Saya mau sedikit cerita dan ini terjadi saat kumpul keluarga di momen lebaran kemarin. Saya tidak menyangka bahwa personal branding yang saya upayakan selama ini, melalui berbagai media, membuahkan satu peluang penawaran yang cukup besar bagi saya, yaitu mengisi satu sesi kelas yang pesertanya karyawan perempuan dari Bank Indonesia.
Pentingnya Personal Branding untuk Ibu Rumah Tangga Produktif
Ibu Rumah Tangga Merintis Bisnis? Ini 4 Hal yang Bisa dilakukan
Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja, Adakah yang Lebih Baik?
Meski sudah 7 tahun resign, baru beberapa hari lalu, saya masih juga dibanding-bandingkan dengan ibu bekerja. Menganggap bahwa di rumah itu penuh dengan leha-leha dan santai-santai. Mau menjawab, tapi sudah terlalu basi. Saya lelah menjelaskan bahwa pekerjaan ibu rumah tangga sama saja sibuknya dengan ibu bekerja. Pro dan kontra akan kedua pilihan ibu-ibu ini tak kunjung terlepas dari stigma.
Ibu Tak Perlu Pusing Cari Daun Katuk, 9 Superfood ASI Booster Ada Di Proudmeal!
Ketika Perempuan Bertoga Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga
Takdir tetap memiliki kekuatan terdahsyat. Nyatanya sekarang, saya benar-benar menjadi ibu rumah tangga.
Ibu Bertoga, Mengasuh dengan Ilmu
Ibu Bertoga, Tak akan Menyiakan Ijazahnya
Ibu Bertoga, Tutup Celah Stigma
Ibu Kehilangan Jati Diri, Bisakah Diatasi?
Saya bahagia di momen pertama status ibu tersemat. Kehidupan baru bayi mungil itu memberi kehidupan baru pula bagi saya, wanita beruntung yang melahirkannya.
Namun siapa sangka, tak beberapa lama setelahnya, saya malah kelihangan semua yang telah susah payah dibangun, yaitu jati diri saya!
Status ibu menjadi beban baru yang nyaris membuat saya tak mampu lagi hidup dengan sehat, baik fisik maupun psikis. Saya bagai kehilangan impian, semangat, kepercayaan diri, ambisi, pergaulan, serta keinginan mengembangkan diri yang saya tahu bahwa semua itu adalah segala hal yang "saya banget" sebelumnya.
Saya pernah berasa di titik ini.
Ah, kamu hanya tidak pandai bersyukur. Jadi ibu ya begitu, mana ada waktu lagi untuk diri sendiri.
Ah, kamu lebay. Yang jadi ibu bukan cuma kamu. Lihat tuh ibu lain biasa saja.
Ah, kamu terbiasa manja. Sekarang giliran ada anak yang harus diasuh, jadinya stres.
Itu yang saya dengar. Kehilangan jati diri itu pun bertambah dengan kehilangan dukungan.
Sulitkah? Tentu!
Kehidupan ibu yang saya bayangkan penuh tawa, yang terjadi malah sebaliknya. Mungkin bagi yang tak pernah merasakan, cerita saya ini wajar dianggap berlebihan. Tetapi bagi saya dan ibu-ibu lain yang mengalami, ketidaknyamanannya cukup membuat hidup tak karuan. Bahkan untuk bangun tidur pun enggan.
Saya Bukan Satu-satunya yang Mengalami Krisis Identitas Setelah Jadi Ibu, Apa Penyebabnya?
Krisis identitas nama lainnya. Ketika seseorang mulai sering mempertanyakan "Siapa saya sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa yang bisa saya lakukan dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain? Apa guna saya hidup?" dan sebagainya.
Ketika mengalaminya, ada perasaan takut, cemas dan meragukan makna dari kehidupan. Berlanjut menjadi stres atau bahkan depresi karena putuz asa dan menganggap diri tak lagi berharga.
