Waktunya Menyapih Anak, 2 Cara Tanpa Drama Ini Patut Dicoba!

Foto: freepik.com

Menyapih anak itu susah-susah gampang, lo. Susah kalau caranya tidak tepat, dan gampang jika beruntung menerapkan metode yang cocok. Aku sebagai ibu dua anak yang alhamdulillah keduanya telah melewati masa-masa mendebarkan berpisah dengan ASI kesukaan mereka, tentu memiliki cerita dan pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat bagi ibu-ibu lain. Terutama ibu baru yang biasanya panik saat menghadapi segala hal yang belum pernah dialami sebelumnya. Tidak jauh beda dengan aku dulu, ketika menyapih anak pertama, anaknya santai, malah ibunya yang nangis karena mengakhiri rutinitas meng-ASI-hi.


Kapan Sebaiknya Anak Disapih?

Dikutip dari haibunda.com, konselor laktasi dr.Ameetha Drupadi, ICBLC, menyatakan bahwa anak perlu disapih karena kebutuhan nutrisi di ASI tak lagi memenuhi. Bunda bisa menyapih anak di usia 2 tahun. Selain karena faktor nutrisi, ada perubahan psikologis pada anak. 


Sama seperti ilmu yang sudah didapatkan turun menurun sejak zaman orang tua dulu, menyapih anak memang dilakukan saat usia anak sudah memasuki 2 tahun. Aku berhasil melakukannya  hanya pada anak kedua, sedangkan anak pertama, aku terpaksa menyapihnya saat berusia 1,5 tahun karena permasalahan pada payudara. Lecet puting yang tidak membaik, bahkan semakin buruk disertai darah dan nanah, membuatku memutuskan untuk menyapihnya lebih cepat. Takutnya ketidak-sterilan dari ASI yang sudah terkontaminasi zat lain, yang telah aku ketahui tidak pantas untuk masuk ke saluran cerna, bisa berdampak buruk pada kesehatannya.


Orang tua, khususnya ibu, tidak bisa memaksa cara yang sama pada semua anak-anaknya, apalagi dengan anak orang lain. Contohnya saja metode yang aku terapkan pada anak pertama dan kedua sangat berbeda. Begitu pula dengan anak orang lain yang berhasil dengan cara A, belum tentu pula cara A tersebut berhasil pada anak sendiri. Kembali lagi pada fitrah anak manusia yang terlahir unik, menyapih pun pasti punya caranya masing-masing.


Kenyamanan anak ketika proses menyapih adalah yang paling utama, namun dibeberapa kejadian juga harus mempertimbangkan kondisi ibu.


Sah-sah saja jika orang tua ingin berpatok pada ilmu pengasuhan dan kesehatan yang telah teruji, namun bisa jadi kenyataannya tidak semulus teori. Jadi jangan sampai saling menghakimi diantara sesama ibu, ya.


Baca juga: Selain Memberi Nutrisi Terbaik untuk Anak, Menyusui Juga Memiliki Banyak Manfaat Bagi Ibu yang Jarang Disadari




Pengalaman Menyapih Anak, 2 Cara Berbeda yang Berhasil Di Hari Pertama Tanpa Drama


Usia menyapih dan kondisi yang berbeda antara anak pertama dan anak kedua, menjadikanku menerapkan 2 cara yang berbeda pula. Berikut penjelasan detail kedua cara tersebut.

Sounding

Cara ini adalah yang paling dianjurkan oleh dokter anak dan ahli laktasi, karena tidak ada paksaan sama sekali. Jadi anak sudah siap dan tidak kaget saat berpisah dengan aktifitas menyusui. Bagiku, selama kondisi tubuh ibu dan anak baik, usia anak pun sudah mencukupi 2 tahun, memilih cara menyapih dengan cinta ini bisa menjadi pilihan yang lebih baik.


Tiga bulan sebelum anak memasuki usia 2 tahun, frekuensi menyusui pada siang hari sudah mulai aku kurangi. Caranya adalah dengan mengalihkan perhatian anak kepada hal lain yang mungkin lebih menarik baginya, seperti memberi cemilan, mainan, atau membawa ke luar rumah sejenak. Berhubung cara ini aku terapkan pada anak kedua, jadi keberadaan kakaknya yang mengajak main juga bisa dijadikan salah satu strategi pengalih perhatian. Cara ini hampir 100% berhasil, paling hanya satu kali saja menyusu saat tidur siang.


