Bantah Stigma “Ibu Rumah Tangga Tidak Bisa Apa-Apa” dengan Menjadi Blogger

ibu rumah tangga jadi blogger

Jujur, tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan menjadi seorang blogger dengan aktivitas menulis yang rutin. Bila diingat ke belakang, mata pelajaran yang butuh kemampuan merangkai kata, seperti mengarang, meringkas atau menceritakan sesuatu, pasti membuat tingkat kemalasanku naik berkali lipat. Namun ternyata, takdir membawaku untuk mencintai apa yang dulunya aku hindari. 

Aku bukan orang yang punya prestasi dan kemampuan menulis mumpuni sebelumnya. Memulai membuat dan mengisi blog hanya untuk sekadar mengisi hari. Maklum, waktu itu anakku masih satu, bayi pula. Pasti lebih banyak tidurnya dari pada meleknya. Sisa waktu yang segitu banyaknya akan membuatku uring-uringan bila tidak dihabiskan dengan kegiatan bermanfaat. Wajar bila tulisanku di tahun-tahun pertama hanya berkutat di seputar anak, resep dan curhatan ibu-ibu galau. 


Sudah hampir 5 tahun aku setia mengelola blog. Proses yang tidak singkat ini memberiku pengalaman yang membangun diri. Manfaat yang aku dapatkan bukan lagi hanya untuk mengisi waktu, namun berhasil membuktikan bahwa ibu rumah tangga juga bisa tetap produktif.


Cara menulis yang suka-suka itu kini sudah berubah menjadi lebih peduli dengan kalimat efektif serta mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Ya, memilih jalan menjadi blogger mampu membuatku tetap berupaya berkarya dan berdaya. Tidak semuanya menyenangkan, tetap ada keringat dan tangisan di dalam perjuangannya. Namun memegang teguh tujuan untuk tidak menjadi ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja,  menjadikan langkah itu semakin kencang tak terhentikan.




Resign dari PNS, Aku Dipandang Berbeda

Menjadi Blogger Setelah Resign
Ibu yang memilih resign, sering menerima komentar negatif | Foto: Dok.pribadi

Sebelum menikah, aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu instansi pemerintah pusat. Kebanggaan sebagai penyandang status yang diidamkan banyak sekali warga Indonesia tentu sebuah pencapaian luar biasa bagiku. Masih terbayang senyum haru dari orang tuaku yang tidak kalah bangga melihat anaknya bisa mendapatkan pekerjaan tetap dan menjamin kehidupan hingga masa tua. Sampai sekarang, momen ini tetap menempati satu bagian hati yang tidak ingin aku hilangkan.


Lalu, kenapa aku bisa resign? Semua sungguh di luar rencana. Kehidupan sebagai wanita karir itu akhirnya aku lepaskan tepat setelah kelahiran anak pertamaku, tentunya dengan berbagai alasan dan pertimbangan pelik. Jangan ditanya kontra yang aku terima, hampir semua tidak setuju dan mengatakan bahwa aku terlalu naif untuk meninggalkan pekerjaan sebagai aparatur negara. Wajar, di tengah sulitnya orang lain mencari kerja, aku malah dengan mudahnya resign dari PNS. Tetapi, aku sudah menjadi ibu, aku berhak menentukan mana yang terbaik untuk anakku dan untukku sendiri. 


Bila diceritakan detail, perubahan hidup yang serba mendadak dari kesibukan bekerja menjadi di rumah saja tentu mengancam kesehatan mentalku. Tidak jarang orang lain mengungkapkan kekecewaan secara berlebihan, meski sebenarnya tidak ada pengaruhnya sama sekali keputusan resign-ku dengan kehidupan mereka.  Aku yang dulunya dibanggakan dan dihargai, tiba-tiba saja sering dianggap tidak ada dan tidak menarik untuk diajak berbicara. Apa memang seperti itu pandangan yang diterima oleh ibu rumah tangga selama ini?  


"Kok kamu mau resign sih? Sayang ijazahnya. Capek-capek saja kuliah kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga. Di rumah itu jadi cepat tua, enggak bisa ngapa-ngapain. Paling cuma ngurusin anak, masak dan bau bawang setiap hari. Enggak ada menarik-menariknya."


