Kenali Kurikulum Merdeka agar Tepat Dampingi Pendidikan Anak

No comments

Beberapa kali saya mendengar atau membaca keluhan, ungkapan tidak baik, bahkan kalimat yang menurut saya tidak patut diumbar begitu emosional di kanal online, mengenai Kurikulum Merdeka. Bukannya anti kritikan, malah itu baik untuk kemajuan pendidikan kita bila memang ada dasarnya. Tapi kalau hanya sekadar melepas uneg-uneg tanpa didahului bekal pengetahuan, bisa jadi itu sesuatu yang keliru.


Kenali Kurikulum Merdeka

Kenapa sih ganti-ganti kurikulum segala? Kurikulum Merdeka cuma bikin ribet, bikin stres. Enakan juga kurikulum yang lama.

Ini hanya salah satunya. Nyatanya masih ada deretan kalimat ajaib lainnya. Please, pertanyaan ini pun kalau mau mencerna dengan pikiran jernih, pasti diri sendiri mampu menjawab. Kehidupan dan kebutuhan hidup itu dinamis, modal pendidikan untuk menjalaninya tentu juga harus menyesuaikan. Nah, kalau menganggap Kurikulum Merdeka bikin stres, wajar, karena ini sebuah perubahan. Untuk maju, tentu ada proses perjuangannya. Pindah dari zona yang dirasa nyaman memang tidak mudah, Bestie


Baca juga: 6 Bentuk Kekerasan dalam Pendidikan


Tidak usah kembali jauh-jauh ke puluhan tahun lalu. Dalam jangka waktu 5 tahun saja, apalagi ditambah ada kejadian luar biasa pandemi Covid-19 kemarin, banyak hal yang tidak lagi sama, 'kan?


Karena itulah kita sebagai orang tua penting sekali mengetahui apa itu Kurikulum Merdeka agar bisa mendampingi anak-anak menjalani pendidikannya dengan tepat. Apalagi sekolah anak-anak kita sudah menerapkan Kurikulum Merdeka. Percayalah, Kurikulum Merdeka hadir untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih baik.



Kurikulum Merdeka: Responsif, Inklusif, Adaptif, dan Fleksibel

Kurikulum Merdeka: Responsif, Inklusif, Adaptif, dan Fleksibel

Sebenarnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) sudah membagikan informasi lengkap mengenai Kurikulum Merdeka di website khusus kurikulum.kemdikbud.go.id. Malah tersedia pula fitur untuk membandingkan Kurikulum Merdeka dengan kurikulum sebelumnya yang bisa kita akses dengan mudah. 


Di artikel ini, saya mencoba membahas beberapa di antaranya dan tentunya dengan bahasa versi saya. Sejauh dari apa yang saya baca, pahami, dan ilmu-ilmu yang didapat selama tergabung sebagai Ibu Penggerak, berikut beberapa poin yang menjadi keunggulan Kurikulum Merdeka. Kalau bagi saya pribadi, bila implementasinya maksimal, ini adalah kurikulum yang saya idamkan sejak masih sekolah dulu. 


🌸 Fokus pada Materi Esensial

Apakah kemampuan menghafal dapat menjadi patokan keberhasilan pembelajaran? Meski mampu menjawab semua soal saat ujian karena mampu menghafal semua materi pelajaran dengan baik, pemahaman akan materi tersebut tetap menjadi yang utama. Bagaimana mengolah informasi yang didapatkan dan menerapkannya dalam kehidupan.


Kurikulum Merdeka dirancang demi mewujudkan peserta didik yang menguasai kemampuan esensial atau terpenting dalam sebuah proses belajar. Seperti kemampuan literasi dan numerasi. Melihat hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018, kemampuan baca siswa Indonesia masih rendah serta kemampuan sains dan numerasinya masih di bawah rata-rata. Bersyukur di tahun 2022, hasil tes PISA menyatakan bahwa Indonesia berhasil naik 5-6 posisi. 


Literasi yang lebih lekat dengan kemampuan membaca dan numerasi yang cenderung kepada angka-angka, mesti diimbangi dengan kemampuan baik dalam mengolah informasinya dan memanfaatkannya dalam kehidupan. Bila dulu saat saya masih SD hanya disuruh menghafal penjumlahan atau perkalian, anak saya yang sudah SD saat ini sudah langsung dihadapkan dengan soal cerita yang mengandalkan logika. Awalnya saya agak kaget karena menganggap ini terlalu sulit bagi anak, tapi setelah memahami konsep Kurikulum Merdeka, saya sangat mengapresiasi. 


