5 Plus-Minus Tinggal Di Ibukota Jakarta

4 comments
Di Jakarta semuanya serba mahal.
Tidak juga, asalkan gaya hidup yang dijalani sesuai dengan kemampuan dan tidak suka "ikut-ikutan".

Pendidikan di Jakarta harganya tidak masuk akal.
Tidak juga, masih ada kok sekolah negeri yang memiliki harga yang lebih terjangkau jika dibandingkan dengan sekolah swasta yang uang bulanannya bisa melebihi 1 juta rupiah. Asalkan anak-anak selalu mendapat pengawasan orang tua dan tidak melepaskan pendidikan anak begitu saja kepada pihak sekolah, insyaAllah apapun pilihan sekolahnya pasti anak-anak kita akan mendapatkan pendidikan terbaik.

Pergaulan di Jakarta menyeramkan.
Tidak juga, tergantung individunya masing-masing. Selama masih dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang patut dan tidak patut atau mengukur kemampuan diri sendiri baik dari segi finansial maupun fisik dan mental, semuanya akan baik-baik saja.

Kota besar rawan kejahatan.
Dimanapun kita berada, mau di kota ataupun di desa, kejahatan akan tetap ada. Berusaha maksimal untuk menjaga diri dan selalu waspada dengan keadaan sekitar harus tetap dilakukan kapanpun dan dimanapun. Kejahatan akan terjadi jika ada kesempatan. Selalulah berdoa dan meminta perlindungan Tuhan agar terhindar dari tindak kejahatan dan kriminal.


_________________________________________

Takdir memang sulit ditebak. Tidak ada sedikit pun rencanaku untuk merantau dan menetap di Jakarta. Aku bekerja, bertemu suami dan memiliki dua anak disini. Jakarta menjadi kota penting penuh kisah dalam perjalanan hidupku.

Sedikit berbagi pengalaman, kesan pertama yang aku rasakan saat memulai hidup di Jakarta adalah "CAPEK". Bagaimana tidak, aku harus menempuh perjalanan paling singkat 1 jam dan paling lama 3,5 jam dengan jarak yang sama dari kos sepupu ke kantor menggunakan busway, berdiri pula. Kalau dikalikan dua untuk pulang dan pergi, rata-rata aku bisa menghabiskan waktu dijalan setiap harinya lebih kurang 4 jam. Sedangkan dulu waktu masih di Padang, 20 menit saja sudah menjadi waktu tempuh yang panjang bagiku. Tidak bisa diungkapkan lagi bagaimana remuknya badan ini dengan segala perubahan besar yang terjadi kala itu. Biasanya aku santai, berangkat mepet, sekarang harus memulai langkah sebelum matahari terbit jauh sebelum jam kantor dimulai. 


Jakarta, ibukota negara yang dipenuhi gedung tinggi

Tapi semakin hari aku semakin terbiasa. Malah aku merasa asing jika waktu perjalananku hanya menghabiskan waktu 1 jam saja tanpa macet. Sungguh aku berubah menjadi wanita kuat nan tangguh. 

Menikmati hidup pun terasa lebih mudah. Segala macam fasilitas ada disini. Aku bekerja, menghasilkan uang sendiri dan bebas ingin membeli apa saja. Mulai dari makanan Jepang, Cina, Korea, Vietnam atau Italia sudah pernah aku cicipi. Masuk mall sana sini dan membeli beberapa barang dengan merek ternama juga sudah pernah aku rasakan. Pokoknya untuk berfoya-foya dan hidup penuh gaya sangat mudah dilakukan di kota metropolitan ini.