Ya, itu saya! Saya yang beberapa tahun lalu menganggap diri tak mampu. Padahal sebelum menjadi ibu, saya bukanlah tipe orang yang mudah merasa rendah diri.
Terbukti bukan menjadi satu-satunya, saya mulai mempelajari kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.
Perlu diketahui bahwa beberapa hal yang lekat dengan kehidupan ibu berikut ini adalah penyebab kenapa ibu bisa kehilangan jati diri. Bahkan beberapa di antaranya disebabkan oleh pemikiran Sang Ibu sendiri.
1. Perubahan Mendadak
Dalam sekejap, semua berubah. Sebelumnya bebas melakukan apa saja, sekarang sudah ada buntutnya. Sesingkat itu tanggung jawab baru hadir. Waktu dan energi yang dimiliki, habis tanpa sisa untuk mengasuh bayi yang baru lahir. Ibu baru pasti mengerti sekali bagaimana rasanya. Apalagi tidak ada pengasuh, ART atau keluarga yang membantu.
2. Sulit Mencari Waktu untuk Diri Sendiri
Saking sibuknya mengurus anak dan melakukan aktivitas lain yang tak mungkin ditinggalkan, seperti mengurus rumah atau tugas kantor bila ibu bekerja, waktu untuk diri sendiri pun tak lagi ada. Bahkan untuk mandi saja, ibu tak bisa memastikan bersih atau tidaknya. Viral ibu minum kopi hangat yang sudah dingin saking lamanya dibiarkan, atau ibu yang terpaksa makan mie rebus mengembang dan kuahnya mengering karena kelupaan, itu bukanlah sekadar lawakan, tapi kenyataan.
3. Merasa Diabaikan
Sudah tidak punya waktu untuk diri sendiri, jarang pula diperhatikan. Bagaimana ibu tidak semakin down? Ada dua kemungkinan dalam hal ini.
Pertama, sebenarnya tidak ada yang berubah dari orang-orang di sekitar ibu. Suami masih sama, keluarga sama, teman-teman pun sama. Tapi karena ibu sudah tidak lagi baik-baik saja karena mulai terbebani dengan beratnya tanggung jawab menjadi ibu, kesan seolah-oleah terabaikan itu semakin jadi. Kok tidak ada yang bertanya saya bagaimana, saya sedang apa atau apakah ada masalah hari ini. Sedangkan ibu sungkan bercerita dan selalu tampak tegar. Jadi tidak ada yang tahu perasaan ibu sebenarnya.
Kedua, ibu sudah cerita tapi dianggap cengeng, manja atau mendapat respon tak sesuai harapan lainnya. Stigma di masyarakat masih begitu kental tentang sosok ibu yang kuat dan tahan banting. Sehingga tak jarang ketika ibu berusaha mencari tempat berbagi, malah disalahkan. Ibu yang sehatusnya butuh dukungan, malah berbalik ikut menyalahkan diri sendiri kenapa bisa selemah ini.
4. Menuntut Kesempurnaan
Tidak selamanya stigma masyarakat yang membuat ibu terpaksa tampil sempurna, namun tak sedikit pula ambisi untuk sempurna itu murni atas keinginan ibu sendiri. Oh, bagaimanapun rumah saya harus selalu rapi, anak saya harus selalu sehat, saya harus bisa langsing lagi dan tetap terlihat menawan biar suami tetap cinta, saya harus mampu bla bla bla. Namun setelah dijalani, mewujudkan semuanya ternyata tak semudah membayangkannya. Sehingga ibu kembali menyalahkan diri sendiri karena tak sanggup memenuhi keinginan.
Saya pun termasuk ke dalam ibu golongan ini. Setelah resign bekerja, yang saya pikirkan saat itu adalah membuat keluarga saya sesempurna mungkin. Sehingga semua yang baik-baik sudah menjadi target saya setelah menjadi ibu rumah tangga. Tetapi nyatanya apa? Saya kewalahan sendiri dan berujung stres.