Meski ada yang mendukung keputusanku untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada keluarga, kenyataanya kalimat-kalimat menantang yang aku dengar jauh lebih mudah memberi pengaruh. Mirisnya, tidak sedikit yang berasal dari orang terdekat. Ingin rasanya membalas, tapi percuma. Hanya dengan membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak seperti apa yang mereka bayangkan, semua komentar itu bisa diruntuhkan dan aku tidak lagi dipandang sebelah mata. Banyak cara untuk kembali mengukir kebanggaan dan membuktikan kemampuan diri meski dilakukan dari rumah.




Ibu Rumah Tangga Wajib Punya Tujuan

ibu rumah tangga wajib punya tujuan
Memiliki tujuan akan membuat ibu memiliki semangat yang lebih besar | Foto: Dok.pribadi

Salah satu penyebab ibu rumah tangga yang bingung dan bosan di rumah adalah tidak adanya aktifitas lain selain mengurusi pekerjaan rumah. Ibu tidak memiliki kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tujuan hidupnya, cita-citanya atau apa saja yang menyangkut masa depan ibu. Meski statusnya ibu rumah tangga dan waktunya habis di rumah saja, tidak serta merta langkah ibu mati di situ. Sebenarnya inilah kesempatan ibu untuk bebas melakukan banyak hal, seperti menyalurkan hobi, mengejar cita-cita baru yang sesuai keinginan dan terus berupaya mengembangkan diri. 


Tidak perlu terlalu muluk-muluk, mulai saja dari yang kecil-kecil dulu. Tidak ada manusia yang bisa langsung berlari tanpa belajar dan jatuh berkali-kali.
.

Zaman sekarang teknologi sudah maju, banyak fasilitas yang memudahkan ibu meraih tujuan. Misalnya bila ibu ingin menjadi YouTuber khusus memasak, banyak sekali tutorial membuat video yang menarik dan referensi resep kreatif di Internet. Atau ibu ingin membuka toko sembako dan kebutuhan pokok, ada Aplikasi Super untuk memudahkan belanja kulakan. Tinggal pesan, barang berdus-dus siap diantar ke alamat. Mungkin juga ibu ingin menjadi penulis, yang beda tipis dengan tujuanku menjadi blogger profesional. Banyak sekali kelas-kelas gratis dan berbayar yang bisa diikuti untuk memperdalam skill. Jadi tidak ada alasan lagi bagi ibu untuk takut bercita-cita meski tidak lagi muda.  


Bagiku, ibu rumah tangga harus memiliki tujuan hidup selain dari mengurus keluarga. Intinya, dengan memiliki tujuan baru, ibu akan menjadi pribadi yang tetap produktif. Aku merasakan sekali betapa luar biasanya manfaat berperilaku produktif demi mengejar tujuan. Stres selama menjalani kehidupan rumah tangga karena jarang bertemu orang lain hampir tidak pernah terjadi. Otak yang selalu berpikir serta banyaknya kesempatan dan keinginan untuk menambah ilmu, menjadikan koleksi pengetahuan kian bertambah. Memiliki sebuah kemampuan baru yang spesifik juga sangat berdampak baik pada psikologis ibu. 


Lalu bagaimana menentukan tujuan baru yang sesuai dengan keinginan ibu? Aku pernah mengikuti sebuah webinar bertajuk Membangun Personal Branding Penulis yang dimentori oleh Sara Neyrhiza, seorang dosen, blogger dan public speaker. Salah satu poin yang dibahas adalah bagaimana cara menganalisis diri sendiri. Meski judulnya difokuskan untuk penulis, namun pengaplikasian poin bahasan yang satu ini bisa diterapkan dalam semua bidang. Perhatikanlah empat kuadran berikut. Ibu bisa menggunakan cara ini untuk menentukan tujuan.


1 Ibu bisa memulainya dari area sebelah kiri atas. Pikirkan kegiatan apa saja yang disukai ibu dan ibu bisa melakukannya. Seluruh kegiatan yang termasuk ke area ini adalah yang paling direkomendasikan untuk dijadikan tujuan baru ibu. 

2 Area kedua adalah hal yang disukai ibu, tetapi ibu tidak bisa melakukannya. Boleh saja jika ibu memilih salah satu dari area ini sebagai tujuan, namun konsekuensinya ibu harus belajar jauh lebih keras dibandingkan bila ibu memilih kegiatan di area pertama.   

3 Selanjutnya adalah area yang menunjukkan kegiatan yang bisa dilakukan ibu, tetapi sayangnya ibu tidak menyukainya. Ini sangat lekat imbasnya dengan keterpaksaan dan ketidaknyamanan. Sebaiknya ibu menghindari kegiatan dalam area ini untuk dijadikan tujuan, kecuali memang benar-benar dibutuhkan karena suatu kondisi mendesak.

