Showing posts with label Moms Life. Show all posts

Pentingnya Personal Branding untuk Ibu Rumah Tangga Produktif

2 comments

Saya mau sedikit cerita dan ini terjadi saat kumpul keluarga di momen lebaran kemarin. Saya tidak menyangka bahwa personal branding yang saya upayakan selama ini, melalui berbagai media, membuahkan satu peluang penawaran yang cukup besar bagi saya, yaitu mengisi satu sesi kelas yang pesertanya karyawan perempuan dari Bank Indonesia.


Pentingnya Personal Branding untuk Ibu Rumah Tangga Produktif

Ibu Rumah Tangga Merintis Bisnis? Ini 4 Hal yang Bisa dilakukan

No comments
Di zaman digital sekarang ini, peluang untuk sukses itu tidak terikat pada mereka yang punya waktu dan kebebasan lebih untuk mengembangkan diri saja. Bahkan dari sepetak ruangan, di segala sisinya berbatas tembok, di mana ibu rumah tangga berjibaku dengan aktivitasnya setiap hari, sangat terbuka jalan untuk merintis bisnis tanpa harus dipaksa ke mana-mana. 

Ibu Rumah Tangga Merintis Bisnis

Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja, Adakah yang Lebih Baik?

No comments

Meski sudah 7 tahun resign, baru beberapa hari lalu, saya masih juga dibanding-bandingkan dengan ibu bekerja. Menganggap bahwa di rumah itu penuh dengan leha-leha dan santai-santai. Mau menjawab, tapi sudah terlalu basi. Saya lelah menjelaskan bahwa pekerjaan ibu rumah tangga sama saja sibuknya dengan ibu bekerja. Pro dan kontra akan kedua pilihan ibu-ibu ini tak kunjung terlepas dari stigma.


Ibu rumah tangga atau ibu bekerja

Ibu Tak Perlu Pusing Cari Daun Katuk, 9 Superfood ASI Booster Ada Di Proudmeal!

No comments
"Rajin-rajin makan daun katuk. Di sayur bening aja, biar gampang."
Itu pesan mama saya ketika beliau akan kembali ke Padang, setelah menemani saya pasca melahirkan anak pertama di Jakarta. Tentu saja langsung saya iyakan, karena daun katuk memang terbukti ampuh meningkatkan produksi ASI. 

ASI booster Proudmeal

Ketika Perempuan Bertoga Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga

4 comments
Keinginan saya semasa muda sedikit anti mainstream. Mengidamkan kehidupan masa depan sebagai ibu rumah tangga. Saya ingin membesarkan anak-anak sendiri dan mengurus rumah tangga. Entah kenapa, membayangkannya saja menentramkan. 

Tentu saja saat itu hanya sebatas bayangan. Mana mungkin toga yang capek-capek saya dapatkan dan harapan orang tua yang tertanam di baliknya, diabaikan. Wanita karier tetaplah menjadi tujuan utama. 

Ibu rumah tangga sarjana

Namun, siapa sangka takdir mewujudkan impian itu bertahun-tahun setelahnya. Padahal tidak pernah terbersit akan resign dari pekerjaan yang saya emban, yaitu PNS di salah satu instansi pemerintah pusat. Siapa yang rela meninggalkan status tersebut? Jangankan orang di sekeliling saya, saya pun berat. 

Takdir tetap memiliki kekuatan terdahsyat. Nyatanya sekarang, saya benar-benar menjadi ibu rumah tangga.
 
Sayangnya, respon yang saya terima rupanya lebih dari apa yang diduga. Ibu rumah tangga masih lekat dengan stigma. Sejuta stigma, di antara hitungan jari dukungan. Selalu disangkut pautkan dengan toga yang pernah melekat di kepala. Mau di bawa ke mana ijazahnya?



Ibu Bertoga, Mengasuh dengan Ilmu

Saya percaya, pendidikan bukan semata-mata memperoleh nilai, ijazah, lalu syarat mendapat kerja. Tapi ada perubahan pola pikir di sepanjang proses pendidikan tersebut. Kalau boleh berpendapat, justru inilah yang paling penting. Sukses atau tidaknya pendidikan yang ditempuh, ditandai dengan seberapa baik perubahan pola pikir peserta didiknya setelah selesai. Bukankah begitu?

Pola pikir inilah yang akan dibawa para ibu sarjana dalam mencetak generasi baru. Pengasuhan yang diterapkan jelas akan berbeda. 

Tidak mudah menjadi orang tua. Bukan sekadar melahirkan, lalu membesarkan. Namun juga tentang bagaimana menjamin kepribadian anak agar menjadi pribadi yang unggul.

Mengasuh tidak bisa mendengar kata-kata orang dulu, atau berdasar terjangan sekian banyak saran yang mungkin saja tidak cocok diterapkan untuk semua anak. Pola pikir ibu yang sudah terbekali, tidak akan asal terima dengan ini-itu soal pengasuhan. Perlu banyak pertimbangan sebelum menerapkan pola asuh tertentu. Tidak peduli sebanyak apa orang tua yang menganggap benar satu pola pengasuhan, bila ternyata setelah dibaca berbagai referensi pakar dan menyesuaikan kondisi, kalau ternyata tidak sesuai, tidak masalah bila menjadi berbeda. 

Bukan hanya soal anak, menjaga diri ibu sendiri selama menjalani proses pengasuhan pun tak akan luput dari perhatian. Ibu pasti sadar bahwa keadaannya adalah penentu keberhasilan mengasuh anak-anak. Jadi, bagaimanapun caranya, ibu akan berusaha mengontrol diri ketika ada masalah agar anak tak menerima imbasnya. Sulit? Tentu saja. Sekali lagi saya percaya, ibu yang mengantongi ijazah, akan mencari solusi  terbaik. Menjalaninya dengan baik sampai keadaan membaik.


Ada sepenggal perkataan seorang content creator muda yang saya sudah lupa namanya, namun masih terasa dampak luar biasa dari pendapatnya.
"Untuk menjadi guru atau dosen saja, butuh gelar S1, S2, hingga S3. Itu hanya mendidik anak beberapa jam saja dalam sehari.
Apa kabar dengan ibu rumah tangga, yang sepanjang waktu tak pernah lelah membersamai, merawat, mengasuh dan juga mendidik anak-anaknya? Bahkan gelar sampai S10 pun mungkin tak akan cukup! Begitu hebatnya mereka."

Haruskan kita, para ibu rumah tangga, merasa insecure
Ah, rasanya saya sudah melewati masa-masa meremehkan diri sendiri itu. Tidak ada satu alasan pun yang pantas membuat kita insecure, ketika beberapa pihak memandang betapa luar biasanya peran kita. 