5. Tidak Punya Tujuan
Banyak sekali ibu yang berpikiran bahwa satu-satunya tujuan hidupnya setelah melahirkan adalah membesarkan anak dan menjamin masa depan anak. Tidak ada lagi terbersit keinginan memiliki tujuan yang murni untuk diri ibu sendiri. Bahkan ibu rela meninggalkan semua mimpi besar yang sangat ingin diraih sebelumnya. Atau mungkin sudah berhasil diraih dan ibu bangga dengan itu, akhirnya rela dilepas tanpa adanya tujuan baru untuk masa depan ibu.
Bagaimana, penyebab nomor berapa yang paling relate atau pernah ibu alami? Kalau saya, semuanya. Ya, semua penyebab itu membuat saya nyaris gila. Menarik diri dari lingkungan karena takut dipandang rendah dan tidak percaya dengan kemampuan sendiri.
Lalu, bisakah ini diatasi? Bisa kalau ibu mau!
5 Tips Ala Saya agar Ibu Bangkit Dari Kehilangan Diri Sendiri
Hidup Tak Mesti Selalu Soal Anak
Anak memang nomor satu, semua orang tua pasti setuju. Namun menomorsatukan anak bukan berarti mendedikasikan seluruh daya dan waktu ibu hanya untuk mengurus anak. Misalnya yang paling sederhana adalah urusan kebutuhan dasar. Ibu tentu butuh waktu untuk makan, mandi, tidur atau mengambil jeda sejenak. Jelas, ibu perlu membagi waktu ini agar ada yang tersisa untuk kebutuhan pribadi tersebut. Jangan pernah menyalahkan diri ketika mengambil waktu menyeruput kopi sambil membaca buku ketika anak bermain dengan bonekanya. Selagi bisa menyeimbangkan, kenapa tidak?
Saya pun juga punya prinsip bahwa anak perlu mengetahui aktivitas ibunya sedini mungkin. Dari anak-anak masih bayi, saya sudah memperlihatkan aktivitas saya di depan mereka. Tidak perlu menunggu anak tidur untuk membereskan rumah. Lakukan di depan mereka, atau kalau bisa libatkan mereka. Jadi ketika ibu butuh waktu untuk me time atau mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka, anak sudah paham dan tak akan masalah dengan itu.
Cara memperkenalakan aktivitas saya kepada anak-anak sudah lebih dahulu saya ulas lengkap di artikel ini 👇🏻
Cara agar Anak Mengerti Aktivitas Ibunya
Temukan Tujuan Baru yang Masuk Akal
Bila salah satu penyebab ibu kehilangan diri adalah tidak adanya tujuan untuk ibu sendiri, maka solusinya jelas mencari tujuan tersebut. Bukan hanya sekadar mencari dan menemukan, namun harus berusaha mengejar. Dengan memiliki tujuan, ibu bisa mengaktualisasi diri dan itu otomatis akan meningkatkan kepercayaan diri. Mungkin bagi ibu bekerja, pekerjaannya sudah bisa menjadi bukti. Namun bagi ibu rumah tangga, ini penting agar tak lagi dipandang sebelah mata, bahkan dari pandangan Si Ibu sendiri.
Sedikit saja hal produktif yang dilakukan ibu di rumah selain mengurus anak dan keluarga, pasti akan dipandang lebih. Misalnya ibu yang suka bikin kue dan iseng menjualnya ke ibu-ibu komplek. Atau ibu yang masih sempat membuat konten di Instagram seputar parenting dan ternyata banyak yang suka. Bisa juga ibu hobi membuat kerajinan, lalu dijual secara online dan ternyata dapat menambah penghasilan. Bukankah ibu-ibu ini terlihat begitu membanggakan?
Baca juga: 5 Tahun Ngeblog, Dapat Apa?
Stop Berambisi Sempurna!
Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada pula hasil pekerjaan tangan manusia yang sempurna. Tak masalah bila sesekali rumah dibiarkan berantakan, sesekali ibu menyerah menyuapi anak yang sudah 3 hari mogok makan atau beli makanan jadi di luar bila tak sanggup memasak. Sah-sah saja dan tidak ada yang salah.
Berhenti menyalahkan diri sendiri ketika anak sakit, anak tiba-tiba bikin masalah di sekolah atau suami yang terpaksa menyetrika baju kerjanya sendiri karena ibu terlalu lelah begadang semalaman menyusui bayi. Itu wajar. Walau ada yang berkomentar negatif, biarkan saja. Yang paling tahu kondisi kita, ya kita sendiri.
Temukan Circle Positif
Lingkungan yang positif itu dicari, bukan datang sendiri. Ibu perlu memasang antena yang kuat untuk menangkap sinyal lingkungan yang mampu memberi energi positif. Mulai dari orang terdekat dulu. Bila tidak menemukan yang sesuai dengan harapan, baru cari ke lingkungan pertemanan dan sosial lainnya.
Cari tempat berkeluh kesah yang dipercaya dan dapat memberi respon dengan bijak. Tidak perlu banyak, satu saja cukup. Bergabung pula dengan komunitas-komunitas tertentu yang sesuai dengan kebutuhan, passion atau tujuan ibu. Semangat luar biasa selalu mengalir ketika berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan sama. Misal gabung komunitas parenting, komunitas memasak, komunitas craft atau seperti saya yang bergabung dengan komunitas bloger dan menulis.
Hindari Akar Permasalahan
Kalau saya, sering kali ada pemicu ketika tiba-tiba mood berubah. Maklum wanita, mood swing sudah menjadi bagian dari hidup ini (elah alasan). Ketika terjadi, saya akan mencari akar permaslaahannya di mana. Sejak kapan mood saya berubah, padahal sebelumnya oke-oke saja.
Contohnya ketika kepercayaan diri saya hilang setelah melihat unggahan teman-teman di media sosial tentang prestasi mereka, pekerjaan mereka atau liburan mereka. Padahal sama-sama berstatus ibu, kenapa cuma saya yang terjebak di rumah seperti ini dan tidak ada hal yang bisa dibanggakan? Unggahan di media sosial saya hanya anak, anak dan anak. Fix, berarti saya harus libur dulu membuka media sosial. Sudah tidak baik dampaknya bagi saya.
Pernah pula ketika lama sekali anak pertama saya sulit makan. Saya tertekan, sampai menjambak-jambak rambut, mencakar tangan sendiri dan berpikiran bahwa saya adalah ibu yang gagal. Ya, saya pernah di masa sulit ini. Akar permasalahannya jelas, anak saya tak mau makan. Selama weekend, saya meminta suami yang menyuapi anak dan untuk sementara saya tak mau tau soal itu. Bersyukurnya, mood kembali normal setelahnya. Malah cuma butuh sehari.
Percaya saja, ini semua akan terlewati. Tidak ada solusi yang paling tepat selain menjalaninya dan terus berupaya mencari cara agar masa-masa krisis identitas yang menjadikan ibu kehilangan jati dirinya ini dapat terlalui dengan dampak minimal.
Semangat untuk semua ibu.
Kita semua kuat, spesial dan luar biasa!
Semoga bermanfaat.
4 Alasan Kenapa Ibu Butuh Kesiapan Mental Sebelum Resign dan Jadi Ibu Rumah Tangga
Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan ibu sebelum resign dan menjadi ibu rumah tangga. Salah satu di antaranya adalah kesiapan mental. Nah, kesiapan mental ini sebenarnya adalah kunci menghadapi segala perubahan yang akan terjadi. Saya akui, kehidupan yang berubah drastis, rawan sekali mengganggu kesehatan mental ibu. Makanya tidak jarang ibu menyesali keputusan resign karena ternyata realita tak sesuai ekpektasi.
|
|
|
Gambar diolah dari foto freepik.com |
"Kenapa harus menyesal? Bukannya lebih santai dan bebannya lebih minim jika dibandingkan dengan bekerja? Toh, kita di rumah saja."
