Keuntungan dan Tantangan Memiliki Anak dengan Jarak Usia Dekat

Jarak usia anak dekat
Keseruan mengasuh balita dan bayi sekaligus memberi banyak keuntungan dan tantangan

Beberapa waktu lalu netizen dihebohkan dengan keputusan seorang public figure wanita tanah air yang menyatakan bahwa ia dan suami sepakat menganut child free, yang artinya tidak memiliki anak dalam pernikahan. Berbagai pertimbangan matang tentu sudah mereka pikirkan. Memang menjadi orang tua tidak sesederhana melahirkan dan memberi makan, namun perjuangannya begitu besar dengan tanggung jawab yang luar biasa. 


Berbeda sekali kondisinya dengan mereka yang ingin child free, saya memiliki dua anak dengan jarak kelahiran yang cukup dekat, yaitu 2 tahun 4 bulan. Bukannya tanpa pertimbangan, saya dan suami merencanakan banyak hal atas kelahiran anak kami. Sadar akan tantangannnya, begitu pula keuntungannya. 


Saya sempat membuat survey kecil-kecilan melalui beberapa pertanyaan di akun instagram pribadi. 55% dari kontributor lebih memilih memberi jarak yang cukup jauh antar anak karena merasa tidak kuat bila harus merawat lebih dari satu balita sekaligus. 45%-nya lagi menjawab tidak masalah bila mereka memiliki anak dengan jarak usia dekat dengan alasan biar "sekalian capek". Ternyata bukan cuma saya lo, masih banyak orang tua yang menginginkan punya anak dengan jarak lahir berdekatan!


Baca juga: Pentingnya Merencanakan Waktu Kehamilan dan Jumlah Anak Setelah Menikah, Pertimbangkan 7 Hal Ini!




Keuntungan Punya Anak dengan Jarak Usia Dekat

Nah, sebagai bahan pertimbangan bagi kamu yang berencana memiliki anak kembali dan Si Kakak masih berusia kurang dari dua tahun, berikut beberapa keuntungan punya anak dengan jarak usia dekat berdasarkan apa yang saya alami.


Sekalian Capek

Inilah alasan utama kenapa orang tua memilih untuk segera memiliki anak meski anak sebelumnya masih batita. Mengurus anak yang belum mampu mandiri pasti menguras tenaga orang tua. Biarlah sekarang mencurahkan semua waktu untuk anak, agar nanti bila anak sudah mulai sekolah dan punya kehidupan sendiri, orang tua bisa lebih bebas melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.


Seperti saya dan suami yang memiliki banyak mimpi, sedangkan melakukannya sembari mengasuh balita tidak mungkin dilakukan. Saya ingin sekali fokus menulis dan bercita-cita melanjutkan S-2. Suami pun juga bermimpi untuk mengembangkan toko online action figure-nya menjadi semakin besar. Setelah dijalani, ternyata upaya mewujudkannya tidak dapat dilakukan maksimal karena kami harus memprioritaskan waktu untuk anak-anak. Karena alasan inilah kami sepakat untuk memiliki anak kedua meski anak pertama masih berusia 1,5 tahun. Biar mimpi-mimpi itu dapat segera dikejar kembali.


Masih Terbiasa 

"Mumpung belum lupa cara memandikan anak, belum lupa rasanya begadang setiap malam menyusui anak dan belum lupa resep-resep bubur bayi". Kebiasaan orang tua ketika memiliki bayi ini pasti membutuhkan perjuangan ektra untuk beradaptasi. Apalagi masalah-masalah pengasuhan balita yang pasti selalu ada, tentu perlu kemampuan dari orang tua dalam menanganinya. Maka dari itu, sebelum rasa dan ilmu dari anak sebelumnya belum hilang, lebih baik memiliki anak lagi. Jadi tidak perlu mengulang proses adaptasi dengan kehidupan baby kembali.