Kecanggihan teknologi dan ilmu-ilmu baru sudah pasti di Jakarta inilah yang nomor satu. Aku bisa meng-upgrade diri dengan mudah, apalagi jika dibantu dengan teknologi-teknologi yang ada. Contohnya saja sekarang, saat aku memilih menjadi seorang blogger. Sebenarnya blog sudah aku kenali sejak masih berada dibangku kuliah. Tapi karena di Padang masih belum terlalu diminati kala itu, aku juga sama sekali tidak berminat untuk mempelajari blog lebih dalam, apalagi hingga menulis artikel secara rutin. Namun saat aku sudah hijrah ke Jakarta, ternyata di kota besar ini blog sudah menjadi sebuah platform idola bagi sekelompok orang, bahkan ada yang berprofesi sebagai full time blogger. Berbagai fasilitas penunjang seperti pelatihan, event, endorse dan berbagai komunitas blogger sangat banyak membantuku dalam memperdalam ilmu mengenai blog. Dan itu semua mayoritas berpusat di Jakarta.

Eits, jangan terlalu terlena dengan banyaknya kenyamanan yang tampak ya. Jika ada plus, pasti ada minus-nya juga. 

+ Plus 

Maju

Dulu saat masih bekerja, aku sempat melakukan perjalanan dinas ke beberapa provinsi di Indonesia. Tapi tidak ada satupun dari provinsi tersebut yang bisa mengalahkan kemajuan Jakarta baik dari segi infrastruktur bangunan dan jalan seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan jalan tol, atau pun dari segi lainnya seperti teknologi, transportasi, informasi bahkan gaya hidup. Brand-brand ternama yang tidak dijumpai di daerah lain Indonesia ada disini mulai dari fashion, kuliner, perabot rumah tangga atau  furniture. Ilmu pengetahuan yang dimiliki ibukota ini tentunya juga mengimbangi kemajuan-kemajuan tersebut, tersedianya sekolah-sekolah berstandar internasional, banyaknya orang-orang pintar yang peduli akan pengembangan kemampuan diri, serta banyaknya akses informasi yang sangat membantu dalam banyak hal. Jakarta seperti menjadi kota yang serba ada, apa yang dibutuhkan tersedia disini.

Up To Date

Produk keluaran terbaru? Informasi ter-updateFashion ter-hits saat ini? Semuanya sudah pasti dimulai dari Jakarta barulah menyebar ke daerah lain (disini tidak termasuk produk lokal seperti produk oleh-oleh atau kerajinan daerah). Banyak contoh yang bisa dilihat, seperti peluncuran produk baru yang umumnya selalu diadakan dan dijual pertama kali di Jakarta atau perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat terjadi membuat tidak adanya batasan dalam pencarian informasi. Semuanya terfasilitasi dengan baik. Contoh kecilnya saja jaringan internet dan kekuatan sinyal handphone. Beberapa merek saluran komunikasi selalu bermasalah di daerah lain, apalagi daerah timur. Namun beda cerita dengan Jakarta, seolah berlomba untuk memberikan yang terbaik, fitur-fitur dan kecepatan akses selalu berkembang dan semakin memanjakan pelanggannya.

Mental Kuat

Bergelut dengan aktifitas yang serba cepat, tuntutan untuk selalu membangun diri, persaingan dengan berbagai pihak (tentunya persaingan sehat ya), aktifitas dan frekuensi pekerjaan yang padat, serta banyak hal lain yang perlahan membuat mental warga ibukota ini menjadi semakin kuat. Aku merasakan perbedaan yang cukup signifikan dengan cara hidup warga provinsi lain (khususnya luar jawa) yang mayoritas terlihat lebih santai. Bukannya tanpa bukti, aku mengatakan hal ini karena pernah tinggal dibeberapa daerah (selain kampung halaman) dan berinteraksi dengan masyarakatnya walaupun dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bagi aku pribadi, mental yang kuat seperti ini tentunya tidak mudah didapatkan dan sangat berdampak positif dalam menjalani hidup.