Ibu Bertoga, Tak akan Menyiakan Ijazahnya

Saya punya beberapa teman yang juga berhenti bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Berbeda alasannya, namun tetap pada akhirnya profesi kami semua sama, yaitu ibu rumah tangga. Ada yang awalnya sama-sama PNS, ada juga yang karyawan tetap BUMN dan perusahaan swasta ternama. 

Setelah resign, nyaris semua dari ibu-ibu sarjana ini tak menyia-nyiakan ilmu dan ijazah mereka. Setidaknya dari lingkungan yang saya kenali. Ada yang sukses membuka usaha makanan, membuka usaha online, menjadi content creator, freelance atau blogger seperti saya. Meski tak dipungkiri juga, ada yang begitu fokus dengan anak, sehingga begitu cerdas mereka. Yang jelas, meski di rumah, akan ada kecenderungan untuk terus berlaku produktif. 

Bagi saya, besar atau kecil hasil dari produktivitas ini hanya masalah waktu.

Jangan dikira ibu rumah tangga memiliki waktu berlimpah, seperti yang selama ini sering dibayangkan. Justru di sinilah kehebatannya, disamping padatnya rutinitas rumah tangga dan mengasuh, masih menyempatkan diri untuk berkembang dan belajar. Apalagi di era digital sekarang, kesempatam emas berlimpah bagi ibu rumah tangga untuk mengembangkan diri.

Bukankan sering kita dengar cerita kesuksesan ibu rumah tangga, yang bahkan dengan upayanya bisa membuka lapangan kerja baru dan menghidupi banyak keluarga? Ambil saja salah satu contohnya Sambal Bu Rudy khas Surabaya. Beliau juga memulai usahanya dari kehidupan ibu rumah tangga. 

Ijazah itu tak pernah benar-benar terlupakan. Bukti serapan ilmu dan perubahan pola pikir dalam proses mendapatkannya, tersalurkan melalui produktifitas, meski hanya dari rumah. Jangan salah, sudah belajar kan dari pandemi? Dari rumah pun bisa melakukan banyak hal. Tidak mesti ke mana-mana untuk menandakan seseorang itu bekerja.


Ibu Bertoga, Tutup Celah Stigma

Rasanya basi membahas stigma apa saja yang diterima ibu rumah tangga, karena sudah jelas dan sudah menjadi konsumsi lumrah. Saking lumrahnya, dianggap biasa ketika mengatakan kalau ibu rumah tangga tak bisa apa-apa. Jujur, dari sekian banyak kalimat kontra yang pernah saya terima setelah resign, dianggap tidak bisa apa-apa adalah yang paling meningkatkan adrenalin. Seketika semangat untuk menutup celah stigma tersebut mencuat. "Suatu saat nanti, saya akan membalasnya dengan prestasi. Sekecil apa pun prestasinya. Agar tak ada lagi stigma"

Tidak ada cara yang lebih tepat membantah stigma, selain dengan memperlihatkan bahwa stigma tersebut keliru, yaitu dengan prestasi. Percuma berdebat, tak akan mengena. Bila stigma tersebut menganggap ibu rumah tangga tidak bisa apa-apa, membalasnya jelas dengan memperlihatkan produktifitas dan karya. Kalau dibilang ibu rumah tangga tidak bisa berpenghasilan, cara mematahkannya jelas dengan berupaya untuk meraih penghasilan meski dari rumah. Toh, itu bukan hal yang mustahil 'kan? 

Saya yakin, ibu-ibu rumah tangga yang pernah menyicip toga, bahkan mungkin bukan sekali, ada yang berkali-kali, tidak perlu termakan stigma. Hanya perlu buktikan bahwa kita berbeda.

Walau di rumah saja membersamai anak-anak, serta mengurus keluarga, bukan berarti langkah kita berhenti di situ, mati di situ. Kesuksesan banyak caranya, banyak jalannya dan banyak wujudnya.

***


Saya ibu rumah tangga yang sudah dua kali mengenakan toga, tidak akan pernah berhenti menyia-nyiakan apa yang saya punya. Saya bangga dengan status saya yang sekarang dan akan selalu merasa hebat bisa sebebas ini mengembangkan diri dengan terus berada di samping anak-anak. 

Sungguh, saya bangga. Tak peduli lagi apa yang orang kata. 

Ibu Kehilangan Jati Diri, Bisakah Diatasi?

2 comments

Saya bahagia di momen pertama status ibu tersemat. Kehidupan baru bayi mungil itu memberi kehidupan baru pula bagi saya, wanita beruntung yang melahirkannya. 


Namun siapa sangka, tak beberapa lama setelahnya, saya malah kelihangan semua yang telah susah payah dibangun, yaitu jati diri saya!


Ibu kehilangan jati diri

Status ibu menjadi beban baru yang nyaris membuat saya tak mampu lagi hidup dengan sehat, baik fisik maupun psikis. Saya bagai kehilangan impian, semangat, kepercayaan diri, ambisi, pergaulan, serta keinginan mengembangkan diri yang saya tahu bahwa semua itu adalah segala hal yang "saya banget" sebelumnya. 

Saya pernah berasa di titik ini. 


Ah, kamu hanya tidak pandai bersyukur. Jadi ibu ya begitu, mana ada waktu lagi untuk diri sendiri. 

Ah, kamu lebay. Yang jadi ibu bukan cuma kamu. Lihat tuh ibu lain biasa saja.

Ah, kamu terbiasa manja. Sekarang giliran ada anak yang harus diasuh, jadinya stres.


Itu yang saya dengar. Kehilangan jati diri itu pun bertambah dengan kehilangan dukungan. 


Sulitkah? Tentu!

Kehidupan ibu yang saya bayangkan penuh tawa, yang terjadi malah sebaliknya. Mungkin bagi yang tak pernah merasakan, cerita saya ini wajar dianggap berlebihan. Tetapi bagi saya dan ibu-ibu lain yang mengalami, ketidaknyamanannya cukup membuat hidup tak karuan. Bahkan untuk bangun tidur pun enggan.



Saya Bukan Satu-satunya yang Mengalami Krisis Identitas Setelah Jadi Ibu, Apa Penyebabnya?

Krisis identitas ibu

Sadar ada yang berbeda dengan diri saya setelah menjadi ibu, berbagai sumber referensi saya baca. Ternyata banyak sekali website populer yang membahas. Bahkan, mengutip artikel rilisan situs berita Detik,  52% wanita kehilangan jati diri setelah menjadi ibu, menurut survey terbaru dari Nurofen for Children. Lebih dari setengahnya!


Krisis identitas nama lainnya. Ketika seseorang mulai sering mempertanyakan "Siapa saya sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa yang bisa saya lakukan dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain? Apa guna saya hidup?" dan sebagainya. 

