Showing posts with label Sekolah Anak. Show all posts

Tips Sukses Sekolah Online yang Efektif agar Anak Tetap Fokus, Orang Tua Wajib Coba!

2 comments
Foto : freepik.com
Tahun ajaran kali ini memang berbeda. Proses belajar mengajar yang selalu dilaksanakan dengan tatap muka di sekolah, sekarang dialihkan ke rumah masing-masing peserta didik. Pandemi menuntut orang tua untuk aktif mendampingi proses belajar anak di rumah, ya bisa dibilang menggantikan peran guru untuk mengajar, mengawasi dan mengontrol anak agar pelajaran bisa disampaikan dan diterima dengan baik.

Apakah mudah? Tentu saja tidak!  Tantangan baru ini tidak jarang membuat orang tua dan anak kebingungan, panik, kesal, marah bahkan stres.

Aku termasuk orang tua yang juga mengalami kesulitan saat menjalani proses sekolah online ini. Keputusan untuk tetap memasukkan anak sekolah dalam suasana pandemi, membuat aku harus menerima segala konsekuensi atas berbedanya proses belajar mengajar yang terjadi. Memang anak pertamaku masih berusia 4 tahun, aku bisa saja menunda 1 tahun lagi untuk langsung memasukkannya ke TK dan melewatkan jenjang KB (Kelompok Bermain). Tapi karena hasil pertimbangan yang sudah disepakati dengan suami dan dirasa akan banyak manfaat positif untuk perkembangannya, akhirnya anakku resmi diterima di sekolah anak usia dini yang sudah pasti proses belajarnya akan dilaksanakan secara online sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Sudah sejak Agustus lalu aku membersamai anak sekolah online dari rumah. Beberapa hari diawal, anakku masih antusias belajar, karena ini memang pertama kali untuknya. Tugas yang diberikan juga masih ringan, hanya sekedar pengenalan dan beberapa pola gambar untuk diwarnai. Tapi lama kelamaan, dia mulai banyak bertingkah. Kadang mengeluh capek padahal baru memegang alat tulis, bertele-tele atau perhatiannya mudah teralihkan bahkan hanya dari suara kecil. Tugas yang sebelumnya bisa diselesaikan hanya kurang dari satu jam, sekarang bisa sampai sore hari. 

Disaat inilah aku menjadi sering marah, tidak sabar, tertekan dan bingung harus menghadapinya dengan sikap yang bagaimana. Anakku juga meresponnya dengan sikap melawanan, sehingga waktu sekolah online berubah menjadi ajang peperangan. 

Merasa bahwa ini adalah tanggung jawab yang tidak bisa dihindari, dan aku adalah satu-satunya orang di rumah yang bisa full time mendampingi anak sekolah online, bagaimanapun juga aku harus segera menemukan solusinya. Akhirnya, meskipun ada beberapa kali trial-error, inilah beberapa tips paling sukses untuk menciptakan suasana belajar di rumah yang efektif dengan fokus anak yang selalu terjaga.

1 Tetapkan Jadwal Sesuai Jam Sekolah

Pihak sekolah yang memberikan kemudahan untuk bebas melaporkan tugas anak kapan saja, bisa pagi, siang atau malam, membuat aku tidak mematok jam tertentu untuk anak sekolah online kecuali untuk video call. Diawal masa sekolah, aku mengira menunggu mood anak berada di level terbaik adalah cara paling yang tepat. Ternyata ini tidak efektif sama sekali. Anak menjadi menyepelekan tugas sekolah dan beranggapan bahwa itu sesuatu yang bisa ditunda sesuka hati. Padahal sekolah merupakan hal rutin wajib yang harus dilakukannya. Maka dari itu aku berinisiatif untuk tetap menggunakan jadwal sekolah seperti biasa yaitu jam 8 pagi hingga jam 11 siang untuk mengerjakan tugas harian yang diberikan guru. Jika anak terlihat lelah dan butuh waktu istirahat, maka anak boleh istirahat memakan cemilan atau bermain sebentar saja, sekitar 15 menit. Secara tidak langsung ini akan menanamkan pada diri anak bahwa sekolah merupakan aktifitas wajib dan teratur yang harus dilakukan, sama seperti makan, mandi atau tidur.