Baca juga
Make up Daily Simple Cocok untuk Ibu-ibu Anti Ribet
Tips agar Tetap Fit Bekerja saat Hamil
Tips Lulus Tes CPNS
5 Kunci Sukses yang Wajib Dilakukan oleh Si Peraih Sukses
Hal Berharga yang Direbut Gadget dari Kehidupanmu

Banyak Lowongan Kerja

Wajar rasanya jika warga ibukota terus bertambah setiap tahunnya dan menjadi sangat padat dengan banyaknya pendatang baru yang selalu bermunculan karena memilih Jakarta sebagai perantauannya untuk mengadu nasib. Kenyataannya, disini memang banyak terdapat lowongan pekerjaan yang menjadi surga para pencari kerja. Bayangkan saja dalam satu gedung perkantoran yang bisa terdiri dari beberapa bangunan dan bisa menjulang tinggi hingga puluhan lantai. Berapa karyawan yang dibutuhkan untuk memelihara bangunan ini? Berapa karyawan yang mampu ditampung didalamnya? Berapa meja kerja yang siap ditempati disetiap lantainya? Tentunya sangat banyak. Itu baru satu kantor, masih sangat kantor lain yang serupa. Belum lagi pusat perbelanjaan, taman hiburan, transportasi umum, dan banyak bidang lain yang membuka lowongan pekerjaan. Asalkan berusaha giat, bukannya tidak mungkin untuk melepas status pengangguran disini.

Akses Lebih Mudah

Sebagai ibukota negara, Jakarta menjadi titik tengah dalam perjalanan kemanapun. Penerbangan kemana saja ada, mulai dari domestik hingga luar negeri. Tidak perlu transit, cukup satu kali penerbangan saja (kecuali ke daerah pelosok yang diharuskan menggunakan pesawat yang lebih kecil atau disambung dengan transportasi jalur lain). Ini berlaku untuk dari dan menuju Jakarta. Berbeda dengan daerah lain yang sering kali harus transit jika daerah tujuannha bukanlah DKI Jakarta. Contohnya saja saat aku berada di Palembang dan ingin pulang ke Padang. Walaupun masih dalam satu pulau, aku tidak bisa langsung terbang dari Palembang ke Padang, tapi harus transit terlebih dahulu ke Jakarta. Tetap saja Jakarta yang menjadi pusatnya.


- Minus

Macet

Kepadatan penduduk yang tidak diimbangi dengan layanan transportasi publik yang memadai, tidak adanya pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor khususnya roda empat serta tidak seimbangnya antara jalan yang tersedia dengan pengguna jalan, membuat jalanan di Jakarta sudah identik dengan kemacetan.


Luas wilayah daratan DKI Jakarta sekitar 661 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 9,6 juta di siang hari, dan meningkat menjadi 12 juta pada malam hari, membuat rasio jalan hanya 6,2 persen. Angka ini jauh dari kata ideal. Contohnya Singapura dengan luas daratan hampir sama dengan DKI Jakarta, namun memiliki rasio jalan mencapai 12 persen.
Sutanto SuhodhoDeputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Transportasi, Perdagangan, dan Industri (sindonews.com)

Setiap hari pasti selalu terkena macet, seperti sudah menjadi bagian hidup dan dianggap lumrah. "Tua di jalan", bukan hanya kata kiasan semata, tapi memang begitulah kenyataannya. Warga Jakarta sudah terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam di jalan sebagai rutinitas. Malah terasa asing jika tiba-tiba menempuh perjalanan dengan lancar tanpa melihat macet. 

Banjir

Ini bukan bencana alam, tapi pengeloalaan saluran pembuangan air yang mungkin sudah dikesampingkan demi mengejar pembangunan. Masyarakat juga harus segera sadar bahwa sampah yang dibuang ke selokan atau kali tidak akan hilang dengan sendirinya, tapi akan selalu tetap ada menyumbat saluran air yang seharusnya bisa mengatasi banjir.

Hujan setengah hari saja bisa menyebabkan banjir hingga ketinggian 5 meter. Bayangkan betapa mirisnya keadaan saluran pembuangan air di Jakarta ini. Bagaimana tidak, banyak saluran pembuangan air yang sudah tertutup beton dan tersumbat sampah. Bagaimana air hujan akan mengalir dengan lancar jika salurannya saja tersumbat. Warga ibukota selalu merasa was-was jika hujan turun dalam beberapa jam, takut banjir dan banyak genangan air dimana-mana. Dampak terdekatnya adalah kemacetan yang lebih parah dari biasanya. Belum lagi rumah-rumah yang terendam banjir, bahkan airnya bisa mecapaiatap. Daerah yang langganan banjir pun ada, seperti sebuah karang yang ketegaran mereka selalu terasah setiap kali banjir datang.