Ibu Rumah Tangga Kuliah Lagi, Buat Apa?
![]() |
| Foto : freepik.com |
Ibu rumah tangga memang tidak dituntut untuk berpendidikan tinggi, sehingga jika ada ibu rumah tangga yang memutuskan untuk kuliah lagi akan dianggap melakukan sesuatu yang tidak penting serta hanya membuang-buang waktu dan uang saja. Buat apa? Ijazahnya dipakai untuk apa? Gelarnya tidak akan digunakan untuk penyetaraan apapun, bukan? Kenapa harus susah-susah kuliah lagi?
“Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.”
Dian Sastrowardoyo - aktris, ibu rumah tangga, Master Manajemen Keuangan
Jika dilihat sekilas, ibu rumah tangga memang dianggap tidak membutuhkan gelar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tapi tahukah bahwa ibu bukan hanya berperan untuk urusan sumur, dapur dan kasur saja? Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, ibu adalah penenang dalam keluarga, ibu harus bisa memiliki pikiran yang rasional dan kemampuan pemecahan masalah yang baik, ibu harus bisa menjadi teman bicara suami, dan ibu juga berhak untuk mengembangkan diri untuk sukses. Semua itu tentunya membutuh dukungan ilmu yang salah satunya bisa didapat dari jalur pendidikan.
Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder, Ini Tipsnya!
***
Manfaat Ibu Rumah Tangga yang Memiliki Pendidikan Tinggi
![]() |
| Foto : freepik.com |
1 Mendapat Gelar
Setiap mahasiswa pasti mendapatkan title gelar setelah berhasil menyelesaikan studinya. Begitu pula dengan ibu rumah tangga, akan ada gelar tambahan dibelakang nama setelah lulus nanti. Meskipun tidak terpakai untuk melamar kerja dan naik jabatan, tapi dengan memiliki gelar menyiratkan makna yang lebih dari sekedar pencantuman saja. Ibu rumah tangga yang "bergelar" secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia adalah wanita berpendidikan, lebih cerdas, solutif dan berkelas. Mungkin saja dengan gelar tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian dan perlakuan orang lain dalam kehidupan bersosial.
2 Memperoleh Ilmu yang Benar-Benar Dibutuhkan
Ibu rumah tangga yang tidak terikat dengan pekerjaan, pasti lebih cenderung memilih jurusan yang benar-benar dibutuhkan di kehidupan atau yang dapat menunjang impiannya. Tidak masalah jika jurusan kuliah sebelumnya tidak sebidang dengan jurusan yang diinginkan, karena sudah banyak universitas yang menyediakan mata kuliah penyesuaian. Mungkin saat masih muda dulu menganggap kuliah adalah kewajiban yang harus dijalani, sehingga jurusan yang tempuh belum tentu sesuai passion. Setelah semakin dewasa, pengalaman hidup dan penilaian terhadap kebutuhan diri, pasar atau masyarakat bisa saja merubah pandangan terhadap jurusan yang benar-benar sesuai. Menjalani masa studi akan jauh lebih serius dan pastinya akan meningkatkan penyerapan ilmu saat belajar sehingga dapat mengembangkan diri dengan maksimal.
3 Mematangkan Pola Pikir
Selain gelar dan ilmu, kuliah sudah terbukti dapat mematangkan pola pikir lulusannya sehingga dapat melihat sebuah permasalahan dari sudut pandang yang tepat serta menemukan pemecahan masalah tersebut sesuai dengan ilmu yang didapatkan selama kuliah. Ini tentunya sangat berguna jika diterapkan dalam kehidupan keluarga. Ibu bisa lebih baik lagi dalam menyikapi permasalahan rumah tangga, permasalahan parenting, permasalahan keuangan dan berbagai permasalahan hidup lainnya. Ibu sebagai nadi keluarga tentunya membutuhkan pengelolaan emosi dan kemampuan pemecahan masalah yang baik. Dengan demikian, keharmonisan dan kestabilan kehidupan berkeluarga dapat terjaga serta kehidupan sosial yang berkualitas.
