Pentingnya Personal Branding untuk Ibu Rumah Tangga Produktif

No comments

Saya mau sedikit cerita dan ini terjadi saat kumpul keluarga di momen lebaran kemarin. Saya tidak menyangka bahwa personal branding yang saya upayakan selama ini, melalui berbagai media, membuahkan satu peluang penawaran yang cukup besar bagi saya, yaitu mengisi satu sesi kelas yang pesertanya karyawan perempuan dari Bank Indonesia.


Pentingnya Personal Branding untuk Ibu Rumah Tangga Produktif

Jadi, singkatnya begini. Seorang saudara saya bekerja di Bank Indonesia, jabatannya cukup tinggi, dan sekarang dipercaya mengurusi bagian pengembangan karyawan, baik itu skill, wawasan, atau hal lainnya. Saya lupa nama unit organisainya apa, tapi seingat dan sepenangkapan saja, ini seperti wadah belajarnya lah kira-kira. Makanya, salah satu programnya adalah aktif mengadakan kelas-kelas di setiap bulannya dan anggarannya memang sudah disediakan untuk itu.


Baca juga: Jangan Ulangi Kesalahan Saya, Ini Pentingnya Passion dalam Tujuan Ibu Pasca Resign


"Mau nggak ngisi kelas di kantor Uni?"

Itu kalimat yang saya tunggu! Saya langsung mengiyakan dan mengirimkan portofolio. Alasannya, beliau sering melihat unggahan aktivitas menulis dan produktivitas saya lainnya di media sosial. Sesimpel itu jalan yang mempertemukan dengan kesempatan ini. 


Saya semakin yakin bahwa personal branding itu adalah aset. Bisa jadi peluang di luar sana sangat banyak, bertebaran di mana-mana. Tapi kalau kita belum dikenal dan diingat orang untuk terlibat dalam peluang itu, apakah memungkinkan? Di sinilah personal branding berperan.


Apa itu Personal Branding dan Tujuannya?

Sederhananya, personal branding merupakan proses atau upaya untuk membentuk cara orang lain melihat, mengenal, dan mengingat kita. Terutama terkait keahlian, nilai, dan karakter yang kita munculkan secara konsisten.


Jadi, personal branding = persepsi orang terhadap kita, yang kita usahakan atau kelola dengan sengaja.


Perlu digarisbawahi bahwa personal branding bukan hanya sekadar “terlihat aktif” atau “sering posting” di media sosial, melainkan mencakup hal-hal berikut.

  • Topik spesifik apa yang dibahas, atau disebut juga dengan niche. Misal parenting, teknologi, ibu rumah tangga, travalling, kuliner, dan lainnya.
  • Style atau gaya, yaitu bagaimana kita berbicara, berpakaian, atau gaya tertentu yang unik.
  • Nilai apa yang kita bawa, misal kemampuan/skill, gaya hidup, atau pengalaman.
  • Citra yang dibangun, seperti saya dengan citra ibu resign PNS dan sekarang produktif dari rumah, atau sebagai mentor kelas yang serius, atau bisa juga sebagai penulis yang peduli dengan kesetaraan perempuan.


Selanjutnya, apa sih tujuan kita membangun personal branding? Kalau sampai dianggap penting, berarti ada manfaat yang akan didapatkan. Iya, kan?


🌸 Supaya Dikenal

Kita harus dikenal dulu supaya orang tahu apa yang kita "punya". Ketika orang melihat konten kita sekali, dua kali, tiga kali, pasti akan muncul rasa penasaran, "Dia siapa sih?" Dimulai dari sini, kita akan diingat dan dipercaya. Percuma saja kita punya skill, punya sertifikasi, pengalaman kerja, kalau tidak ditunjukkan. Bahkan sekarang CV saja tidak cukup, harus disertakan dengan personal branding yang sudah terbangun. Makin kuat, makin mantap.


🌸 Membangun Kepercayaan

Coba ingat-ingat, kita lebih percaya ke orang yang seperti apa sih? Pasti pada orang yang konsisten, punya kejelasan nilai, dan ahli di bidang tertentu yang dapat dibuktikan melalui pengalamannya. Hanya dengan personal branding yang baiklah ini dapat ditunjukkan. Semakin sering kita muncul, kita akan dianggap ahli sehingga menumbuhkan kepercayaan.


🌸 Membedakan dari yang Lain

Percaya deh, di luar sana banyak banget orang yang memiliki skill sama. Saya yang bloger saja, di Indonesia ini ada puluhan ribu, bahkan bisa saja jauh lebih banyak, yang juga seorang bloger. Nah, yang akan diingat adalah keunikan yang di-up dalam proses membangun personal branding. Misalnya cara berbicara, sudut pandang, atau pengalaman yang pasti akan berbeda di masing-masing orang, meski kejadiannya sama.


🌸 Membuka Peluang

Ini yang pada akhirnya menjadi buah manis. Dengan personal branding yang kuat, orang akan datang sendiri menawarkan kerja sama, mengajak berkolaborasi, membeli produk kita, ikut kelas kita, atau mendatangkan peluang rezeki lainnya. Satu contoh, orang yang ikut kelas mungkin bukan hanya karena materinya, tapi karena percaya dengan narasumber/mentornya. Akhirnya mereka daftar kan?


Tapi, jangan pernah sekali-kali berbohong dalam membangun personal branding. Personal branding itu bukanlah pencitraan palsu, tapi menampilkan sisi terbaik kita secara konsisten dan berstrategi. Sekalinya kita bohong, kalau ketahuan, branding sebagai "pembohong" lah yang tertanam.


Kenapa Personal Branding PENTING untuk Ibu Rumah Tangga?