Polusi

Biang utama penyebab polusi udara di Jakarta adalah akibat asap kendaraan bermotor. Sekitar 47 % partikel debu 10 mikron disumbang oleh mobil maupun motor. Dari sektor industri menyumbang sekitar 22 persen polusi udara. Dan rumah tangga 11 persen, lalu debu jalanan 17 persen, pembakaran sampah 5 persen, juga dari proses kontruksi gedung dan lain-lain, sumbang 4 persen.Ahmad SafrudinDirektur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (detik.com)


Banyak kendaraan, pasti juga banyak polusi. Mungkin sudah menjadi berita menggegerkan yang sama-sama kita ketahui pada bulan September tahun lalu bahwa berdasarkan website AirVisual, Jakarta menempati peringkat pertama sebagai kota yang paling berpolusi (13 September 2019, pukul 11.31 WIB). Polusi yang begitu pekat ini tentu membahayakan kesehatan. Mengenakan masker kemana-kemana menjadi pilihan terbaik untuk menangkal polusi agar tidak masuk ke dalam saluran pernafasan. Makanya di Jakarta ini sudah tidak asing lagi melihat banyaknya orang yang menggunakan masker selama berada di luar ruangan.

Rawan dalam Pergaulan

Gaya hidup yang lebih bebas dan bertebarannya fasilitas berfoya-foya di Jakarta sungguh membuat banyak orang menjadi haus akan pengakuan. Yap, pengakuan agar dibilang eksis, kaya, sosialita, cantik, dan sebagainya. Ditambah lagi mudahnya budaya asing yang masuk, seakan memudarkan budaya timur yang menjadi kebanggaan Indonesia selama ini. Nongkrong sampai larut malam dan pulang dini hari pun seperti tidak ada yang peduli dan dianggap biasa. Jika tidak pandai menjaga diri, sangat besar kemungkinannya untuk terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik. Belum lagi gaya hidup glamor yang membuai, bisa-bisa tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan melayang begitu saja hanya demi terlihat setara. Membatasi pergaulan dan memilih gaya hidup sesuai kemampuan menjadi sangat penting disini.

Minim Wisata Alam

Hampir seluruh wilayah Jakarta sudah tertutupi bangunan dan hanya menyisakan sedikit sekali taman-taman kota untuk menjadi area terbuka hijau. Mungkin satu-satunya wisata alam yang tersisa hanyalah kawasan Ancol di bagian utara Jakarta. Itupun sudah terlihat tidak alami lagi karena tetap saja dipenuhi banyak pembangunan disana sini. Bahkan saat terakhir kali aku kesana diakhir tahun 2019, terlihat tumpukan pasir putih yang membendung pantai sehingga tidak ada lagi ombak-ombak besar yang menjadi ciri khas pantai itu sendiri. Tapi Jakarta masih menyuguhkan beberapa pilihan wisata lain meskipun bukan merupakan wisata alam. Contohnya Kota Tua, Monas dan beberapa museum lain, atau yang paling mudah dan cepat ya ke mall terdekat saja.


_________________________________________

Itulah beberapa plus-minus tinggal di ibukota Jakarta yang aku rasakan. Semuanya tetap kembali kepada diri sendiri, karena semua kelebihan dan kekurangan itu jika bisa dimanfaatkan dan diatasi dengan baik pasti kehidupan yang seimbang akan tetap didapatkan. 

Semoga bermanfaat :)


4 comments

  1. Saya pernah tinggal di Jakarta, ikut suami. Sayangnya tidak lama karena suami mutasi ke kota lain. Kalau pergaulan itu menurut saya, tinggal bagaimana kita memilih teman yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba, aku setuju.
      Kalau kata orang tua dulu "nggak boleh pilih-pilih teman", tapi kenyataannya memilih teman itu penting demi menjaga diri.

      Delete
  2. wah kalau aku ditawarin tinggal di jkt gak mau deh, suaknya yang kotanya tenang , gak macet

    ReplyDelete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)