Ketika mengalaminya, ada perasaan takut, cemas dan meragukan makna dari kehidupan. Berlanjut menjadi stres atau bahkan depresi karena putuz asa dan menganggap diri tak lagi berharga. 


Ya, itu saya! Saya yang beberapa tahun lalu menganggap diri tak mampu. Padahal sebelum menjadi ibu, saya bukanlah tipe orang yang mudah merasa rendah diri. 


Terbukti bukan menjadi satu-satunya, saya mulai mempelajari kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. 


Perlu diketahui bahwa beberapa hal yang lekat dengan kehidupan ibu berikut ini adalah penyebab kenapa ibu bisa kehilangan jati diri. Bahkan beberapa di antaranya disebabkan oleh pemikiran Sang Ibu sendiri.


1. Perubahan Mendadak

Dalam sekejap, semua berubah. Sebelumnya bebas melakukan apa saja, sekarang sudah ada buntutnya. Sesingkat itu tanggung jawab baru hadir. Waktu dan energi yang dimiliki, habis tanpa sisa untuk mengasuh bayi yang baru lahir. Ibu baru pasti mengerti sekali bagaimana rasanya. Apalagi tidak ada pengasuh, ART atau keluarga yang membantu. 


2. Sulit Mencari Waktu untuk Diri Sendiri

Saking sibuknya mengurus anak dan melakukan aktivitas lain yang tak mungkin ditinggalkan, seperti mengurus rumah atau tugas kantor bila ibu bekerja, waktu untuk diri sendiri pun tak lagi ada. Bahkan untuk mandi saja, ibu tak bisa memastikan bersih atau tidaknya. Viral ibu minum kopi hangat yang sudah dingin saking lamanya dibiarkan, atau ibu yang terpaksa makan mie rebus mengembang dan kuahnya mengering karena kelupaan, itu bukanlah sekadar lawakan, tapi kenyataan.


3. Merasa Diabaikan

Sudah tidak punya waktu untuk diri sendiri, jarang pula diperhatikan. Bagaimana ibu tidak semakin down? Ada dua kemungkinan dalam hal ini.


Pertama, sebenarnya tidak ada yang berubah dari orang-orang di sekitar ibu. Suami masih sama, keluarga sama, teman-teman pun sama. Tapi karena ibu sudah tidak lagi baik-baik saja karena mulai terbebani dengan beratnya tanggung jawab menjadi ibu, kesan seolah-oleah terabaikan itu semakin jadi. Kok tidak ada yang bertanya saya bagaimana, saya sedang apa atau apakah ada masalah hari ini. Sedangkan ibu sungkan bercerita dan selalu tampak tegar. Jadi tidak ada yang tahu perasaan ibu sebenarnya.


Kedua, ibu sudah cerita tapi dianggap cengeng, manja atau mendapat respon tak sesuai harapan lainnya. Stigma di masyarakat masih begitu kental tentang sosok ibu yang kuat dan tahan banting. Sehingga tak jarang ketika ibu berusaha mencari tempat berbagi, malah disalahkan. Ibu yang sehatusnya butuh dukungan, malah berbalik ikut menyalahkan diri sendiri kenapa bisa selemah ini. 


4. Menuntut Kesempurnaan

Tidak selamanya stigma masyarakat yang membuat ibu terpaksa tampil sempurna, namun tak sedikit pula ambisi untuk sempurna itu murni atas keinginan ibu sendiri. Oh, bagaimanapun rumah saya harus selalu rapi, anak saya harus selalu sehat, saya harus bisa langsing lagi dan tetap terlihat menawan biar suami tetap cinta, saya harus mampu bla bla bla. Namun setelah dijalani, mewujudkan semuanya ternyata tak semudah membayangkannya. Sehingga ibu kembali menyalahkan diri sendiri karena tak sanggup memenuhi keinginan. 


Saya pun termasuk ke dalam ibu golongan ini. Setelah resign bekerja, yang saya pikirkan saat itu adalah membuat keluarga saya sesempurna mungkin. Sehingga semua yang baik-baik sudah menjadi target saya setelah menjadi ibu rumah tangga. Tetapi nyatanya apa? Saya kewalahan sendiri dan berujung stres.


5. Tidak Punya Tujuan

Banyak sekali ibu yang berpikiran bahwa satu-satunya tujuan hidupnya setelah melahirkan adalah membesarkan anak dan menjamin masa depan anak. Tidak ada lagi terbersit keinginan memiliki tujuan yang murni untuk diri ibu sendiri. Bahkan ibu rela meninggalkan semua mimpi besar yang sangat ingin diraih sebelumnya. Atau mungkin sudah berhasil diraih dan ibu bangga dengan itu, akhirnya rela dilepas tanpa adanya tujuan baru untuk masa depan ibu. 


Bagaimana, penyebab nomor berapa yang paling relate atau pernah ibu alami? Kalau saya, semuanya. Ya, semua penyebab itu membuat saya nyaris gila. Menarik diri dari lingkungan karena takut dipandang rendah dan tidak percaya dengan kemampuan sendiri. 


Lalu, bisakah ini diatasi? Bisa kalau ibu mau!



5 Tips Ala Saya agar Ibu Bangkit Dari Kehilangan Diri Sendiri

Cara mengatasi krisis identitas

Alhamdulillah sekarang semuanya sudah berlalu. Kini saya sudah percaya lagi dengan kemampuan diri, ada tujuan yang hendak dikejar, berani membuka diri dengan lingkungan baru, serta hal positif lain yang ada pada diri saya saat masih mudah pun telah kembali. Meski butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan, beberapa cara berikut adalah upaya yang saya lakukan untuk mengatasi krisis identitas yang sempat dialami.


Hidup Tak Mesti Selalu Soal Anak

Anak memang nomor satu, semua orang tua pasti setuju. Namun menomorsatukan anak bukan berarti mendedikasikan seluruh daya dan waktu ibu hanya untuk mengurus anak. Misalnya yang paling sederhana adalah urusan kebutuhan dasar. Ibu tentu butuh waktu untuk makan, mandi, tidur atau mengambil jeda sejenak. Jelas, ibu perlu membagi waktu ini agar ada yang tersisa untuk kebutuhan pribadi tersebut. Jangan pernah menyalahkan diri ketika mengambil waktu menyeruput kopi sambil membaca buku ketika anak bermain dengan bonekanya. Selagi bisa menyeimbangkan, kenapa tidak? 


Saya pun juga punya prinsip bahwa anak perlu mengetahui aktivitas ibunya sedini mungkin. Dari anak-anak masih bayi, saya sudah memperlihatkan aktivitas saya di depan mereka. Tidak perlu menunggu anak tidur untuk membereskan rumah. Lakukan di depan mereka, atau kalau bisa libatkan mereka. Jadi  ketika ibu butuh waktu untuk me time atau mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka, anak sudah paham dan tak akan masalah dengan itu.  