4 Terakhir adalah area keempat, yaitu area yang tidak disukai ibu dan ibu juga tidak bisa melakukannya. Keterbatasan dalam area ini membuat segala kegiatan yang berada di dalamnya bukan pilihan tujuan yang tepat bagi ibu. Takutnya malah menjadi beban dan mengganggu psikologis ibu.


Menganalisis diri sendiri seperti ini sangat membantu ibu untuk merencanakan tujuan. Pilih satu saja agar dapat fokus menjalankannya. Semakin fokus ibu, maka semakin baik pula hasilnya. Bayangkan jika ibu tidak menentukan terlebih dahulu satu tujuan yang sesuai keinginan, malah memilih secara acak dan tergantung dengan pengaruh orang lain atau yang lagi tren, tentu pelaksanaannya tidak akan semaksimal bila ibu merencanakannya sejak awal. Ibu juga sebaiknya tetap memegang komitmen pada satu tujuan ini. Jika telah mendapatkan hasil sesuai harapan, ibu baru bisa mencoba memilih tujuan atau cita-cita yang lain. 




Menjadi Blogger Membuatku Lebih Hidup

Menjadi blogger menyenangkan
Menjadi blogger membuatku merasa terlahir kembali menjadi pribadi yang baru | Foto: Dok.pribadi

Sebenarnya aku sudah mencoba beberapa kesibukan setelah sah menjadi full time mom. Salah satunya adalah berjualan online baju anak-anak seperti yang banyak dilakukan ibu-ibu lain. Teorinya terlihat mudah, belanja kulakan lalu dijual kembali di e-commerce dengan mengambil laba. Apalagi aku diuntungkan secara domisili, ada Tanah Abang sebagai pusat grosir terbesar yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Namun apalah daya bila ternyata aku tidak mampu atau lebih tepatnya tidak terlalu nyaman dengan kegiatan berjualan ini. Meski keuntungannya bisa saja sangat menggiurkan bila diseriuskan, tetapi akhirnya aku tetap menyerah juga. 


Hanya menulis blog yang rutin aku lakukan tanpa putus. Kekonsistenan ini lambat laun mulai menampakkan hasil. Satu per satu tawaran kerja sama mulai bertangan dan beberapa lomba blog berhasil aku menangkan. Menyadari bahwa ada potensi di dunia blogging, tentu aku tidak boleh menyia-nyiakan buah dari usahaku selama bertahun-tahun ini menghilang begitu saja. Makanya, dua tahun belakangan, aku mulai fokus mempercantik blog, memperhatikan lebih banyak lagi tentang SEO dan tentunya berupaya menyajikan konten-konten berkualitas dan informatif. 


Aku sudah tidak ragu lagi menyebut diri sebagai seorang blogger. Pengalaman yang aku dapatkan rasanya sudah cukup dijadikan dasar. Meski penghasilannya belum sebanyak ketika aku masih bekerja, namun aku jauh lebih menikmatinya. Aku tidak terbebani menulis artikel meski kewalahan dengan urusan rumah tangga. Aku juga rela mengorbankan jam tidur malam untuk mencapai target artikel per bulan yang aku tetapkan sendiri. Tidak masalah aku capek, selama blog yang aku kelola selalu di-update dengan artikel-artikel baru, itu sudah cukup sebagai bayaran yang setimpal.


Sangat menyenangkan bila passion dan hobi berada di jalur yang sama. Aku merasa jauh lebih hidup!


Hadiah terbesarnya, bila ada pembaca yang mengucapkan terima kasih karena artikel yang aku tulis dapat membantu permasalahan mereka. Contoh yang paling ramai komentar adalah tulisanku mengenai perkembangan bayi 0-4 bulan. Cerita tentang masalah ngulet, ngeden dan muntah pada anak pertamaku di awal kehidupannya, ternyata juga dialami bayi-bayi lain. Kecemasan ibu-ibu dari bayi ini dapat diredam karena mereka tidak sendiri. Aku, dengan sedikit kisahku, memperlihatkan bahwa bayi baru lahir wajar-wajar saja mengalami hal tersebut. 