4 Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Jika selama ini kehidupan ibu rumah tangga selalu disangkutpautkan dengan wanita berdaster dan hanya bertugas mengurus urusan rumah, kenyataannya ibu rumah tangga juga bisa melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain, yaitu berpendidikan tinggi. Pemilik gelar sarjana atau pascasarjana pasti dipandang setingkat lebih tinggi, apalagi untuk seorang ibu rumah tangga. Pengakuan sosial ini akan meningkatkan kepercayaan diri ibu rumah tangga karena tidak dipandang "biasa" lagi. Ilmu dan pengembangan diri yang didapat selama kuliah pasti memberikan perubahan, mungkin dari cara berbicara, berpikir, bertindak atau memberikan solusi. Hal ini juga akan memudahkan ibu rumah tangga untuk berbaur dengan semua kalangan masyarakat sehingga keberadaannya lebih dihargai dan dihormati.
5 Mewujudkan Impian
Kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ditengah kesibukan mengurus keluarga pasti tidak akan disia-siakan begitu saja, sehingga masa studi akan dilalui dengan penuh keseriusan. Pemilihan jurusan untuk melanjutkan kuliah akan didasarkan kepada kebutuhan dan impian yang hendak dicapai. Bekal ilmu yang tepat ini akan memudahkan ibu rumah tangga dalam proses menggapai apa yang diinginkan. Misalnya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi agar dapat menjalankan bisnis yang telah direncanakan, jurusan Desain atau Tata Busana jika ingin mengejar cita-cita sebagai desainer atau Tata Boga jika ingin membuka usaha catering, cafe, restaurant, bakery dan sejenisnya. Jalan untuk mewujudkan impian akan terbuka dan kesempatan mewujudkannya menjadi lebih besar.
6 Membanggakan Keluarga
Orang lain saja memandang lebih akan gelar magister atau bahkan doktor yang dimiliki seorang ibu rumah tangga, apalagi keluarga yang memiliki hubungan erat dengan ibu, tentu saja memiliki kebanggaan tersendiri karena memiliki wanita spesial di tengah mereka. Ibu bisa menjadi teman bicara yang sepadan dengan suami atau dengan teman-teman seprofesinya. Anak-anak juga akan kagum dan bangga saat menceritakan ibu mereka kepada teman, guru atau siapapun disekitarnya. Secara tidak langsung, pendidikan tinggi ibu akan menanamkan semangat belajar dan keinginan untuk menggapai hal serupa seperti apa yang dimiliki ibu mereka.
7 Menambah Relasi
Meskipun bukan tujuan utama, memasuki kembali dunia pendidikan pasti membuka kesempatan untuk bertemu orang-orang baru. Program pascasarjana biasanya diisi oleh mahasiswa lintas generasi dengan usia yang bervariasi. Ditambah lagi dengan hadirnya dosen-dosen cerdas yang bisa ditanyakan banyak hal terkait studi yang diambil. Hubungan yang terbentuk ini sangat menguntungkan dalam upaya pegembangan diri ibu, seperti mencari tahu gaya hidup masa kini kepada kenalan yang masih berusia muda atau belajar banyak pengalaman bersama teman yang lebih tua. Seperti yang sudah sama-sama diketahui, relasi merupakan poin penting dalam melancarkan proses mewujudkan banyak hal, seperti untuk urusan administrasi, akses informasi, celah peluang dan sebagainya.
Baca juga : Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!
***
Ibu Penting Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sebelum Kuliah Lagi
![]() |
| Foto : freepik.com |
Diskusikan dengan Suami
Apapun yang dilakukam istri, sudah selayaknya harus didiskusikan terlebih dahulu dengan suami. Apalagi mengenai rencana kuliah yang bisa saja mempengaruhi kehidupan keluarga nantinya. Peran suami juga sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan, baik dari biaya, waktu, semangat atau berbagi sedikit tugas rumah tangga dan menjaga anak.