Sebenarnya, mau ibu rumah tangga atau bukan, personal branding itu penting di zaman sekarang. Apalagi kita yang kesehariannya hanya di rumah ini, kalau bukan melalui media digital, kita mana bisa dikenal oleh banyak orang. 


Siapa kita dan apa skill kita, seluruh dunia harus tahu.


Personal branding untuk ibu rumah tangga bisa menjadi cara strategis untuk mengubah peran kita yang di rumah ini menjadi peluang. Baik peluang dalam hal finansial, sosial, maupun psikologis. Lebih jelasnya, saya bahas dalam beberapa poin, ya.


1. Mengenalkan Potensi Diri

Jangan salah, banyak ibu rumah tangga yang punya skill luar biasa. Mengurus anak saja, itu sudah sebuah skill dan pengalaman yang paling banyak dicari. Bahkan hal yang kita anggap remeh, seperti bersih-bersih rumah, bisa menjadi sebuah potensi besar yang telah dirasakan oleh Marie Kondo. Ditambah kalau ibu punya skill atau pengalaman lain di luar urusan rumah, wah, sayang sekali kalau hanya dipendam.


Jadi, orang bisa tahu kita siapa, kita bisa apa, dan ingat kita saat mereka butuh sesuatu yang berkaitan. Entah mereka akan menguhubungi lewat komentar di konten, DM, email, atau lainnya, komunikasi akan terbuka dengan dunia luar. Relasi yang bisa membuat hidup kita lebih berarti dan dapat juga memancing peluang di kemudian hari.


2. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Ini nyata terjadi di saya. Setelah memutuskan resign dan menjadi ibu rumah tangga, saya sering minder. Sebagian besarnya dipengaruhi oleh stigma yang masih kental di masyarakat, yang menganggap bahwa ibu rumah tangga itu tidak bisa apa-apa dan kerap dipandang sebelah mata. Bukan mengarang, tapi ini realita. 


Setelah konsisten produktif sebagai bloger, aktif membuat konten, dan kini mencoba peluang di produk digital, saya kembali dihargai. Ditambah dengan terus membangun personal branding, saya merasa punya identitas yang jelas soal skill dan "posisi" sebagai ibu produktif dari rumah. Saya bisa menjawab dengan bangga bahwa saya seorang mom blogger, penulis buku, dan digital enthusiast. Sungguh, ini membuat rasa percaya diri saya terus meningkat. Semoga teman-teman juga merasakan kepercayaan diri yang sama, ya.


3. Membuka Peluang dan Pintu Rezeki

Peluang dan rezeki ini dua hal yang selalu berkaitan. Biasanya, di mana ada peluang, di sana juga ada rezeki. Ibu rumah tangga yang konsisten membangun personal branding, akan bertemu di satu titik dengan brand atau pihak yang membutuhkan sesuatu. Ini juga sudah saya buktikan.


Kalau tidak mem-branding diri, kita harus mengejar peluang dengan effort yang lebih besar dan belum tentu orang akan percaya dengan skill kita. Tapi, kalau personal branding-nya kuat, dijamin peluang itu akan datang dengan sendirinya karena orang sudah tahu nilai kita, sudah percaya. Orang mau beli e-book kita, ikut kelas kita, menawarkan endorse, ya karena sudah percaya dengan skill dan potensi kita.


4. Jadi Role Model untuk Anak

Melihat saya menulis setiap hari di rumah, tanpa saya sadari, anak-anak belajar bahwa bila menginginkan sesuatu, membuat sesuatu, menghasilkan sesuatu, harus berusaha terus tanpa putus. Hingga menikmati hasilnya kemudian. Bisa mendapat uang, mendapat penghargaan, mendapat teman, dan sebagainya. Ternyata, apa yang saya lakukan, diperhatikan oleh mereka. 


Kalau ada konten-konten personal branding yang saya buat dan insight-nya oke, saya sering memperlihatkan pada mereka. Begitu pula ketika ada konten orang lain yang membahas tentang saya (walau tidak banyak, ada lah sesekali), saya perlihatkan juga. Sehingga mereka melihat perkembangan bundanya. Akhirnya, saya bisa menjadi contoh bagi mereka, contoh yang baik. Saya sangat bersyukur untuk itu.


Personal branding adalah aset jangka panjang. Kalau sudah kuat, pasti peluang berdatangan dan rezeki juga mengikuti. Tanpa terkecuali bagi ibu rumah tangga.


Dengan personal branding, ibu rumah tangga yang hanya di rumah saja, bisa terlihat, bisa dipercaya, dan punya peluang untuk mendatangkan rezeki. Bisa pula menjadi contoh buat anak. Karena tidak adil bila kita terus menuntut untuk menjadi anak yang membanggakan orang tua, kalau kita sendiri belum menjadi orang tua yang membanggakan bagi mereka. Menurut saya begitu.


Baca juga: Alasan Saya Mulai Membuat Produk Digital, Cocok untuk Ibu Rumah Tangga!


Terakhir, personal branding ibu rumah tangga itu bukan tentang pamer kehidupan, biar terlihat sibuk, atau ikut-ikutan tren biar tak dianggap kudet (kurang update). Melainkan tentang membangun identitas yang jelas, menunjukan nilai dan skill kita, serta membuka peluang dan pintu rezeki. Kalau tidak diusahakan, nggak akan mungkin datang sendiri kan?


Di artikel selanjutnya, akan saya ceritakan juga bagaimana Cara Membangun Personal Branding ala Saya sebagai IRT Produktif. Soalnya kepanjangan kalau ditulis semuanya di sini, karena poin pembahasannya juga cukup banyak. Ditunggu, ya. 


Semoga bermanfaat.

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)