Jauhkan Segala Sesuatu yang Mengalihkan Perhatian

Tidak bisa dipungkiri bahwa bermain selalu menjadi sesuatu yang paling disukai anak-anak. Wajar jika sesuatu yang berisik, visual menarik dan keceriaan akan mudah mencuri perhatiannya saat mengerjakan tugas sekolah. Padahal untuk mensukseskan jadwal sekolah sesuai waktu yang seharusnya meskipun dilaksanakan di rumah, maka fokus anak harus tetap terarah kepada tugasnya, agar waktu yang tersedia bisa dilalui dengan efektif, bukan dihabiskan dengan melakukan hal diluar materi pelajaran. Orang tua harus mengetahui apa saja yang mudah menarik perhatian anak. Biasanya suara televisi, mainan, keberadaan adik atau kakak disekitarnya. Sebisa mungkin jauhkan anak dari semua yang bisa mengganggu konsentrasinya, karena jika anak sudah beralih dari tugas sekolah maka mengembalikan anak ke posisi belajar membutuhkan waktu dan usaha lagi.



Tempat dan Perlengkapan Khusus Belajar

Rumah dengan banyak ruangan dan area yang cukup luas untuk dijadikan tempat belajar anak, memungkinkan anak untuk melaksanakan sekolah online di tempat yang berbeda-beda setiap harinya. Berdasarkan pengalamanku, ternyata cara seperti ini seringkali membuat anak tidak fokus mengerjakan tugas. Tidak mungkin orang tua mengkondisikan seluruh ruangan rumah untuk menunjang proses belajar anak, misalnya memindahkan televisi, mengontrol suara atau kebisingan dan sebagainya.


Selain itu penting juga untuk menggunakan meja khusus belajar beserta perlengkapan lain yang memang hanya digunakan anak saat melakukan sekolah online. Semua ini bertujuan agar suasana dan perlengkapan yang konsisten saat belajar menanamkan konsep layaknya tatap muka di sekolah. Jadi anak sudah tahu, bahwa jika ia berada di posisi tersebut dan dikelilingi perlengkapan yang sudah biasa dipakai untuk belajar, berarti anak sedang bersekolah.


Intinya, menanamkan pengertian bahwa anak sedang bersekolah meskipun dari rumah, adalah cara yang paling efektif untuk kesusksesan pelaksanaan sekolah online. Hanya tempatnya saja yang berpindah, namun sekolah tetaplah sekolah dengan pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan dalam jadwal yang telah ditetapkan.


Baca juga : Anak Sering Bertanya? Jangan Pusing, Hadapi dengan Cara Ini


Punish dan Reward

Salah satu metode mendidik anak yang masih aku gunakan hingga sekarang adalah memberi hukuman jika anak salah dan memberi penghargaan saat anak melakukan sebuah kebaikan. Punish/memberi hukuman yang dimaksud bukan berbentuk sesuatu yang melukai fisik atau psikis anak, namun lebih kepada hukuman ringan seperti tidak memberi cemilan kesukaannya dalam jangka waktu tertentu, merapihkan mainan, tidak boleh menonton acara favoritnya atau tidak boleh bermain gadget sementara waktu. Reward atau hadiah yang diberikan harus terlihat wujudnya, seperti menempel bintang di kertas yang disediakan, bebas memilih lauk kesukaannya untuk makan siang, bermain game kesukaan selama 15 menit, atau boleh membantu menguleni adonan saat bunda sedang memasak kue.


Penerapannya dalam sekolah online ini adalah saat anak banyak tingkah dan menolak mengerjakan tugas, maka ia harus menerima konsekuensi karena telah melakukan hal yang tidak baik. Sebaliknya, jika tugas sekolah selesai dikerjakan, maka akan ada hadiah yang bisa didapatkannya. Jangan lupa pula memberikan pujian dan pelukan, agar anak merasa benar-benar melakukan kebaikan yang menyenangkan orang tua.



Sounding

Anak-anak belajar secara bertahap dan membutuhkan waktu lebih untuk benar-benar mengerti konsep yang diajarkan, termasuk mengenai sekolah online ini. Sebelumnya anak sudah merasakan dan mengetahui bahwa bersekolah itu adalah memakai seragam, berangkat dari rumah menuju sekolah, duduk di kelas, ada guru yang mengajar dan bertemu teman-teman. Tapi tiba-tiba saja semuanya berubah, sekolah dilaksanakan dari rumah dengan metode berbeda. Orang tua tentunya harus betul-betul memberi pengertian kepada anak agar ia paham bahwa meskipun dilaksanakan di rumah, proses belajar mengajar tetaplah seperti biasa dan sekolah tetaplah "sekolah". Salah satu cara yang lumayan sukses aku terapkan adalah tidak lelah men-sounding anak mengenai hal ini. 