Meski hanya berupa ungkapan terima kasih sederhana, bahkan disampaikan dengan tidak bertatap muka, namun maknanya begitu besar. Aku merasa berguna bagi orang lain. Aku bisa memberi manfaat dari sesuatu yang aku senangi, yaitu menulis. Mungkin bila aku tidak memilih menulis blog, cerita hidupku tidak akan pernah bisa meringankan masalah orang lain. Bagaimana bisa aku tidak mensyukuri nikmat ini? Semakin hari, aku semakin berusaha keras agar tulisanku lebih banyak lagi memberi manfaat, baik bagi diriku sendiri maupun orang lain. 




Plus-Minus Menjadi Emak Blogger

Plus-minus menjadi blogger
Menjadi emak blogger penuh tantangan dan berlimpah keuntungan | Foto: Dok.pribadi

Berhubung aku seorang ibu, setiap hari mengurus dua balita dan segudang pekerjaan rumah tangga yang tidak berujung, tanpa Asisten Rumah Tangga (ART) dan pengasuh pula, tentu banyak kelebihan dan tantangan selama aktif mengelola blog. Namun percayalah, kesulitan yang mungkin membuat energi terkuras lebih banyak, akan dibalas sesuai dengan apa yang telah diupayakan. Nah, berikut plus-minus menjadi emak blogger berdasarkan pengalamanku.


✔ Plus-nya 

Sengaja aku membahas terlebih dahulu mengenai kesenangan atau manfaat apa saja yang diperoleh emak blogger agar kita semua dapat melihat dari sisi positifnya, alih-alih mengkhawatirkan kesulitannya.

Bebas Stres

Ibu rumah tangga yang memiliki kesibukan lain selain mengurus urusan domestik rumah tangga pasti punya semangat lebih. Pekerjaan monoton itu bisa diimbangi dengan aktivitas menulis yang butuh banyak berpikir, beresksplorasi dan memancing kreativitas. Hidup ibu akan lebih berwarna berkat spirit menulis blog, sehingga terbebas dari kejenuhan dan stres selama di rumah saja. 


Fleksibel

Menulis blog bebas di mana saja dan kapan saja sesuai ketersedian waktu dan tenaga ibu. Mau malam, siang, ketika anak tidur, sembari menyuapi anak, pokoknya sepanjang waktu bisa dijadikan waktu menulis konten blog. Jadi ibu tidak perlu terbebani dengan waktu bekerja yang saklek dan sama setiap harinya. 


Tidak Menuntut Keahlian Tertentu

Selain kemampuan menulis dan merangkai kata, menjadi blogger tidak dituntut untuk menguasai bidang tertentu. Mau sarjana atau tamatan SMA, semua bisa menjadi blogger. Tidak perlu merumitkan pikran dengan topik-topik yang spesifik, curhatan ibu ketika anak malas makan, anak sakit atau tips dan trik mengerjakan pekerjaan rumah tangga bisa dijadikan topik yang ramai pembaca. Anggap saja menulis artikel blog sama seperti menulis caption di postingan media sosial, hanya saja sedikit lebih detail dan panjang.


Urusan Rumah Aman

Karena menulis blog tidak perlu ke mana-mana, maka ibu masih bisa memprioritaskan urusan rumah. Ibu masih tetap leluasa mengasuh anak-anak, memasak, belanja ke pasar atau apa pun. Jadi ibu tidak usah pusing memikirkan bagaimana mengurus rumah untuk aktif menjadi blogger


Mengembangkan Diri

Minimal ibu bisa mengasah kemampuan menulis. Apalagi selama proses menulis ditambah dengan pencarian referensi yang relevan sehingga membuat ibu banyak membaca buku dan artikel. Ilmu baru ini akan menambah wawasan dan memperbaiki pola pikir. Ditambah pula bila ibu bergabung dengan berbagai komunitas blogger, tentu makin banyak ilmu, pengalaman dan relasi yang terbangun. 


Dapat Penghasilan

Biasanya penghasilan blogger datang dari tawaran kerja sama dan memenangkan kompetisi blog. Selama konsisten menulis dan blog dikelola dengan baik, pasti akan menarik pihak luar untuk mengajak bekerja sama, baik untuk review produk, penyampaian informasi melalui liputan atau content placement. Keuntungan ketika memenangkan lomba juga bisa menambah pundi-pundi uang di tabungan. Lumayan, 'kan? 