🌸 Bebas Menentukan Cara Mengajar sesuai Kebutuhan Siswa

Meski tidak berjodoh menjadi guru, saya pernah merasakan mengajar di sekolah inklusi saat kuliah karena menempuh jurusan keguruan. Saya menyaksikan bagaimana siswa berkebutuhan khusus diajari dengan cara berbeda dan tidak jarang di antara mereka menunjukkan kemampuan unggul. Kuncinya, peserta didik butuh cara belajar yang sesuai.


Saya pun pernah menulis mengenai betapa anehnya ketika yang dianggap pintar hanya anak yang jago matematika. Padahal yang pandai menari, berprestasi dalam menggambar, atau yang mahir berolahraga juga merupakan anak-anak cerdas. Karena memang nyatanya kecerdasan manusia itu terbagi dalam 9 tipe. Ini tulisan saya, mungkin teman-teman bisa mampir untuk baca-baca Pentingnya Strategi Belajar yang Hargai Tipe Kecerdasan Anak.


Kurikulum Merdeka sangat menghargai tipe kecerdasan anak dan perbedaan kondisi yang ada dengan membebaskan anak belajar dengan caranya, serta guru yang dapat memilih cara mengajarnya. Mengajar Matematika bisa saja dengan nyanyian, mengasah kemampuan membaca pun sangat memungkinkan dengan aktivitas melukis bila anak memang senang melakukannya. Bahkan guru-guru ini bisa saling berbagi cara kreatif mengajar dan perangkat mengajar lainnya, serta mengikuti pelatihan mandiri di platform Merdeka Mengajar.


🌸 Capaian Pembelajaran Per Fase

Capaian yang dituju tidak berupa angka (kuantitatif), tapi berupa deskripsi kemampuan. Lebih spesialnya lagi, kemampuan ini bukan harus dicapai ketika pertengahan semester atau saat kenaikan kelas, namun dikelompokkan dalam fase-fase. Berdasarkan Capaian Pembelajaran yang ditetapkan ini, satuan pendidikan diberikan kebebasan untuk membuat Tujuan Pembelajaran, serta guru membuat Tujuan Kegiatan, yang sesuai dengan kebutuhan.

Fase Fondasi untuk PAUD

Fase A untuk kelas 1-2 SD/sederajat

Fase B untuk kelas 3-4 SD/sederajat

Fase C untuk kelas 5-6 SD/sederajat

Fase D untuk kelas 7 - 8 SMP/sederajat

Fase E untuk kelas 10 SMA/sederajat

Fase F untuk kelas 11-12 SMA/sederajat


Fase ini akan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai kecepatan dan caranya masing-masing, serta guru pun juga dapat mengajar menyesuaikan kecepatan dan kebutuhan tersebut. Siswa tidak mesti menempuh waktu pencapaian yang sama untuk semua mata pelajaran. Misal anak yang cerdas matematika meraih target Capaian Pembelajaran dengan lebih cepat, namun agak pelan untuk mata pelajaran olah raga. Itu tidak masalah, yang penting masih dalam batas waktu setiap fasenya.


Contoh Capaian Pembelajaran Fase A (Umumnya untuk kelas I dan II SD/MI/Program Paket A)

Pada akhir fase A, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 100, termasuk melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan tersebut. Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan cacah sampai 20, dan dapat memahami pecahan setengah dan seperempat. Mereka dapat mengenali, meniru, dan melanjutkan pola-pola bukan bilangan. Mereka dapat membandingkan panjang, berat, dan durasi waktu, serta mengestimasi panjang menggunakan satuan tidak baku. 

Contoh Capaian Pembelajaran Setiap Fase Berdasarkan Elemen
Contoh Capaian Pembelajaran Setiap Fase Berdasarkan Elemen | Sumber: kurikulum.kemdikbud.go.id


🌸 Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Selain pelajaran intrakurikuler, siswa juga mengikuti proyek ini untuk mengasah keterampilan, kreativitas, kerja sama, kemandirian, atau secara keseluruhan mencakup seluruh dimensi Profil Pelajar Pancasila, dengan mengangkat isu-isu penting saat ini. Dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dimaksud adalah (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong-royong, (4) mandiri, (5) bernalar kritis, dan (6) kreatif.