Cara memperkenalakan aktivitas saya kepada anak-anak sudah lebih dahulu saya ulas lengkap di artikel ini 👇🏻

Cara agar Anak Mengerti Aktivitas Ibunya


Temukan Tujuan Baru yang Masuk Akal

Bila salah satu penyebab ibu kehilangan diri adalah tidak adanya tujuan untuk ibu sendiri, maka solusinya jelas mencari tujuan tersebut. Bukan hanya sekadar mencari dan menemukan, namun harus berusaha mengejar. Dengan memiliki tujuan, ibu bisa mengaktualisasi diri dan itu otomatis akan meningkatkan kepercayaan diri. Mungkin bagi ibu bekerja, pekerjaannya sudah bisa menjadi bukti. Namun bagi ibu rumah tangga, ini penting agar tak lagi dipandang sebelah mata, bahkan dari pandangan Si Ibu sendiri.


Sedikit saja hal produktif yang dilakukan ibu di rumah selain mengurus anak dan keluarga, pasti akan dipandang lebih. Misalnya ibu yang suka bikin kue dan iseng menjualnya ke ibu-ibu komplek. Atau ibu yang masih sempat membuat konten di Instagram seputar parenting dan ternyata banyak yang suka. Bisa juga ibu hobi membuat kerajinan, lalu dijual secara online dan ternyata dapat menambah penghasilan. Bukankah ibu-ibu ini terlihat begitu membanggakan? 


Baca juga: 5 Tahun Ngeblog, Dapat Apa?


Stop Berambisi Sempurna!

Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada pula hasil pekerjaan tangan manusia yang sempurna. Tak masalah bila sesekali rumah dibiarkan berantakan, sesekali ibu menyerah menyuapi anak yang sudah 3 hari mogok makan atau beli makanan jadi di luar bila tak sanggup memasak. Sah-sah saja dan tidak ada yang salah.


Berhenti menyalahkan diri sendiri ketika anak sakit, anak tiba-tiba bikin masalah di sekolah atau suami yang terpaksa menyetrika baju kerjanya sendiri karena ibu terlalu lelah begadang semalaman menyusui bayi. Itu wajar. Walau ada yang berkomentar negatif, biarkan saja. Yang paling tahu kondisi kita, ya kita sendiri. 


Temukan Circle Positif

Lingkungan yang positif itu dicari, bukan datang sendiri. Ibu perlu memasang antena yang kuat untuk menangkap sinyal lingkungan yang mampu memberi energi positif. Mulai dari orang terdekat dulu. Bila tidak menemukan yang sesuai dengan harapan, baru cari ke lingkungan pertemanan dan sosial lainnya.


Cari tempat berkeluh kesah yang dipercaya dan dapat memberi respon dengan bijak. Tidak perlu banyak, satu saja cukup. Bergabung pula dengan komunitas-komunitas tertentu yang sesuai dengan kebutuhan, passion atau tujuan ibu. Semangat luar biasa selalu mengalir ketika berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan sama. Misal gabung komunitas parenting, komunitas memasak, komunitas craft atau seperti saya yang bergabung dengan komunitas bloger dan menulis.


Hindari Akar Permasalahan

Kalau saya, sering kali ada pemicu ketika tiba-tiba mood berubah. Maklum wanita, mood swing sudah menjadi bagian dari hidup ini (elah alasan). Ketika terjadi, saya akan mencari akar permaslaahannya di mana. Sejak kapan mood saya berubah, padahal sebelumnya oke-oke saja.


Contohnya ketika kepercayaan diri saya hilang setelah melihat unggahan teman-teman di media sosial tentang prestasi mereka, pekerjaan mereka atau liburan mereka. Padahal sama-sama berstatus ibu, kenapa cuma saya yang terjebak di rumah seperti ini dan tidak ada hal yang bisa dibanggakan? Unggahan di media sosial saya hanya anak, anak dan anak. Fix, berarti saya harus libur dulu membuka media sosial. Sudah tidak baik dampaknya bagi saya.


Pernah pula ketika lama sekali anak pertama saya sulit makan. Saya tertekan, sampai menjambak-jambak rambut, mencakar tangan sendiri dan berpikiran bahwa saya adalah ibu yang gagal. Ya, saya pernah di masa sulit ini. Akar permasalahannya jelas, anak saya tak mau makan. Selama weekend, saya meminta suami yang menyuapi anak dan untuk sementara saya tak mau tau soal itu. Bersyukurnya, mood kembali normal setelahnya. Malah cuma butuh sehari. 


Percaya saja, ini semua akan terlewati. Tidak ada solusi yang paling tepat selain menjalaninya dan terus berupaya mencari cara agar masa-masa krisis identitas yang menjadikan ibu kehilangan jati dirinya ini dapat terlalui dengan dampak minimal. 


Semangat untuk semua ibu.

Kita semua kuat, spesial dan luar biasa!

Semoga bermanfaat.

4 Alasan Kenapa Ibu Butuh Kesiapan Mental Sebelum Resign dan Jadi Ibu Rumah Tangga

No comments

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan ibu sebelum resign dan menjadi ibu rumah tangga. Salah satu di antaranya adalah kesiapan mental. Nah, kesiapan mental ini sebenarnya adalah kunci menghadapi segala perubahan yang akan terjadi. Saya akui, kehidupan yang berubah drastis, rawan sekali mengganggu kesehatan mental ibu. Makanya tidak jarang ibu menyesali keputusan resign karena ternyata realita tak sesuai ekpektasi. 


Ibu Resign
Gambar diolah dari foto freepik.com

"Kenapa harus menyesal? Bukannya lebih santai dan bebannya lebih minim jika dibandingkan dengan bekerja? Toh, kita di rumah saja."

Ibu Rumah Tangga Kuliah Lagi, Buat Apa?

20 comments

Foto : freepik.com

Ibu bekerja yang lanjut kuliah S-2 pasti dianggap biasa. Tapi bagaimana jika seorang ibu rumah tangga yang melanjutkan studinya ke program magister? Apakah penilaiannya masih sama?


Ibu rumah tangga memang tidak dituntut untuk berpendidikan tinggi, sehingga jika ada ibu rumah tangga yang memutuskan untuk kuliah lagi akan dianggap melakukan sesuatu yang tidak penting serta hanya membuang-buang waktu dan uang saja. Buat apa? Ijazahnya dipakai untuk apa? Gelarnya tidak akan digunakan untuk penyetaraan apapun, bukan? Kenapa harus susah-susah kuliah lagi?


Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.