Dipandang "Lebih"

Tetap di rumah saja mengurus anak tapi tetap bisa produktif, berpenghasilan dan mengembangkan diri? Pasti akan mengubah pandangan orang lain terhadap ibu. Ibu bukan lagi dianggap sebagai ibu rumah tangga yang tak bisa apa-apa, namun ibu bisa membuktikan bahwa status tidak menentukan kualitas seseorang. Jadi praktik mommy shaming yang ibu terima bisa diminimalkan. Ibu juga akan jauh lebih percaya diri.



Minus-nya

Agar semua hasil menyenangkan dari kegiatan nge-blog ibu dapat dirasakan maksimal, tentu harus ada perjuangan di belakangnya. Tidak mungkin tiba-tiba saja menerima hasil kalau tidak ada usaha yang dilakukan. Nah, dalam usaha ini, terdapat beberapa tantangan yang sering dihadapi emak blogger.

Susah Mengatur Jadwal

Namanya saja double job, pasti hari ibu menjadi lebih padat. Masalahnya adalah pekerjaan rumah tangga ini tidak pernah berhenti, meski ibu telah membersihkan rumah di pagi hari, belum tentu ibu tidak melakukan pekerjaan yang sama di siang atau sore hari. Begitu pula dengan anak-anak yang diasuh, ada saja tingkahnya yang membuat ibu kesulitan melakukan banyak hal, termasuk menambah artikel blog. Kalau ibu tidak memiliki keinginan kuat dan berpandai-pandai membuat jadwal menulis blog, bisa-bisa halaman blog tertingal begitu saja dalam waktu lama. 


Konsentrasi Terbagi

Baru saja menemukan ide tulisan, eh, anak menangis karena kepalanya kejedot meja. Atau sengaja begadang hingga tengah malam untuk mengejar deadline, eh, anak tiba-tiba memanggil minta ditemani tidur. Ujung-ujungnya malah ikutan tidur dan apa yang telah dipikirkan kembali buyar. Lanjut lagi memaksakan diri menulis sambil menemani anak bermain, malah ditanya ini-itu sehingga kalimat yang sudah ada di kepala tak kunjung dituangkan. Menulis membutuhkan konsentrasi agar kalimatnya jelas dan pesan tersampaikan dengan baik. Sedangkan kondisi ibu yang  harus menangani banyak hal, membuat konsentrasi ini sulit sekali didapatkan.


Prosesnya Lebih Panjang

Kesulitan ibu membagi waktu pasti berimbas kepada proses dan waktu dalam mencapai tujuan sebagai blogger. Bila orang lain butuh satu tahun untuk bisa membangun blog yang menarik dan berhasil bekerja sama, mungkin ibu butuh dua atau tiga tahun. Kesabaran adalah hal terpenting agar ibu dapat terus konsisten melanjutkan upaya agar dapat menjadi blogger hits dan berprestasi. Hal inilah yang paling sering membuat ibu sulit konsisten. Ingin cepat-cepat mendapatkan hasil yang bagus, padahal kondisinya sulit disesuaikan.


Terbatas untuk Kegiatan Di Luar Rumah

Ibu dengan balita tanpa ART atau pengasuh dan jauh dari keluarga, event-event blogger yang diadakan di tempat tertentu hanya menjadi angan-angan. Semenarik apa pun acaranya, tetap saja langkah ibu terbatas. Untungnya selama pandemi, semua event dilakukan secara daring, jadi ibu tetap bisa mengikuti. Tapi bila pandemi usai, tentu akan kembali ke keadaan semula.


Gampang Baper

Aku tidak tahu apakah emak blogger lain juga merasakan hal yang sama, namun aku merasa lebih mudah terbawa perasan bila apa yang aku inginkan tidak tercapai. Mungkin karena keterbatasan gerak dan waktu, aku menjadi sangat sedih jika upayaku ternyata jauh di bawah ekspektasi. Untuk menghasilkan satu artikel saja aku butuh begadang dan bingung membagi waktu. Kadang kesal sendiri karena aku tidak lagi bebas, bahkan hanya untuk menulis beberapa paragraf.


Meski ada kelebihan dan tantangan, semuanya tetap menjadi bagian dari proses untuk menjadi blogger sesuai tujuan. Kelebihannya bisa dijadikan pemicu semangat agar pantang menyerah dalam belajar dan berkarya, sedangkan tantangannya bisa dijadikan cambukan untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Bagiku, semuanya merupakan satu kesatuan yang seru serta pantas untuk disyukuri dan dinikmati. 




