan, aku harus sigap menyuapi anak-anak secara bergantian dan menyuapi diri sendiri agar semuanya bisa makan tepat waktu dijam makan. Begitu pula dengan mandi, biasanya si abang sibuk main air sembari adiknya mandi, lalu nanti setelahnya barulah dia yang mandi. Jadi tidak perlu berulang menyiapkan air hangat dan menyiapkan perlengkapan mandinya. Urusan tidur juga sama, baik itu tidur siang maupun tidur malam. Anak-anak harus tidur diwaktu yang sama agar tidak saling mengganggu dan aku juga bisa mengerjakan yang lain.

Baca Juga : 5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Tidur Siang

***

Penting!

Jangan lupa sisakan waktu me time, mengembangkan diri dan bersosialisasi

Pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya pasti membuat banyak ibu kelelahan dan stres. Maka dari itu, sisakanlah sedikit waktu untuk sekedar meminum kopi atau makan mie. Satu jam saja sudah cukup kok untuk merelaksasi diri. Selain itu ibu rumah tangga juga harus mengembangkan diri agar memiliki tujuan. Sekecil apapun tujuan itu, pasti ampuh menjadi pembakar semangat. Dan satu hal lagi yang paling penting, bersosialisasilah sesekali dengan tetangga atau teman lama. Bisa juga dilakukan melalui media sosial atau grup online untuk sharing dan bercerita.
Semua tidak harus sempurna

Selama mengerjakan urusan rumah tangga sendiri dengan ditemani dua anak kecil,  buanglah jauh-jauh apa yang dinamakan "sempurna". Memang kita inginnya rumah selalu rapi, baju terlipat di lemari atau makanan tersedia dengan berbagai pilihan menu setiap hari. Kenyataanya, membuat semuanya sempurna hanya akan membuat kita menderita. Waktu hanya habis untuk urusan rumah tangga. Padahal masih ada anak yang harus ditemani bermain serta masih ada tubuh dan hati yang butuh hal lain. Selagi semuanya masih berjalan normal, berarti pekerjanan kita sebagai ibu rumah tangga sudah sukses dan patut diapresiasi.

Baca juga : Anak Tidak Butuh Ibu yang Sempurna tapi Ia Butuh Ibu yang Bahagia


Semoga bermanfaat :)


2 comments:

  1. wah saya hanay punya art samapi anak keduaku umur 4 tahun selebihnya gak ada, tapi aku kerja loh. tapi pekerjaan rumah tangga dikerjakan bersama suami, saat anak sdh agak besar, mereka diperbantukan dan mereka jadi mandiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ibu bekerja kayaknya nggak mungkin kalau nggak ada yang bantu ya Mbak.
      Nanti kalau anak-anakku sudah besar mau dididk seperti itu juga, biar nggak terima beres aja hehe

      Delete