Dian Sastrowardoyo - aktris, ibu rumah tangga, Master Manajemen Keuangan


Jika dilihat sekilas, ibu rumah tangga memang dianggap tidak membutuhkan gelar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tapi tahukah bahwa ibu bukan hanya berperan untuk urusan sumur, dapur dan kasur saja? Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, ibu adalah penenang dalam keluarga, ibu harus bisa memiliki pikiran yang rasional dan kemampuan pemecahan masalah yang baik, ibu harus bisa menjadi teman bicara suami, dan ibu juga berhak untuk mengembangkan diri untuk sukses. Semua itu tentunya membutuh dukungan ilmu yang salah satunya bisa didapat dari jalur pendidikan.


Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder, Ini Tipsnya!


***


Manfaat Ibu Rumah Tangga yang Memiliki Pendidikan Tinggi

Foto : freepik.com

Tidak ada salahnya saat seorang ibu rumah tangga memutuskan untuk kuliah lagi. Jika bisa membagi waktu dengan baik, tidak melupakan tugas utamanya mengurus keluarga, maka dengan kuliah akan banyak manfaat yang dirasa. Tidak hanya bagi si ibu itu sendiri, namun bisa berpengaruh positif pula bagi keluarga. Apapun alasan yang melatarbelakanginya, berikut 7 manfaat yang akan didapat jika ibu rumah tangga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dijamin nggak bakalan rugi!


Mendapat Gelar

Setiap mahasiswa pasti mendapatkan title gelar setelah berhasil menyelesaikan studinya. Begitu pula dengan ibu rumah tangga, akan ada gelar tambahan dibelakang nama setelah lulus nanti. Meskipun tidak terpakai untuk melamar kerja dan naik jabatan, tapi dengan memiliki gelar menyiratkan makna yang lebih dari sekedar pencantuman saja. Ibu rumah tangga yang "bergelar" secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia adalah wanita berpendidikan, lebih cerdas, solutif dan berkelas. Mungkin saja dengan gelar tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian dan perlakuan orang lain dalam kehidupan bersosial.


2 Memperoleh Ilmu yang Benar-Benar Dibutuhkan

Ibu rumah tangga yang tidak terikat dengan pekerjaan, pasti lebih cenderung memilih jurusan yang benar-benar dibutuhkan di kehidupan atau yang dapat menunjang impiannya. Tidak masalah jika jurusan kuliah sebelumnya tidak sebidang dengan jurusan yang diinginkan, karena sudah banyak universitas yang menyediakan mata kuliah penyesuaian. Mungkin saat masih muda dulu menganggap kuliah adalah kewajiban yang harus dijalani, sehingga jurusan yang tempuh belum tentu sesuai passion. Setelah semakin dewasa, pengalaman hidup dan penilaian terhadap kebutuhan diri, pasar atau masyarakat bisa saja merubah pandangan terhadap jurusan yang benar-benar sesuai. Menjalani masa studi akan jauh lebih serius dan pastinya akan meningkatkan penyerapan ilmu saat belajar sehingga dapat mengembangkan diri dengan maksimal.


3 Mematangkan Pola Pikir

Selain gelar dan ilmu, kuliah sudah terbukti dapat mematangkan pola pikir lulusannya sehingga dapat melihat sebuah permasalahan dari sudut pandang yang tepat serta menemukan pemecahan masalah tersebut sesuai dengan ilmu yang didapatkan selama kuliah. Ini tentunya sangat berguna jika diterapkan dalam kehidupan keluarga. Ibu bisa lebih baik lagi dalam menyikapi permasalahan rumah tangga, permasalahan parenting, permasalahan keuangan dan berbagai permasalahan hidup lainnya. Ibu sebagai nadi keluarga tentunya membutuhkan pengelolaan emosi dan kemampuan pemecahan masalah yang baik. Dengan demikian, keharmonisan dan kestabilan kehidupan berkeluarga dapat terjaga serta kehidupan sosial yang berkualitas.


4 Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Jika selama ini kehidupan ibu rumah tangga selalu disangkutpautkan dengan wanita berdaster dan hanya bertugas mengurus urusan rumah, kenyataannya ibu rumah tangga juga bisa melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain, yaitu berpendidikan tinggi. Pemilik gelar sarjana atau pascasarjana pasti dipandang setingkat lebih tinggi, apalagi untuk seorang ibu rumah tangga. Pengakuan sosial ini akan meningkatkan kepercayaan diri ibu rumah tangga karena tidak dipandang "biasa" lagi. Ilmu dan pengembangan diri yang didapat selama kuliah pasti memberikan perubahan, mungkin dari cara berbicara, berpikir, bertindak atau memberikan solusi. Hal ini juga akan memudahkan ibu rumah tangga untuk berbaur dengan semua kalangan masyarakat sehingga keberadaannya lebih dihargai dan dihormati.


5 Mewujudkan Impian

Kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ditengah kesibukan mengurus keluarga pasti tidak akan disia-siakan begitu saja, sehingga masa studi akan dilalui dengan penuh keseriusan. Pemilihan jurusan untuk melanjutkan kuliah akan didasarkan kepada kebutuhan dan impian yang hendak dicapai. Bekal ilmu yang tepat ini akan memudahkan ibu rumah tangga dalam proses menggapai apa yang diinginkan. Misalnya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi agar dapat menjalankan bisnis yang telah direncanakan, jurusan Desain atau Tata Busana jika ingin mengejar cita-cita sebagai desainer atau Tata Boga jika ingin membuka usaha catering, cafe, restaurant, bakery dan sejenisnya. Jalan untuk mewujudkan impian akan terbuka dan kesempatan mewujudkannya menjadi lebih besar.


6 Membanggakan Keluarga

Orang lain saja memandang lebih akan gelar magister atau bahkan doktor yang dimiliki seorang ibu rumah tangga, apalagi keluarga yang memiliki hubungan erat dengan ibu, tentu saja memiliki kebanggaan tersendiri karena memiliki wanita spesial di tengah mereka. Ibu bisa menjadi teman bicara yang sepadan dengan suami atau dengan teman-teman seprofesinya. Anak-anak juga akan kagum dan bangga saat menceritakan ibu mereka kepada teman, guru atau siapapun disekitarnya. Secara tidak langsung, pendidikan tinggi ibu akan menanamkan semangat belajar dan keinginan untuk menggapai hal serupa seperti apa yang dimiliki ibu mereka. 


7 Menambah Relasi

Meskipun bukan tujuan utama, memasuki kembali dunia pendidikan pasti membuka kesempatan untuk bertemu orang-orang baru. Program pascasarjana biasanya diisi oleh mahasiswa lintas generasi dengan usia yang bervariasi. Ditambah lagi dengan hadirnya dosen-dosen cerdas yang bisa ditanyakan banyak hal terkait studi yang diambil. Hubungan yang terbentuk ini sangat menguntungkan dalam upaya pegembangan diri ibu, seperti mencari tahu gaya hidup masa kini kepada kenalan yang masih berusia muda atau belajar banyak pengalaman bersama teman yang lebih tua. Seperti yang sudah sama-sama diketahui, relasi merupakan poin penting dalam melancarkan proses mewujudkan banyak hal, seperti untuk urusan administrasi, akses informasi, celah peluang dan sebagainya.