Tips Tetap Bisa Nge-blog Meski Sibuk

tips menulis blog
Selama ada kemauan, pasti ada jalan menulis blog sesibuk apa pun | Foto: freepik.com

Awal terjun ke dunia blogging, tidak ada kendala sama sekali karena aku masih menulis suka-suka dan hanya mengasuh anak pertama yang masih belum banyak beraktivitas. Sekarang, dengan dua balita, makin padat saja pekerjaan rumah tangga yang harus aku selesaikan. Membagi waktu untuk menambah artikel blog tentu menjadi tantangan baru. Belum lagi bayangan deadline yang semakin membuat merinding bila belum ada satu patah kata pun yang tertulis.


Meski sulit, bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Pasti selalu ada solusi bila kita mau berusaha. Sekadar sharing, inilah beberapa tips yang aku lakukan agar tetap bisa nge-blog meski sibuk.


1. Komitmen dan Konsisten

Komitmen untuk terus menulis dan belajar adalah modal utama agar tetap konsisten publish artikel. Tanpa kedua hal ini, pasti ada saja kendala yang terjadi. Malas, capek, kehabisan ide, mentok atau berbagai alasan lain yang membuat niat menulis luntur seketika. Tanpa komitmen, kita menjadi lebih mudah melanggar aturan yang dibuat dan menunda-nunda menulis. Begitupun dengan konsisten, tidak rutin menulis juga memperlama perkembangan diri serta bisa jadi mengikis komitmen yang telah dibangun secara perlahan hingga akhirnya mengisi artikel blog sudah tidak diprioritaskan lagi.


Jadi bagaimana cara menjaga komitmen untuk nge-blog? Dengan tetap konsisten. Sebaliknya juga begitu, konsisten akan membantu untuk tetap menjalankan komitmen. Keduanya penting dan saling bergantung.


2. Tentukan Target

Menetapkan target itu penting! Buatlah deadline sendiri. Sesuaikan kemampuan dan kondisi kita untuk menentukan target artikel yang harus ditulis dalam satu kurun waktu.  Jangan terlalu longgar dan jangan pula terlalu ketat, agar tulisan yang dihasilkan tidak asal-asalan karena waktu yang terlalu sempit atau malah kelupaan karena deadline yang terlalu lama.


3. Sisihkan Waktu Khusus untuk Menulis

Ini adalah bagian yang paling sulit dilakukan. Kebiasaan dan jadwal keseharian dari dua anak yang berbeda membuatku merasa kesulitan menentukan waktu menulis yang tepat. Perlu digarisbawahi bahwa waktu yang tepat bagiku belum tentu tepat juga untuk orang lain, dan sebaliknya. Jadi menentukan waktu menulis harus menyesuaikan keadaan masing-masing individu. Ada yang masih tetap bisa menulis dan berpikir meskipun dalam keadaan ribut dan ramai, tapi ada juga yang butuh suasana hening tanpa gangguan untuk menyusun kata.


Berhubung aku lumayan bisa berkonsentrasi dalam suasana yang sedikit ribut dengan ocehan anak-anak, aku begitu memanfaatkan kondisi ini dengan selalu berupaya maksimal menyicil tulisan di sepanjang hari. Jika batas akhir semakin dekat, aku harus merelakan beberapa jam waktu tidur malam untuk menuntaskan artikel. Biasanya jika ada sedikit waktu agak longgar di siang hari, aku menulis saja secara spontan dan gamblang. Barulah di malam hari mengoreksi, meng-edit serta mempercantik dengan menambah gambar. 


4. Pikirkan Ide Tulisan Kapan Saja

Waktu menulis bukanlah waktu memikirkan ide, tapi waktu untuk mengembangkan ide yang sudah ada ke dalam deretan paragraf. Lalu, kapan waktu memikirkan ide? Sepanjang kita terjaga. Ide bisa muncul kapan saja bahkan saat kamu sibuk sekalipun. Dengan cara seperti ini, waktu menulis tidak akan terganggu dan kita juga tidak perlu menyediakan waktu khusus hanya untuk duduk diam berpikir mencari ide.


5. Catat Sebelum Lupa

Apapun ide yang terbersit dalam pikiran, langsung ditulis. Tidak peduli nantinya akan dijadikan artikel atau tidak, yang penting tulis saja dulu. Ide itu suka hilang-timbul. Sekarang ingat, nanti belum tentu. Makanya selagi masih hangat dalam pikiran, catatlah sebelum lupa. Selalu sediakan note, baik berbentuk digital atau yang betupa buku kecil. Taruh di tempat yang mudah dijangkau agar tidak memancing rasa malas. 