Isu-isu penting yang diangkat akan dibahas dengan berkolaborasi dan terintegrasi dengan banyak mata pelajaran. Siswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk memecahkan masalah, menemukan hal baru, atau pengembangan apa pun dengan kebebasan yang diberikan asalkan masih sesuai dengan isu yang diangkat. Guru-guru yang terlibat pun tidak guru satu mata pelajaran saja, tapi juga berkolaborasi satu sama lain. Menarik, bukan? 


Dengan adanya proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila, siswa tidak lagi hanya menerima satu arah pembelajaran, tapi diberi kesempatan untuk lebih aktif, bahkan sangat aktif, untuk mengembangkan pelajaran yang didapatkan dengan mengeksplorasi dirinya.


🌸 Menerapkan Digitalisasi

Pesatnya perkembangan teknologi, dengan segala manfaat yang diberikannya, diterapkan dalam implementasi Kurikulum Merdeka agar dapat berjalan maksimal hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Bukan hanya memfasilitasi guru, namun segala pihak yang terkait agar sadar akan perannya.


Pertama yang tidak main-main dampak positifnya adalah platform Merdeka Mengajar yang sudah disebutkan sebelumnya. Kemudian ada Asesmen Nasional yang berbasis komputer, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) dengan koleksi buku-bukunya yang dikemas lebih menarik dan banyak gambar, bisa diunduh secara gratis, e-Rapor, Portal Webinar Kurikulum Merdeka, serta menyediakan website khusus untuk sosialisasi dan masifnya update berita online di segala media oleh Kemdikbudristek.


Makanya kalau mau mencari tahu tentang Kurikulum Merdeka dan kabar terbarunya, sangat gampang ditemukan di mesin pencari. Hanya perlu ketik-ketik dan scroll saja. Bahkan pengemasan kontennya luar biasa menarik! Coba deh kepoin Instagram atau channel YouTube-nya. Kalau saya suka sekali mengikuti Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI.



Peran Orang Tua Dibuka Lebar

Peran Orang Tua Dibuka Lebar

Anak sudah memasuki usia sekolah, bukan berarti orang tua lepas tangan dengan pendidikannya. Justru Kurikulum Merdeka membuka lebar gerbang peran tersebut agar anak dapat maksimal mengembangkan potensinya. Hah, gimana sih maksudnya?


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Kurikulum Merdeka sangat fleksibel dalam menerapkan metode belajar. Orang tua sebagai pihak terdekat anak, dapat menjadi rekan sempurna bagi guru untuk menemukan metode belajar paling tepat. 


Selain itu, mengembangkan kemampuan literasi, numerasi, dan juga berproses untuk menanamkan dimensi Profil Pelajar Pancasila butuh keselarasan antara sekolah dan pola asuh di rumah. Kalau apa yang diajarkan di sekolah tidak selaras dengan apa yang diajarkan orang tua di rumah, bisa-bisa hal baik yang sudah dipahami anak akan menguap dan terlupakan begitu saja. Atau khawatirnya malah membuat anak bingung mencerna perbedaan kontras atas informasi yang ia dapat. 


Baca juga: Cara Menghadapi Perundungan Di Sekolah, Anak dan Orang Tua Wajib Tahu!


Dengan berbagai informasi online dan sumber-sumber yang bisa diakses kapan saja, orang tua pun dapat mempelajari dan mengikuti perkembangan Kurikulum Merdeka, agar dapat mendampingi setiap langkah pendidikan anak demi mencapai hasil terbaik. Yakin deh, bila orang tua mau mencari tahu, sadar akan pentingnya meningkatkan pengetahuan mengenai pendidikan anak, kepedulian itu akan tumbuh dan keinginan untuk berjalan beriringan bersama sekolah akan mengikuti dengan sendirinya.


Yuk, sama-sama kita sukseskan praktik baik Kurikulum Merdeka yang telah dirancang sedemikian rupa demi pendidikan yang sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.


Semoga bermanfaat.

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)