Baby Blues Syndrome yang sempat saya alami saat kelahiran anak pertama seakan menjadi bayangan buruk. Takut terjadi lagi ketika melahirkan anak selanjutnya, saya akhirnya mantap memilih segera punya anak lagi agar tidak perlu mengalami perubahan hidup yang drastis kembali. Bayangkan bila anak pertama sudah berusia 5 tahun atau lebih, pasti tidur malamnya sudah nyenyak, makannya sudah enak dan tidak masalah ditinggal bermain sendiri selagi saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kenyamanan ini tentu akan berubah ketika memiliki anak kedua, sehingga saya harus berusaha kembali untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran baby newborn.


Tidak Perlu Membeli Kebutuhan Bayi Lagi

Kalau hanya berjarak di bawah 3 tahun, Si Adik bisa memakai baju-baju lungsuran Si Kakak yang masih bagus. Apalagi baju bayi baru lahir yang hanya dipakai sebentar saja, sudah dapat dipastikan bisa dipakai kembali. Bukan hanya baju, berbagai perlengkapan mandi bayi, mainan bayi, keperluan menyusui untuk ibu, botol-botol susu dan alat makan masih lengkap tertata di tempat yang mudah dijangkau. Sangat membantu menghemat keuangan keluarga hingga berjuta-juta. 


Kebetulan anak pertama dan kedua saya laki-laki. Saya tidak membeli perlengkapan baru apa pun ketika Si Adik lahir. Semuanya masih sangat bagus dan sangat layak untuk digunakan kembali. Tubuh bayi tumbuh dengan cepat sekali, sehingga baju-baju yang ia kenakan hanya terpakai sebentar saja. Makanya semua pakaian tersebut masih berkondisi baik. Bahkan sampai sekarang, saya lebih banyak membeli baju hanya untuk Si Kakak. Adiknya pun tidak keberatan, malah bangga ketika mengenakan baju lungsuran karena menganggap ia sudah lebih besar seperti kakaknya.


Anak Punya Teman Main

Anak dengan usia dekat akan memiliki kebiasaan dan selera yang sama. Mereka lebih nyambung dalam berkomunkasi dan bermain karena memiliki ketertarikan yang sama tersebut. Ini akan terlihat jelas ketika adik sudah berusia lebih dari 2 tahun, anak-anak menjadi lebih riang bermain karena merasa memiliki teman. Apalagi di tengah kondisi pandemi yang mengikat langkah kita untuk melakukan banyak aktifitas di luar rumah, anak-anak berpotensi mengalami kebosanan karena tidak bisa bereksplorasi dengan bebas. Disinilah keuntungan ini benar-benar bermanfaat, anak-anak masih bisa bermain riang karena ada teman yang dianggap sebaya untuk diajak bermain sepanjang hari. 


Adik Punya Contoh

Anak pertama bisa diandalkan untuk membantu orang tua dalam mendidik adik-adiknya. Saya tidak perlu mengajari anak kedua saya memegang sendok, minum dengan gelas, mengenal huruf dan angka atau beberapa etika yang baik karena semuanya dipelajari dari sang kakak. Malah lebih cepat menangkap dari pada ketika diajarkan oleh saya atau suami. Saran bagi seluruh orang tua, didiklah anak pertama dengan sungguh-sungguh karena mereka bisa menjadi penolong kita untuk menghendel adik-adiknya ketika kita tidak mampu melakukannya. Bukan berarti lepas tangan kepada anak kedua, ketiga atau keempat, namun ada masa di mana kita sebagai manusia luput mengawasi, menuntun atau melakukan kekhilafan lain, yang akhirnya dapat ditangani oleh Si Sulung. 


Bagaimana, menarik bukan? Kesimpulannya, dari sisi psikologis, memiliki anak dengan jarak usia dekat tidak sepenuhnya menimbulkan akibat yang buruk. Kebiasaan dan pengalaman memiliki bayi dan balita yang masih "segar" membuat orang tua lebih cekatan dan santai dalam pengasuhan. Begitu pula bagi anak-anak, ada kesenangan yang mereka dapatkan karena memiliki saudara sekaligus teman.