Baca juga : Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!


***


Ibu Penting Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sebelum Kuliah Lagi

Foto : freepik.com

Disamping banyaknya manfaat yang didapatkan ibu rumah tangga setelah melanjutkan kuliah dan menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin, ibu juga perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut agar tetap dapat menyeimbangkan antara aktifitas dan kebutuhan kuliah dengan tanggung jawab rumah tangga.


Diskusikan dengan Suami

Apapun yang dilakukam istri, sudah selayaknya harus didiskusikan terlebih dahulu dengan suami. Apalagi mengenai rencana kuliah yang bisa saja mempengaruhi kehidupan keluarga nantinya. Peran suami juga sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan, baik dari biaya, waktu, semangat atau berbagi sedikit tugas rumah tangga dan menjaga anak. 


Kondisi Keluarga

Ibu adalah orang yang paling mengerti bagaimana kondisi keluarga. Masa kuliah pasti membutuhkan waktu untuk belajar, sehingga kondisi keluarga yang merupakan tanggung jawab utama ibu sangat menentukan kelancaran studi tersebut. Misalnya jika saat ini masih ada anak-anak yang membutuhkan kehadiran ibunya seharian penuh dan belum mandiri, sedangkan tidak ada orang lain yang bisa dititipkan, maka sudah pasti saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk kuliah. Menunggu beberapa tahun lagi bisa menjadi pilihan tepat meskipun butuh kesabaran dan keikhlasan untuk menundanya.


Biaya Kuliah

Kebutuhan hidup yang semakin mahal tentu membutuhkan pengelolaan keuangan yang tepat dalam rumah tangga. Pastikan keseluruhan biaya kuliah mulai dari uang pangkal, uang semester atau uang-uang lainnya tidak mengorbankan kebutuhan pokok keluarga seperti makanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Jika butuh waktu untuk menabung, lebih baik menunda sebentar waktu kuliah agar tidak menyusahkan dan berujung masalah kedepannya.


Metode atau Waktu Kuliah yang Paling Memunginkan

Sebelum memutuskan universitas mana yang akan dipilih, tentukan dulu ketersediaan waktu yang dimiliki. Apakah bisa untuk mengikuti kuliah tatap muka pagi, malam atau kuliah daring yang tidak terikat tempat dan waktu. Jika bisa menitipkan anak sementara kepada orang yang dipercaya, maka kuliah tatap muka bisa dipilih sesuai dengan ketersediaan waktu yang paling memungkinkan. Tapi jika ibu tidak bisa meninggalkan rumah dan tidak bisa memastikan kapan waktu yang bisa diluangkan untuk kuliah, maka metode kuliah daring akan sangat membantu. 


Universitas

Memilih universitas untuk melanjutkan kuliah lagi mungkin menjadi sebuah pilihan sulit bagi seorang ibu rumah tangga. Banyak batasan dan kriteria yang harus disesuaikan dengan tugas mengurus rumah dan anak. Pastikan universitas yang dipilih sesuai dengan anggaran dana yang dimiliki, pilihan metode dan waktu kuliah yang bisa diikuti serta lokasinya yang tidak terlalu sulit dijangkau. Pastikan pula akreditasi resmi dari jurusan dan universitas pilihan, karena bagaimanapun akreditasi merupakan parameter penting sebagai bukti diakuinya instansi pendidikan tersebut serta kualitas dan keunggulannya. 


Baca juga : Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga Juga Ada Ilmunya, lo! Yuk, Simak 8 Tips Berikut


***


Status yang sudah berbeda pasti sedikit-banyaknya mempengaruhi pemilihan universitas, waktu kuliah atau metode belajar. Mungkin akan ada beberapa pengorbanan untuk menekan sedikit ambisi diri karena sudah ada tanggung jawab wajib yang diemban selain kuliah. Misalnya jika keinginan hati ingin kuliah di kampus terbaik, ternyata tidak tersedia program kuliah secara daring dan hanya ada jam kuliah pagi, maka ibu sebaiknya menurunkan ego agar tidak memaksakan diri kuliah disana jika tidak bisa meninggalkan anak direntang waktu tersebut. Contoh lainnya juga biasa terjadi dalam menyesuaikan biaya kuliah dengan keuangan keluarga atau lokasi universitas. Makanya ibu sangat penting sekali untuk benar-benar merencanakan dan membicarakan tentang melanjutkan kuliah ini dengan suami atau anak jika sudah bisa diajak berdiskusi.


Ibu rumah tangga bukanlah wanita yang terbelenggu dengan urusan rumah, namun ibu rumah tangga juga berhak melakukan apa saja yang diinginkan asalkan masih bermakna positif dan tidak mengganggu kewajiban utamannya sebagai pengurus pekerjaan domestik rumah tangga. 


Meskipun jalan yang dilalui lebih menantang dan kesibukan menjadi berlipat ganda, pada akhirnya perjuangan dan pengorbanan ibu selama menjalankan studi akan banyak memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan mungkin nanti untuk lingkungan sekitar secara lebih luas. 


Semoga bermanfaat.


Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!

2 comments

Jauh sebelum menikah, aku sudah membayangkan betapa bahagianya bisa hadir dalam setiap momen kehidupan anak. Yap, aku memang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Banyak orang yang menganggap itu bukanlah sesuatu yang layak untuk dicita-citakan. Bagi mereka, tanpa usaha apa-apa pun semua wanita bisa menjadi ibu rumah tangga. Tapi tidak begitu bagiku. Ibu rumah tangga tetaplah membutuhkan ilmu yang tak luput dari proses belajar.

Setelah kelahiran anak pertama, aku memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengurus keluarga. Awalnya memang berat. Aku tertekan dengan semua kehidupan baru yang dijalani. Pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya, waktu bertemu dengan teman-teman yang tersita, memanjakan diri, bersantai, tidur nyenyak, atau sekedar bernyanyi saat mandi pun sirna. Aku menjadi begitu sibuk, sangat sibuk.

Bukannya tidak mampu membayar Asisten Rumah Tangga (ART) untuk membantu, tapi aku pribadi merasa kurang nyaman jika ada orang lain yang bukan saudara tinggal bersama di rumah kecil ini. Apalagi banyak kelakuan ART yang harus dihadapi. Aku pernah mencoba mempekerjakan 2 orang ART sebelum ini, bukannya banyak membantu, malah menambah masalah baru.