Satu bulan sebelum ulang tahun kedua, sounding sudah harus rutin dilakukan. Lebih sering lebih baik. "Nak, sebentar lagi umurnya sudah 2 tahun, lo. Anak Bunda sudah besar. Anak besar tidak mimik lagi sama bundanya. Lihat tuh Abang, nggak pernah mimik sama Bunda 'kan? Karena kalian sama-sama sudah besar." Itulah kalimat yang aku ucapkan berulang-ulang kali tanpa bosan. Meski anak tampak tak acuh, bukan berarti perkataan tersebut tidak terekam dalam ingatannya. Pembuktiannya akan terlihat saat hari menyapih tiba.


Cara ini butuh kesabaran dan ketelatenan ibu. 


Tepat di hari ulang tahunnya, aku sudah langsung menghentikan total aktifitas menyusui. Merayakan ulang tahun dengan kue dan angka dua besar yang tertempel di dinding, membuat ia sadar bahwa sekarang umurnya sudah benar-benar 2 tahun, yang berarti sudah besar dan tidak mimik lagi. Alhamdulillah anak keduaku sudah bisa lepas dari ASI dihari itu juga.


Meski satu minggu awal masih sering minta menyusu, tapi setiap kali dibilang kalau umurnya sudah 2 tahun, dia langsung mengerti dan main kembali. Paling menantang adalah ketika tidur malam, masa-masa awal menyapih pasti anak akan tidur lebih malam dan sering terbangun minta gendong saat terbangun. Memberi minum air putih bisa sangat membantu anak untuk segera tidur kembali.


Baca juga: 3 Tahun Anakku Susah Makan, Ternyata Inilah Penyebabnya



2 Lipstik

Apa hubungannya menyapih sama lipstik? Ada dong! Lipstik inilah penyelamatku saat harus segera menyapih anak pertama yang waktu itu masih berusia 1,5 tahun. Puting yang sudah lecet parah dan sakitnya sudah tak tertahankan, membuat kreatifitasku meningkat tajam.


Awalnya aku sudah memberikan pengertian kepada anak berulang kali bahwa payudaraku sakit dan berdarah. Namun ia tidak peduli dan masih meminta menyusu seperti biasa. Mungkin masih belum mengerti dan tidak mungkin juga dalam waktu singkat bisa menanamkan itu pada pikirannya. Dan akhirnya dari warna darah inilah aku terinspirasi mencoret warna merah yang lebih banyak agar anakku mengerti bahwa payudara bundanya sedang tidak baik-baik saja. Sempat terpikir menggunakan spidol merah, namun coretannya sangat tipis. Pasti aku akan butuh usaha keras untuk membuat coretan merah yang besar. Nah, tidak ada yang lebih tepat untuk strategi ini dari lipstik merah yang akan memberikan coretan lebar hanya dengan satu kali oretan.


Menggunakan coretan lipstik pada payudara adalah cara menyapih yang cepat. Bisa dilakukan dalam satu hari saja.


Alhamdulillah hanya satu kali memperlihatkan coretan merah itu, anak pertamaku langsung menolak menyusu. Mungkin bagi sebagian orang akan menilai bahwa cara ini akan menimbulkan trauma pada anak karena keterpaksaan, namun yang aku lihat setelahnya malah baik-baik saja. Anakku enjoy dan tidak ada masalah tingkah laku dan kesehatan yang terganggu.


Sama seperti menggunakan cara sounding, menyapih menggunakan lipstik juga akan membuat jam tidur anak lebih malam dalam waktu satu atau dua minggu pertama. Mungkin anak butuh penyesuaian beberapa saat. Setelah masa penyesuaian ini berlalu, semua akan kembali normal.

__________


Baca juga: Toilet Training Tidak Semenakutkan yang Dibayangkan, Kok. Ini Beberapa Tipsnya!


Itulah 2 cara yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi ibu yang akan menyapih anak dalam waktu dekat. Syukurnya anak-anakku bisa melalui proses menyapih dengan lancar tanpa banyak tangisan dan tantrum. Menurutku, adanya sedikit pergeseran jadwal tidur dan rengekan adalah hal wajar, karena anak pasti merasakan perubahan besar ketika berpisah dengan hal yang paling ia senangi, yaitu menyusu dengan ibunya. 


Semoga bermanfaat.


No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)