Baca juga: Pentingnya Support System untuk Jaga Kesehatan Mental Ibu




Tantangan Punya Anak dengan Jarak Usia Dekat

Ada keuntungan, tentu ada pula tantangannya. Memiliki anak dengan jarak usia dekat dengan kebiasaan dan kebutuhan yang nyaris sama, pastinya menimbulkan kesulitan tersendiri karena usaha yang diperlukan untuk mengasuh mereka menjadi berlipat ganda. Betikut beberapa tantangan tersebut.


Capek!

Sudah jelas, orang tua akan lebih capek mengurus bayi dan balita secara bersamaan dibandingkan dengan satu anak saja. Kakaknya nangis minta cemilan, adiknya nangis minta susu. Kakaknya ingin pup, adiknya malah enggak mau ditaruh di kasur. Kejadian seperti ini sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Saya tidak menggunakan ART atau pengasuh, jadi semua saya mengurus. Belum lagi ditambah dengan urusan rumah tangga, rasanya waktu 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan semua tugas. Saya seperti diburu waktu dengan tugas yang saling bersambung. Bahkan saat jam tidur malam pun, saya harus bangun menyusui dan terkadang juga harus memijiti kaki Si Kakak yang pegal karena terlalu aktif bermain di siang hari. Bertahun-tahun saya lupa rasanya tidur lelap semalaman.


Takut Tidak Adil

Hal yang paling saya takutkan semenjak hamil anak kedua adalah tidak mampu berlaku adil kepada anak-anak. Ketidakadilan ini sangat besar dampaknya bagi mereka, bahkan bisa berujung saling menyakiti. Meski sudah berupaya semaksimal yang saya bisa, terkadang mereka menganggap bahwa saya membela salah satu di antara mereka. Yang paling riskan adalah ketika saya menganggap Si Kakak sudah bisa berpikir dewasa hanya karena ia memiliki adik, padahal sebenarnya ia masih anak-anak yang tidak jauh berbeda dengan adiknya. Ini menjadi tantangan yang paling sulit saya atasi. Saya membaca berbagai artikel parenting agar tidak salah cara.


Pernah sekali anak pertama saya berkata bahwa ia sangat membenci adiknya yang baru berusia satu bulan. Menganggap saya tidak lagi sayang dan hanya memperhatikan adiknya yang lebih sering saya gendong. Saya kaget bulan kepalang. Perasaan cemas langsung menggerogoti sambil mengingat kesalahan apa yang telah saya lakukan. Ternyata penyebabnya adalah karena saya tidak lagi memeluknya ketika akan tidur karena harus menyusui. Dia belum bisa menerima kebiasaan baru dengan kahadiran bayi yang butuh ASI. Akhirnya saya berusaha melibatkan dia lebih banyak lagi untuk mengurus sang adik, mulai dari memilih baju yang akan dikenakan, meminta tolong mengambil popok, ikut memandikan, serta tidak lupa meminta izin setiap kali saya hendak menyusui. Alhamdulillah, perlahan ia mulai memahami dan menerima kehadiran anggota baru dalam keluarga kami.


Rentan stres

Akibat terlalu sibuk dan cepek mengurus dua anak, menikmati waktu untuk diri sendiri menjadi sesuatu yang langka didapat. Untuk tidur saja susah, apalagi me time? Kesulitan menyisakan waktu untuk melakukan apa yang disukai orang tua, rawan sekali menimbulkan stres. Ditambah lagi kondisi anak yang dalam waktu singkat bisa berubah-ubah, misalnya sekarang anteng, satu menit kemudian malah tantrum hanya karena dilarang memakan coklat terlalu banyak. Terkadang berharap bisa tidur siang bareng anak, eh, Si Kakak malah melek minta ditemani main. Khusus untuk kaum ibu yang lebih banyak di rumah bersama anak dikala ayah bekerja, berkurangnya interaksi dengan orang lain selain anak dan pekerjaan rumah tangga akan menambah besar peluang terjadinya stres ini.