Biasanya aku memberikan gambaran tentang situasi pandemi yang melarang kita semua berkerumun, dan sekolah adalah sebuah contoh kerumunan. Metode sekolah online dengan melakukan video call beserta tugas-tugasnya adalah bentuk perwujudan sekolah yang berbeda, namun sekolah tetaplah membutuhkan jadwal, kerajinan dan fokus. Sekarang kita hanya berpindah tempat, namun penyampaian pelajaran, pekerjaan rumah (PR), ujian, terima rapor dan juara kelas masih tetap ada seperti biasa. 


Aku berusaha untuk menjelaskan dengan cara ala anak-anak dengan bantuan gambar, contoh kejadian yang serupa atau cerita sebelum tidur. Manfaatkanlah waktu yang paling tepat untuk memberi pengertian kepada anak, seperti saat akan tidur, bermain santai, saat memangku atau memeluk anak. Sesuaikan dengan kondisi anak masing-masing dan gali terus kreatifitas orang tua untuk melakukan proses sounding ini. Jangan lelah dan tetap konsisten, karena dengan hal inilah anak menjadi paham apa yang wajib dan tidak boleh dilakukannya saat melaksanakan sekolah online. Jika di sekolah tatap muka ada aturan yang dipatuhi, maka sekolah online juga sama.


Baca juga : Anak Suka Berteriak? Jangan Langsung Dimarahi, Cari Tahu Penyebabnya dan Atasi dengan Tips Ini


Itulah beberapa tips yang aku lakukan selama mendampingi anak sekolah online. Tidak sebentar, butuh waktu dan kesabaran agar semuanya berhasil membuat proses belajar menjadi efektif. Peran orang tua sangat menentukan pemahaman anak dalam setiap pelajaran agar tidak ketinggalan. Bukan hanya anak, orang tua juga harus berjuang bersama agar anak tetap bisa mengikuti pelajaran sebaik saat ia bersekolah tatap muka, syukur-syukur bisa lebih baik.


Hanya saat pandemi inilah orang tua sangat peduli dan berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Ukirlah kenangan indah dan rauplah pengalaman berharga demi mengembangkan ilmu parenting yang harus selalu diperbaharui.


Semoga bermanfaat.



Kapan Sebaiknya Anak Mulai Sekolah?

6 comments

Sedikit bernostalgia, saat aku masih kecil dulu, sekitar tahun 90-an, para orang tua sepertinya tidak terlalu dipusingkan dengan batas usia minimal anak untuk memasuki dunia sekolah. Kalau TK ya 5 tahun. SD ya 6 tahun. Satu angkatan pasti umurnya sama. Kalaupun ada yang lebih tua atau yang lebih muda, perbedaan usianya tidak terpaut terlalu jauh, palingan masih terhitung bulan. 

Bagaimana sekarang? 

Banyaknya sekolah anak usia dini yang bersedia menerima siswa dari usia anak yang masih sangat kecil, yaitu 1,5 tahun atau 2 tahun, membuat batas minimum anak bersekolah berada dalam range yang cukup besar. Ini berarti orang tua sudah bisa menyekolahkan anaknya semenjak berusia 1,5 tahun hingga 4 tahun yang sama-sama dilebeli dengan jenjang "Kelompok Belajar".

Menurut Psikologi Indonesia, menyekolahkan anak terlalu dini dapat menyebabkan BLAST (Bored, Lonely, Angry/Afraid, Stress, Tired) pada anak yang bisa berdampak buruk bagi perkembangannya - dikutip dari parenting.orami.co.id
Thomas Dee, salah satu peneliti dan juga profesor di Stanford Graduate School of Education memberikan pernyataan, "Kami menemukan bahwa menunda anak masuk sekolah TK satu tahun, mengurangi tingkat hiperaktifitas dan kurangnya fokus perhatian anak hingga 73%. Hal ini terjadi pada rata-rata anak berusia 11 tahun." - dikutip dari id.theasianparent.com 
Pemerintah Indonesia sendiri menetapkan usia 4-5 tahun sebagai usia untuk masuk ke sekolah (TK atau sederajatnya) - dikutip dari popmama.com