Kondisi Keluarga
Ibu adalah orang yang paling mengerti bagaimana kondisi keluarga. Masa kuliah pasti membutuhkan waktu untuk belajar, sehingga kondisi keluarga yang merupakan tanggung jawab utama ibu sangat menentukan kelancaran studi tersebut. Misalnya jika saat ini masih ada anak-anak yang membutuhkan kehadiran ibunya seharian penuh dan belum mandiri, sedangkan tidak ada orang lain yang bisa dititipkan, maka sudah pasti saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk kuliah. Menunggu beberapa tahun lagi bisa menjadi pilihan tepat meskipun butuh kesabaran dan keikhlasan untuk menundanya.
Biaya Kuliah
Kebutuhan hidup yang semakin mahal tentu membutuhkan pengelolaan keuangan yang tepat dalam rumah tangga. Pastikan keseluruhan biaya kuliah mulai dari uang pangkal, uang semester atau uang-uang lainnya tidak mengorbankan kebutuhan pokok keluarga seperti makanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Jika butuh waktu untuk menabung, lebih baik menunda sebentar waktu kuliah agar tidak menyusahkan dan berujung masalah kedepannya.
Metode atau Waktu Kuliah yang Paling Memunginkan
Sebelum memutuskan universitas mana yang akan dipilih, tentukan dulu ketersediaan waktu yang dimiliki. Apakah bisa untuk mengikuti kuliah tatap muka pagi, malam atau kuliah daring yang tidak terikat tempat dan waktu. Jika bisa menitipkan anak sementara kepada orang yang dipercaya, maka kuliah tatap muka bisa dipilih sesuai dengan ketersediaan waktu yang paling memungkinkan. Tapi jika ibu tidak bisa meninggalkan rumah dan tidak bisa memastikan kapan waktu yang bisa diluangkan untuk kuliah, maka metode kuliah daring akan sangat membantu.
Universitas
Memilih universitas untuk melanjutkan kuliah lagi mungkin menjadi sebuah pilihan sulit bagi seorang ibu rumah tangga. Banyak batasan dan kriteria yang harus disesuaikan dengan tugas mengurus rumah dan anak. Pastikan universitas yang dipilih sesuai dengan anggaran dana yang dimiliki, pilihan metode dan waktu kuliah yang bisa diikuti serta lokasinya yang tidak terlalu sulit dijangkau. Pastikan pula akreditasi resmi dari jurusan dan universitas pilihan, karena bagaimanapun akreditasi merupakan parameter penting sebagai bukti diakuinya instansi pendidikan tersebut serta kualitas dan keunggulannya.
Baca juga : Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga Juga Ada Ilmunya, lo! Yuk, Simak 8 Tips Berikut
***
Status yang sudah berbeda pasti sedikit-banyaknya mempengaruhi pemilihan universitas, waktu kuliah atau metode belajar. Mungkin akan ada beberapa pengorbanan untuk menekan sedikit ambisi diri karena sudah ada tanggung jawab wajib yang diemban selain kuliah. Misalnya jika keinginan hati ingin kuliah di kampus terbaik, ternyata tidak tersedia program kuliah secara daring dan hanya ada jam kuliah pagi, maka ibu sebaiknya menurunkan ego agar tidak memaksakan diri kuliah disana jika tidak bisa meninggalkan anak direntang waktu tersebut. Contoh lainnya juga biasa terjadi dalam menyesuaikan biaya kuliah dengan keuangan keluarga atau lokasi universitas. Makanya ibu sangat penting sekali untuk benar-benar merencanakan dan membicarakan tentang melanjutkan kuliah ini dengan suami atau anak jika sudah bisa diajak berdiskusi.