Pengeluaran Doubel

Meski orang tua tidak perlu lagi membeli perlengkapan bayi atau kebutuhan ibu pasca melahirkan karena masih ada lungsuran dari anak pertama, kenyataannya pengeluaran ganda tetap harus dibayarkan orang tua. Misalnya membeli popok sekali pakai dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak, baju bepergian yang inginnya samaan atau dua mainan sewarna yang kalau berbeda sedikit saja bisa memancing keributan. Belum lagi ketika anak sudah mulai sekolah, orang tua juga harus mengeluarkan dana dua kali lipat hampir di sepanjang masa pendidikan anak. Pengeluaran yang serba doubel ini tentu menjadi beban tersendiri yang mesti dipertimbangkan.


Kehidupan Suami-Istri Terabaikan

Meaki sudah memiliki anak, kehidupan suami-istri sebagai pasangan tetap harus dijaga. Bukan hanya untuk menciptakan kenyamanan dan kelancaran komunikasi bagi keduanya, namun juga berdampak langsung pada pengasuhan anak. Kesibukan memiliki balita dan bayi yang membuat tenaga dan waktu terkuras habis, pasti mengancam waktu orang tua untuk sekadar bercerita atau berdiskusi tentang kehidupan sehari-hari. Mungkin saja ini akan berlanjut pada kesalahpahaman yang akhirnya berujung pertengkaran. Saya pun pernah mengalami hal seperti ini, tidak lagi sempat memikirkan suami karena tidak mampu lagi membagi waktu. Untung suami mengerti dengan keadaan dan bersabar meski harus masak lauk sendiri, setrika baju kerja sendiri atau turut membantu mengurusi rumah. Makanya penting sekali bagi orang tua untuk membicarakan perihal ini ketika berencana memiliki anak dengan jarak usia yang dekat. 


Lumayan menantang juga 'kan? Tapi orang tua jangan terlalu panik dulu, pasti ada solusi di setiap tantangan. Saya yang awalnya menyangsikan kemapuan saya untuk mengurus dua anak sekaligus, ternyata hingga sekarang fine-fine saja. Mau anak satu, dua, berjarak usia 2 tahun atau 10 tahun, semuanya tetap memiliki tantangan masing-masing. Selama masih ada kerja sama yang baik dari ayah dan ibu, semuanya pasti bisa dilalui. 


Baca juga: Tips Mengatasi Kecemburuan Si Kakak setelah Mempunyai Adik


__________


Rencana memiliki anak, baik jarak usianya dekat atau jauh, tetaplah menjadi keputusan masing-masing keluarga. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena apa pun pilihan yang diambil pasti sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Namun perlu dicatat, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter apabila jarak kehamilan terlalu dekat. Karena berdasarkan beberapa penelitian, dari segi kesehatan sebaiknya ibu memberi jeda 18 - 23 bulan untuk hamil kembali setelah kelahiran anak sebelumnya (menurut Warren, Direktur Eksekutif Parenting Research Center yang dikutip dari id.theasianpatents.com).


Semoga bermanfaat :)


Referensi:

Sebaiknya Berapa Jarak Usia yang Ideal Antara Kakak dan Adik?. Tautan: https://id.theasianparent.com/jarak-usia-yang-ideal-antar-anak



4 comments:

  1. semua pilihan ya, kalau aku sih jarak 4 tahun kenapa, agar saat aku punya anak kedua anak pertamaku sdh mandiri. soalnya aku bekerja jadi butuh anak-anak mandiri. sejak anak keduaku berumur 4 tahun , aku sudah gak pakai art lagi. karena aku mendidik mereka mandiri shg gak ada art juga tak mengapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti pilihan kembali ke orang tua masing-masing. Mana yang dirasa paling tepat dalam menyusun rencana masa depan keluarga 👍🏻

      Kewarasan kita tetap nomor satu 😁

      Delete
  2. jadi inget aku dan adik-adik jaraknya deket 1,5-2 tahun jadi kayak sepantaran / kembar ha3 ...

    salam semangat mba nova

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah lebih dekat lagi jarak usianya ya, Mbak 😁

      Semangat dan sukses selalu buat, Mbak Dewi

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)