***

Bisa karena terbiasa. Semua tekanan itu perlahan menghilang. Aku bukan lagi wanita lemah yang selalu mengeluhkan keadaan. Menjadi ibu rumah tangga ternyata tidak semenakutkan itu, asalkan selalu berpikir positif dan percaya bahwa kita mampu.

Semua hal dalam hidup ini perlu pengaturan yang tepat dari segi cara dan waktu, termasuk mengerjakan seluruh urusan domestik keluarga. Profesionalitas bahasa kerennya.

Mulai dari pagi hingga pagi lagi, jadwal yang tersusun sangat padat tanpa jeda. Apalagi masih ada bayi ASI yang harus aku susui setidaknya 1 sampai 3 kali di tengah malam. Tidur pulas semalaman masih menjadi sebuah imajinasi. Lelah memang, tapi membahagiakan. Puasnya itu beda.

Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder. Ini Tipsnya!

***

Apa saja tips yang bisa dilakukan agar semua pekerjaan rumah tangga bisa diselesaikan meskipun ada 2 balita yang harus diasuh?
________________

Anak satu saja sudah membuat sibuk, apalagi dua?

Pengalaman memang mengajarkan banyak hal. Keadaan ibu beranak satu dengan ibu beranak dua tidaklah sama. Sekarang aku merasa jauh lebih rileks sehingga bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan cekatan. Aku selalu berpikir dan berusaha menemukan trik agar semua antrian pekerjaan bisa diselesaikan secepat mungkin. Waktu terasa sangat berharga.

Meskipun masing-masing ibu memiliki standar dan cara berbeda dalam mengurus rumah tangga, mungkin saja beberapa tips ala aku berikut ini bisa memberikan inspirasi baru. 

🌸 Membersihkan rumah cukup sekali sehari atau jika sudah terlalu mengganggu dan urgent

Membersihkan rumah terlalu sering hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga. Rumah yang rapi dan bersih tidak akan bertahan lebih dari 1 menit jika ada balita di rumah. Aku biasanya memilih waktu sebelum tidur malam sebagai saat yang tepat untuk bersih-bersih. Selain memberikan rasa nyaman saat bangun pagi karena melihat sesuatu yang rapi, malam hari setelah anak tidur merupakan waktu panjang yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan segala yang belum selesai tanpa interupsi. Bukan pemandangan asing lagi jika aku menyapu, mencuci piring atau mengepel di malam hari. 

Meskipun begitu, terkadang bisa saja mainan yang berserakan terlalu banyak dan memenuhi lantai sehingga untuk berjalan saja sulit. Anak-anak yang sedang bermain terlihat susah bergerak dan kesakitan saat terinjak mainan yang bersudut lancip. Atau bisa jadi ada tamu dadakan yang akan singgah beberapa menit lagi. Di keadaan seperti inilah aku juga harus segera mengambil tindakan bersih-bersih rumah. Jika di totalkan, sesering-seringnya aku membersihkan rumah dalam sehari, itu tidak lebih dari 3 kali.

🌸 Belanja kebutuhan cukup 1 kali seminggu

Selama hampir 4 tahun belakangan ini, aku tidak lagi mengenal istilah belanja bulanan. Yang ada adalah belanja mingguan. 1 kali dalam seminggu, aku akan berbelanja semua keperluan rumah mulai dari bahan masak, cemilan, keperluan mandi, keperluan mencuci dan semua yang akan dipakai di rumah. Daftar belanjaan yang nyaris sama hanyalah keperluan bahan-bahan masakan seperti ayam, daging, telur, sayuran dan bumbu dapur. Selain itu, tergantung stok persediaan yang masih tersimpan di lemari. Bisa saja minggu ini keperluan mandi habis, minggu depannya keperluan mencuci yang habis. 

Kenapa aku melakukannya 1 kali dalam seminggu? Karena terlalu memusingkan untuk mengingat begitu banyaknya keperluan rumah tangga untuk 1 bulan. Jadi sekalian saja habis belanja sayur, mampir ke mini market.

🌸 Masak cukup 1 kali sehari dengan 1 menu atau maksimal 2 menu sederhana

Makanan sehat tidak harus rumit dan banyak rempah. Bahan masakan yang diolah sederhana juga bisa enak kok. Jangan membebani diri sendiri untuk menyajikan aneka menu lengkap di meja makan. Jauh lebih meringankan jika memasak 1 atau maksimal 2 menu saja dalam 1 hari untuk seluruh anggota keluarga. Protein hewani, protein nabati dan sayuran bisa dimasak menjadi satu dengan resep yang kreatif. Jika pun ada beberapa sayur yang pengolahannya tidak biasa digabung dengan protein, baru lah dimasak terpisah. 

Aku memilih waktu di pagi hari setelah shalat Subuh dan sebelum anak-anak bangun untuk memasak menu sehari. Jadi makanan tetap segar dan tidak perlu sering dihangatkan untuk menghindari basi. Takar porsi agar pas habis dalam sehari supaya tidak bosan dengan menu yang sama berhari-hari. Karena ada dua balita yang belum bisa mengkonsumsi makanan pedas, aku memilih untuk memasak terpisah sambal gorang atau membeli chili oil dan sambal kemasan. Kadang makan nasi tanpa sambal itu kurang greget.

Baca juga : 3 Resep Olahan Daging Sederhana dan Enak untuk Keluarga


🌸 Tidak wajib setrika baju rumah

Baju sehari-hari yang dipakai di rumah seperti kaos tipis atau daster dan celana pendek, tidak perlu disetrika jika memang tidak sempat. Bukannya malas mengerjakan, tapi terlalu berbahaya jika anak-anak mendekat disaat kita tengah sibuk memaju-mundurkan setrikaan. Bisa saja anak terkena besi panas atau tersandung kabelnya. Mengerjakan saat malam hari juga tidak mungkin karena harus beristirahat agar kondisi tubuh tetap terjaga.

Bagaimana dengan baju kerja suami atau baju bepergian? Aku menyetrika sesaat sebelum digunakan. Sepertinya memang boros listrik dan waktu, tapi inilah hal terbaik yang bisa aku lakukan sampai saat ini agar ritual setrika tidak menjadi beban.

🌸 Mencuci baju dalam satu waktu sampai keranjang benar-benar kosong

Wajib menyisihkan waktu satu hari untuk mencuci. Berhubung selama ini aku hanya memiliki pengalaman mencuci dengan mesin cuci yang harus dipencet-pencet secara manual, setidaknya aku harus membersamai mesin cuci ini selama digunakan. Jika terbengkalai atau lupa, bisa jadi urusan cuci-mencuci tidak selesai dari pagi hingga pagi lagi. Hari mencuci ini tergantung dengan stok pakaian di lemari. Aku harus rutin mencuci 1 kali dalam 5 hari agar pakaian bersih anak-anak masih ada. Maklumlah, anak-anak bisa ganti baju beberapa kali dalam sehari, jadi bisa dijadikan alarm untuk segera mencuci jika stok pakaian bersih mereka menipis.