6. Temukan Mood Booster

Hal terakhir yang dibutuhkan agar tetap eksis nge-blog adalah dengan adanya mood booster. Mood booster adalah segala hal, baik kegiatan, orang, barang, makanan, minuman atau apapun itu, yang keberadaannya bisa memperbaiki suasana hati. Aku biasanya menjadikan secangkir kopi manis dan tulisan baru teman-teman dalam akun komunitas blogger di media sosial sebagai mood booster andalan. Selain itu melihat wajah anak-anak saat tidur juga ampuh membuatku segera menuntaskan satu judul artikel. Merekalah alasan utamaku untuk tetap semangat agar menjadi "sesuatu" yang pantas dibanggakan nantinya. 


Itulah beberapa tips yang aku lakukan agar tetap konsisten mengisi konten blog. Banyak yang mengeluh malas menulis karena padatnya aktifitas. Sebenarnya hal tersebut wajar saja terjadi bila belum ada komitmen untuk menulis. Jika tidak ada komitmen, tentu saja menulis bukan menjadi sebuah prioritas dan besar kemungkinan tidak akan ada usaha kuat untuk tetap konsisten melakukannya. Jadi tetaplah fokus menulis agar tidak memberi ruang semakin luas pada rasa malas yang merugikan.




Ibu Rumah Tangga Punya Kesempatan yang Sama untuk Sukses

Ibu Rumah Tangga Bisa Sukses
Ibu rumah tangga juga bisa sukses! | Foto: freepik.com

Semangat untuk maju memang berasal dari diri sendiri. Terkadang stigma yang membayangi ibu rumah tangga sering menurunkan kepercayaan diri. Misalnya ketika ibu yakin sekali untuk memulai bisnis, namun karena disepelekan dan banyak mendengar komentar negatif, ibu malah memilih mengubur impian yang sudah terencana apik. Miris sekali bukan?


Hal pertama yang harus diubah adalah pola pikir ibu. Tidak ada yang lebih mengenal diri ibu selain ibu sendiri. Bila ibu merasa mampu melakukan sesuatu, maka lakukanlah. Tidak ada gunanya hidup dalam bayang-bayang orang lain. Setiap orang pasti punya kelebihan, apa pun statusnya. Tidak hanya ibu bekerja saja yang busa sukses, namun ibu rumah tangga juga memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Bila ibu bekerja berjuang di kantor demi meraih impian, maka ibu rumah tangga berjuang di rumah demi meraik kesuksesan. Sama saja bukan? Hanya lokasinya saja yang berbeda


Balas dendam terbaik adalah dengan prestasi.


Mari kita ambil contoh kasus yang terjadi padaku. Bekerja sebagai PNS jelas merupakan prestasi yang membuktikan bahwa aku memiliki kemampuan dan diakui dalam wujud sebuah posisi di instansi pemerintah. Setelah resign, kemampuan ini seperti tak terlihat lagi, karena menjadi ibu rumah tangga dinilai tidak membutuhkan skill khusus yang didapat dari jenjang perguruan tinggi. Nah, dengan menjadi blogger, aku membuktikan bahwa skill ini tetap bisa aku aplikasikan dalam karya tulis yang bermanfaat untuk orang lain. Meski belum besar, aku juga mendapat penghasilan tambahan. Bukankah sudah terlihat bahwa ibu rumah tangga juga bisa produktif dan sukses seperti ibu bekerja? 


Contoh lain misalnya ibu yang memiliki latar belakang sarjana Desain Komunikasi Visual (DKV). Bila ibu bekerja, maka posisi yang sesuai adalah menjadi web designer, illustrator atau graphic designer. Lalu bayangkan pula bila ibu memilih untuk full di rumah mengurus keluarga, apakah keahlian ini tidak bisa digunakan lagi? Tentu saja bisa! ibu dapat memilih menjadi pekerja lepas dengan menawarkan jasa dalam bidang yang sama. Selain ibu lebih leluasa berkarya karena semuanya dilakukan mandiri, tidak menutup kemungkinan juga ibu bisa lebih sukses dan membuka lapangan pekerjaan baru.