Sebenarnya setiap orang tua memiliki alasan sendiri untuk menentukan kapan sebaiknya anak mereka memulai bersekolah. Banyak faktor yang melatarbelakangi, seperti orang tua yang bekerja, perkembangan motorik anak yang bermasalah dan berharap bisa memperbaikinya dengan bantuan sekolah, atau memang si anaklah yang terlalu bersemangat untuk segera masuk sekolah. Tapi apapun kejadiannya, jangan sampai "ikut-ikutan" menjadi alasan utama orang tua untuk memasukkan anak sekolah diusia yang terlalu dini. Bisa saja anaknya belum siap, malah dipaksa sekolah. Inilah yang berbahaya. Alasan lainnya yang tidak berdasar adalah anggapan orang tua bahwa "lebih cepat memasukkan anak sekolah akan membuat sang anak lebih cerdas". Padahal faktanya tidaklah demikian.

Memang di sekolah anak usia dini, khususnya pada jenjang "Kelompok Belajar" atau pra-TK, cara ajarnya lebih menekankan kepada "belajar sambil bermain". Namun perlu diperhatikan juga, apakah anak sudah siap mematuhi peraturan-peraturan yang ada, bersosialisai dengan orang banyak atau berkomunikasi yang baik. Bisa jadi anak akan tertekan dan takut selama mengikuti kegiatan sekolah. Bukannya berdampak positif, malah membawa hal negatif dalam kehidupan anak.

Baca juga
Perhatikan 4 Hal Ini dalam Memilih Sekolah Anak Usia Dini
Toilet Training Tidak Semenakutkan yang Dibanyangkan, Kok. Ini Tipsnya!
10 Manfaat Mengikutsertakan Anak dalam Perlombaan
Mempersiapkan Mental Anak agar Terhindar dari Depresi
Pro-Kontra Memarahi Anak, Kamu Di Tim Mana?

Kenapa pemerintah Indonesia menetapkan usia 4-5 tahun sebagai usia yang paling tepat untuk memasukkan anak sekolah? Karena pada umumnya memang diusia inilah anak sudah mulai menunjukkan pribadi yang siap sekolah. Jadi, bisa disimpulkan bahwa bukan usialah patokan untuk menentukan kesiapan anak bersekolah, namun lebih kepada memperhatikan kesiapan fisik dan mental anak.

Kesiapan mental dan fisik bagaimanakah yang bisa dianggap sebagai pertanda bahwa anak siap sekolah?

Berkomunikasi dengan Baik
Ciri pertama dan penting adalah kemampuan komunikasi anak yang baik untuk mengungkapkan sesuatu. Bicaranya tidak harus fasih, namun anak sudah harua tahu bagaimana cara meminta tolong, menyampaikan perasaannya, atau sekedar menyapa. Misalnya meminta izin saat ingin ke toilet dan meminta bantuan saat mengalami kesulitan. Bukan hanya komunikasi satu arah, namun komunikasi dua arah pun juga sebaiknya sudah dikuasai anak agar anak bisa mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan gurunya nanti saat sekolah.

Mandiri
Ciri kedua anak yang sudah siap bersekolah adalah sikapnya yang lebih mandiri dan tidak terlalu 'nempel' dengan orang tua. Mandiri yang dimaksud disini bukanlah mandiri dalam semua hal, tapi lebih kepada sikap anak yang sudah mulai bisa lepas dengan orang tua. Anak sudah mulai bisa main sendiri, bereksplorasi banyak hal tanpa harus dibuntuti orang tua, tertarik melakukan kegiatan kesehariannya secara mandiri, seperti makan, mengenakan baju, memakai sepatu, mandi, dan sebagainya.

Sudah Mengerti Instruksi
Ciri ketiga adalah kemampuan anak untuk mengerti apa yang dikatakan oleh orang tua dan melakukan instruksi kecil yang diberikan. Misalnya jika dimintai tolong mengambilkan tisu, maka anak bisa melakukannya sesuai dengan yang diminta. Jika dinasehati atau dilarang, anak sudah bisa menerima dan merespon dengan baik. "Tapi anakku kalau disuruh suka nggak mau. Apa dia belum siap sekolah?" Belum tentu. Dalam range usia tertentu, ada anak yang suka menunjukkan sikap-sikap menarik perhatian. Dia menganggap melakukan penolakan atau kebalikan dari instruksi yang diberikan akan membuat orang disekitarnya heboh, bahkan emosi. Bisa jadi jika orang lain yang meminta tolong, anak akan bergegas melakukannya. Hal ini bukan berarti anak tidak mampu menerima instruksi, tapi sebenarnya dia mengerti namun menolak untuk melakukannya karena suatu alasan. No problem.