Ibu rumah tangga bukanlah wanita yang terbelenggu dengan urusan rumah, namun ibu rumah tangga juga berhak melakukan apa saja yang diinginkan asalkan masih bermakna positif dan tidak mengganggu kewajiban utamannya sebagai pengurus pekerjaan domestik rumah tangga.
Meskipun jalan yang dilalui lebih menantang dan kesibukan menjadi berlipat ganda, pada akhirnya perjuangan dan pengorbanan ibu selama menjalankan studi akan banyak memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan mungkin nanti untuk lingkungan sekitar secara lebih luas.
Semoga bermanfaat.
Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!
Bukannya tidak mampu membayar Asisten Rumah Tangga (ART) untuk membantu, tapi aku pribadi merasa kurang nyaman jika ada orang lain yang bukan saudara tinggal bersama di rumah kecil ini. Apalagi banyak kelakuan ART yang harus dihadapi. Aku pernah mencoba mempekerjakan 2 orang ART sebelum ini, bukannya banyak membantu, malah menambah masalah baru.
Semua hal dalam hidup ini perlu pengaturan yang tepat dari segi cara dan waktu, termasuk mengerjakan seluruh urusan domestik keluarga. Profesionalitas bahasa kerennya.
Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder. Ini Tipsnya!
________________
Anak satu saja sudah membuat sibuk, apalagi dua?
🌸 Membersihkan rumah cukup sekali sehari atau jika sudah terlalu mengganggu dan urgent
🌸 Belanja kebutuhan cukup 1 kali seminggu
Kenapa aku melakukannya 1 kali dalam seminggu? Karena terlalu memusingkan untuk mengingat begitu banyaknya keperluan rumah tangga untuk 1 bulan. Jadi sekalian saja habis belanja sayur, mampir ke mini market.
🌸 Masak cukup 1 kali sehari dengan 1 menu atau maksimal 2 menu sederhana
Baca juga : 3 Resep Olahan Daging Sederhana dan Enak untuk Keluarga
🌸 Tidak wajib setrika baju rumah
🌸 Mencuci baju dalam satu waktu sampai keranjang benar-benar kosong
🌸 Menyikat kamar mandi setiap kali mandi
🌸 Kondisikan anak saat sibuk
Baca juga : Tips Mendapatkan Dampak Positif Gadget untuk Tumbuh Kembang Anak
🌸 Makan, mandi dan tidur di satu waktu
Baca Juga : 5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Tidur Siang
Penting!
Jangan lupa sisakan waktu me time, mengembangkan diri dan bersosialisasi
Baca juga : Anak Tidak Butuh Ibu yang Sempurna tapi Ia Butuh Ibu yang Bahagia
Profesi yang Diambil Alih Ibu Selama Pandemi Corona
![]() |
| Source : freepik.com |
Pandemi Corona telah memberikan perubahan besar pada aktifitas harian kita. Biasanya pagi-pagi bergegas berangkat kerja, sekarang disuruh Work from Home atau bekerja dari rumah saja. Dulu setiap akhir pekan selalu jalan-jalan dan liburan, sekarang harus di rumah menghabiskan waktu bersama. Bosan? Sudah pasti, itu manusiawi. Tapi jangan sampai mengeluh atau malah bandel keluar rumah dan melanggar aturan pemerintah. Bahayanya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi keluarga dan orang lain juga.
Wanita Berdaster Jangan Minder. Ini Tipsnya!
Peran mulia sebagai ibu rumah tangga masih sering dianggap remeh oleh sebagin orang. Adanya dua kubu yang membagi kehidupan seorang ibu, yaitu ibu bekerja dan ibu rumah tangga, selalu saja memancing pro-kontra di tengah masyarakat. Ibu rumah tangga tetaplah menjadi kubu dominan yang menerima perlakuan tidak menyenangkan karena dianggap lebih rendah dan tidak bisa apa-apa. Sedihnya, sesama ibu yang sudah paham betul betapa rumitnya mengurus rumah, ternyata masih ada yang menjadi pelaku diskriminasi ini.



