Ini hanya beberapa contoh saja. Banyak lagi kemampuan dan kesempatan lain yang bisa membawa ibu menuju kesuksesan meski tidak mengabdi pada sebuah perusahaan atau instansi. Bukan berarti seseorang yang hanya di rumah saja tidak bekerja dan tidak produktif. Apalagi di tengah teknologi maju seperti ini, lokasi, jarak dan mobilitas bukanlah sebuah halangan. Di mana saja ibu, apa pun status ibu, mau ibu rumah tangga atau ibu bekerja, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Walau mungkin cara yang ditempuh berbeda, tidak akan mengurangi sedikit pun kesempatan tersebut.



Kesimpulan

Stigma di masyarakat masih saja menganggap bahwa ibu rumah tangga tidak bisa apa-apa. Apalagi bila sebelumnya ibu memiliki pekerjaan tetap, lalu kemudian memilih resign kerena berbagai alasan. Stigma ini akan semakin menjadi-jadi dan tidak jarang komentar menyudutkan akan diterima ibu.


Padahal semua itu adalah hal keliru. Banyak sekali usaha sukses yang lahir dari kegigihan dan kreatifitas seorang ibu rumah tangga. Bahkan sebenarnya ibu rumah tangga punya kebebasan lebih untuk melakukan apa yang disukai tanpa ada aturan mengikat. Bukankah sangat menyenangkan ketika hobi dijadikan profesi? 


Blogger, merupakan salah satu profesi yang cocok bagi ibu rumah tangga. Aku salah satu ibu yang membuktikan bahwa menjadi blogger telah banyak memberi manfaat dalam mengembangkan diri. Ini secara langsung mematahkan stigma yang meremehkan kemampuan ibu rumah tangga. Selama ibu sendiri mau memiliki tujuan dan berjuang untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka ibu rumah tangga juga memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. 


Nge-blog itu seru. Bisa bercerita, berbagi, melepas stres, mengisi waktu, mengembangkan diri, mendapat ilmu, bertemu teman baru, berkompetisi bahkan mendapat penghasilan tambahan.


Semoga bermanfaat.



Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Blog #SUPERBercerita dengan tema yang dipilih adalah Pengalaman & Motivasi Menjadi Blogger.



14 comments:

  1. Apapun yg bisa membuat diri kita bahagia, lakukan. Yang bisa merasakan bahagia tdknya kita ya diri kita sendiri bukan orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mbak. Kadang kita memang harus mengutamakan kebahagiaan kita dulu ya, biar nggak tertekan 😁

      Delete
  2. Setuju sekali sama tulisan mbk. Aku setelahbresign kerja baru memikirkan blog yg lama ditinggal. Dan sekarang baru memulai dr nol. Belajar menulis dan hal2 yg dibutuhkan sbg blogger. Memang butuh perjuangan lebih apalagi anak sudah aktif sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, Mbak. Selama konsisten, pasti bisa. Cuma karena kita emak2, rada susah nyari waktu nulis yang pas 😅

      Delete
  3. sekarang ibu rumah tangga sudah hebat, sudah bisa punya penghasilan sendiri dari rumah saja, apalagi di masa pandemi kayak gini, malah penghasilannya tidak terpengaruh dengan pandemi karena memang kerjanya ya di rumah aja, tetep bisa berpenghasilan ya mbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Selagi ada kemauan, pasti ada jalan. Nggak menutup kemungkinan ibu rumah tangga yang di rumah aja bisa berpenghasilan juga :)

      Delete
  4. keren mba nova

    salam semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Makasih, Mbak. Salam semangat juga 💪🏼

      Delete
  5. semua pilihan ada di tanagn kita sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Harus berani memilih mana yang paling tepat untuk hidup kita :)

      Delete
  6. sebagai seseorang yang sebenarnya tidak ingin menjadi pns tapi mencoba beberapa kali setiap ada cpns aku sangat paham kenapa orang lain ikut 'menggugat' keputusan mba resign dari pns. memang itu 'keputusan gila' mba. Tapi akhirnya orang akan diam meski butuh waktu. Semangat mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar juga sih, Mbak, kalau menjadi PNS dianggap sebagai pencapaian luar biasa. Soalnya akan menerima gaji sampai tua. Jadi secara finansial dinilai lebih aman.

      Makasih, Mbak. Harus semangat! Banyak jalan menuju sukses 💪🏼
      Mbak juga selalu semangat dan sukses, ya 😊

      Delete
  7. Ah mba nova keren banget sih baik isi infograsi konsisten di ig juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Terima kasih, Mbak ❤
      Semoga kita sama-sama selalu semangat, ya 💪🏼

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)