🌸 Menyikat kamar mandi setiap kali mandi

Jujur pekerjaan yang satu ini menduduki urutan pertama dalam "hal yang paling malas dilakukan". Malasnya bukan baru-baru ini, tapi semenjak gadis aku sering membiarkan kamar mandi hingga begitu kotor. Menjijikkan memang. Tapi anehnya, aku juga paling benci dengan kamar mandi yang jorok. Ah sudah lah, semakin membingungkan untuk dibahas panjang lebar.

Intinya, dengan kehadiran anak-anak, aku tidak boleh membiarkan kemalasan itu merajalela hingga kamar mandi berubah menjadi area berbahaya untuk mereka. Lantai licin bisa menyebabkan tergelincir dan keadaan kotor tentunya sangat tidak menyehatkan. Sedangkan setiap hari kita bisa berkali-kali memasuki kamar mandi. Jadi solusi jitu yang aku praktekkan hingga sekarang adalah menyikat lantai kamar mandi setiap kali selesai mandi. Lebih nyaman jika menggunakan sikat bertangkai panjang agar tidak perlu jongkok atau membungkuk untuk menyikat. Nah, toiletnya bisa disikat 2 kali seminggu saja. Tidak lama kok, 5 menit saja sudah cukup.

Note : kamar mandi berukuran standar perumahan, tanpa bak air, tanpa bathub dan tanpa pemisah antara area basah dan area kering seperti kamar mandi hotel.

🌸 Kondisikan anak saat sibuk

Aku tipe orang yang tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Jadi jika anak menangis dan rewel saat aku sibuk, dijamin hasilnya akan berantakan. Dari pada pekerjaan rumah tidak kunjung selesai, lebih baik aku mengkondisikan anak-anak agar tetap diam dan tidak mengganggu untuk beberapa saat. Ini harus aku lakukan jika pekerjaan atau aktifitas tersebut bisa membahayakan mereka, seperti memasak atau saat ditinggal mandi. 

Youtube adalah penolong terhebat saat terdesak. Video anak seperti Pingfong, Cocomelon, Vlad dan Nikita atau animasi lainnya dijamin sukses membuat anak-anak diam sesaat. Sebagai catatan, aku bukan tipe orang tua yang anti gadget. Jadi membiarkan mereka menonton video kesukaannya sejenak tidak ada masalah. Jangan lupa selalu mengawasi dan mengajak berkomunikasi sesekali dengan pertanyaan singkat mengenai tontonannya agar tidak terlalu terpaku menatap layar. 

Tapi kadang-kadang memberikan kertas gambar dan krayon atau menghidangkan cemilan manis juga mempan untuk membuat mereka tidak mendekat beberapa menit. 

Baca juga : Tips Mendapatkan Dampak Positif Gadget untuk Tumbuh Kembang Anak


🌸 Makan, mandi dan tidur di satu waktu

Poin terakhir yang bisa menghemat waktu lumayan lama adalah makan, mandi dan tidur secara bersama dalam satu waktu. Misalnya makan, aku harus sigap menyuapi anak-anak secara bergantian dan menyuapi diri sendiri agar semuanya bisa makan tepat waktu dijam makan. Begitu pula dengan mandi, biasanya si abang sibuk main air sembari adiknya mandi, lalu nanti setelahnya barulah dia yang mandi. Jadi tidak perlu berulang menyiapkan air hangat dan menyiapkan perlengkapan mandinya. Urusan tidur juga sama, baik itu tidur siang maupun tidur malam. Anak-anak harus tidur diwaktu yang sama agar tidak saling mengganggu dan aku juga bisa mengerjakan yang lain.

Baca Juga : 5 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Tidur Siang

***

Penting!

Jangan lupa sisakan waktu me time, mengembangkan diri dan bersosialisasi

Pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya pasti membuat banyak ibu kelelahan dan stres. Maka dari itu, sisakanlah sedikit waktu untuk sekedar meminum kopi atau makan mie. Satu jam saja sudah cukup kok untuk merelaksasi diri. Selain itu ibu rumah tangga juga harus mengembangkan diri agar memiliki tujuan. Sekecil apapun tujuan itu, pasti ampuh menjadi pembakar semangat. Dan satu hal lagi yang paling penting, bersosialisasilah sesekali dengan tetangga atau teman lama. Bisa juga dilakukan melalui media sosial atau grup online untuk sharing dan bercerita.
Semua tidak harus sempurna

Selama mengerjakan urusan rumah tangga sendiri dengan ditemani dua anak kecil,  buanglah jauh-jauh apa yang dinamakan "sempurna". Memang kita inginnya rumah selalu rapi, baju terlipat di lemari atau makanan tersedia dengan berbagai pilihan menu setiap hari. Kenyataanya, membuat semuanya sempurna hanya akan membuat kita menderita. Waktu hanya habis untuk urusan rumah tangga. Padahal masih ada anak yang harus ditemani bermain serta masih ada tubuh dan hati yang butuh hal lain. Selagi semuanya masih berjalan normal, berarti pekerjanan kita sebagai ibu rumah tangga sudah sukses dan patut diapresiasi.

Baca juga : Anak Tidak Butuh Ibu yang Sempurna tapi Ia Butuh Ibu yang Bahagia


Semoga bermanfaat :)


Profesi yang Diambil Alih Ibu Selama Pandemi Corona

4 comments
Source : freepik.com

Pandemi Corona telah memberikan perubahan besar pada aktifitas harian kita. Biasanya pagi-pagi bergegas berangkat kerja, sekarang disuruh Work from Home atau bekerja dari rumah saja. Dulu setiap akhir pekan selalu jalan-jalan dan liburan, sekarang harus di rumah menghabiskan waktu bersama. Bosan? Sudah pasti, itu manusiawi. Tapi jangan sampai mengeluh atau malah bandel keluar rumah dan melanggar aturan pemerintah. Bahayanya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi keluarga dan orang lain juga.

Wanita Berdaster Jangan Minder. Ini Tipsnya!

3 comments

Peran mulia sebagai ibu rumah tangga masih sering dianggap remeh oleh sebagin orang. Adanya dua kubu yang membagi kehidupan seorang ibu, yaitu ibu bekerja dan ibu rumah tangga, selalu saja memancing pro-kontra di tengah masyarakat. Ibu rumah tangga tetaplah menjadi kubu dominan yang menerima perlakuan tidak menyenangkan karena dianggap lebih rendah dan tidak bisa apa-apa. Sedihnya, sesama ibu yang sudah paham betul betapa rumitnya mengurus rumah, ternyata masih ada yang menjadi pelaku diskriminasi ini.