Tertarik dengan Alat Tulis
Ciri keempat adalah ketertarikan anak untuk menggunakan alat tulis. Bisa saja untuk sekedar membuat garis yang tidak jelas, mewarnai atau membuat deretan titik tanpa makna. Aku sempat merasakan perubahan ini saat usia anakku melebihi 3 tahun. Sebelumnya, dia benar-benar tidak mau memegang alat tulis meskipun sudah dibelikan berbagai macam bentuk pensil warna dan buku gambar. Padahal anak seusianya kala itu sudah banyak yang lihai menggunakan alat tulis seperti spidol dan pulpen. Takut? Iya. Tapi menunggu dengan sabar adalah kunci utama mendampingi perkembangan anak. Akhirnya setelah melewati usia 3 tahun, dia sudah mulai sering meminta kertas dan spidol dalam jam bermainnya. Awalnya yang hanya membuat garis acak-acakan dengan penekanan yang tidak sama, semakin lama guratan tangannya semakin stabil. Bahkan sudah bisa membuat lingkaran penuh tertutup dan menirukan beberapa huruf alfabet. Itu terjadi begitu saja meskipun dia belum bersekolah.

Tidak Masalah saat Tidurnya Diinterupsi
Ciri kelima ini sering kali dianggap remeh oleh orang tua. Anak yang siap bersekolah tidak masalah jika waktu tidurnya harus dibatasi oleh jadwal jam masuk sekolah. Meskipun dibangunkan pagi hari, anak terlihat oke-oke saja dalam menjalankan aktifitas kesehariannya. Tidak rewel dan mampu menahan diri untuk tetap mengikuti kegiatan. Orang tua bisa melakukan tes kecil-kecilan dengan membangunkan anak di pagi hari untuk jogging bersama. Jika anak berhasil melawan rasa kantuknya dan segera bangun, serta bisa ber-jogging ria tanpa banyak rengekan, maka anak telah terbukti siap untuk sekolah.

Meminta Bersekolah
Ciri keenam dan lumayan sering terjadi adalah permintaan sendiri dari anak untuk segera dimasukkan sekolah. Permintaan ini bukanlah berupa rengekan anak usia 1 tahun saat melepas kakaknya yang akan berangkat sekolah, namun benar-benar keluar dari mulut anak secara sadar, yakin dan berulang-ulang. Biasanya, jika kelima ciri-ciri sebelumnya telah terjadi pada anak, maka permintaan untuk dimasukkan ke sekolah pasti akan segera diungkapkannya. Disaat inilah sebaiknya orang tua sudah mulai mencari sekolah yang tepat untuk anak.

Perlu digarisbawahi, pertumbuhan dan perkembangan masing-masing anak berbeda, begitu pula dengan fisik dan mentalnya. Bisa saja anak yang satu telah menunjukkan kesiapan bersekolah saat berusia 3 tahun, namun anak lain diusia yang lebih tua. Keadaan lingkungan sekitar anak juga bisa menjadi faktor penentu. Misalnya orang tua yang bekerja dan menitipkan anak di daycare. Karena sama-sama harus bangun pagi, maka orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya diusia 2 tahun agar waktu anak selama di tempat penitipan bisa semakin berkualitas. Toh, sekolahnya di daycare juga.

Semua pilihan tetap berada ditangan orang tua. Pilihlah keputusan yang tepat dalam menentukan usia siap sekolah anak. Jangan malu bertanya, jangan malas mencari informasi. Karena masa depan anak sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kecilnya.

Semoga bermanfaat.


Perhatikan 4 Hal Ini dalam Memilih Sekolah Anak Usia Dini

2 comments

Tahun ajaran baru sebentar lagi akan segera datang. Orang tua mulai sibuk mencari referensi sekolah demi mendapatkan pendidikan terbaik untuk anaknya. Orang tua yang belum berpengalaman dalam memilih sekolah anak, tentunya merasa bingung dalam menentukan standar yang tepat bagi si anak maupun orang tua itu sendiri.