2 comments
Foto : freepik.com
Tahun ajaran kali ini memang berbeda. Proses belajar mengajar yang selalu dilaksanakan dengan tatap muka di sekolah, sekarang dialihkan ke rumah masing-masing peserta didik. Pandemi menuntut orang tua untuk aktif mendampingi proses belajar anak di rumah, ya bisa dibilang menggantikan peran guru untuk mengajar, mengawasi dan mengontrol anak agar pelajaran bisa disampaikan dan diterima dengan baik.

Apakah mudah? Tentu saja tidak!  Tantangan baru ini tidak jarang membuat orang tua dan anak kebingungan, panik, kesal, marah bahkan stres.

Aku termasuk orang tua yang juga mengalami kesulitan saat menjalani proses sekolah online ini. Keputusan untuk tetap memasukkan anak sekolah dalam suasana pandemi, membuat aku harus menerima segala konsekuensi atas berbedanya proses belajar mengajar yang terjadi. Memang anak pertamaku masih berusia 4 tahun, aku bisa saja menunda 1 tahun lagi untuk langsung memasukkannya ke TK dan melewatkan jenjang KB (Kelompok Bermain). Tapi karena hasil pertimbangan yang sudah disepakati dengan suami dan dirasa akan banyak manfaat positif untuk perkembangannya, akhirnya anakku resmi diterima di sekolah anak usia dini yang sudah pasti proses belajarnya akan dilaksanakan secara online sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Sudah sejak Agustus lalu aku membersamai anak sekolah online dari rumah. Beberapa hari diawal, anakku masih antusias belajar, karena ini memang pertama kali untuknya. Tugas yang diberikan juga masih ringan, hanya sekedar pengenalan dan beberapa pola gambar untuk diwarnai. Tapi lama kelamaan, dia mulai banyak bertingkah. Kadang mengeluh capek padahal baru memegang alat tulis, bertele-tele atau perhatiannya mudah teralihkan bahkan hanya dari suara kecil. Tugas yang sebelumnya bisa diselesaikan hanya kurang dari satu jam, sekarang bisa sampai sore hari. 

Disaat inilah aku menjadi sering marah, tidak sabar, tertekan dan bingung harus menghadapinya dengan sikap yang bagaimana. Anakku juga meresponnya dengan sikap melawanan, sehingga waktu sekolah online berubah menjadi ajang peperangan. 

Merasa bahwa ini adalah tanggung jawab yang tidak bisa dihindari, dan aku adalah satu-satunya orang di rumah yang bisa full time mendampingi anak sekolah online, bagaimanapun juga aku harus segera menemukan solusinya. Akhirnya, meskipun ada beberapa kali trial-error, inilah beberapa tips paling sukses untuk menciptakan suasana belajar di rumah yang efektif dengan fokus anak yang selalu terjaga.

1 Tetapkan Jadwal Sesuai Jam Sekolah

Pihak sekolah yang memberikan kemudahan untuk bebas melaporkan tugas anak kapan saja, bisa pagi, siang atau malam, membuat aku tidak mematok jam tertentu untuk anak sekolah online kecuali untuk video call. Diawal masa sekolah, aku mengira menunggu mood anak berada di level terbaik adalah cara paling yang tepat. Ternyata ini tidak efektif sama sekali. Anak menjadi menyepelekan tugas sekolah dan beranggapan bahwa itu sesuatu yang bisa ditunda sesuka hati. Padahal sekolah merupakan hal rutin wajib yang harus dilakukannya. Maka dari itu aku berinisiatif untuk tetap menggunakan jadwal sekolah seperti biasa yaitu jam 8 pagi hingga jam 11 siang untuk mengerjakan tugas harian yang diberikan guru. Jika anak terlihat lelah dan butuh waktu istirahat, maka anak boleh istirahat memakan cemilan atau bermain sebentar saja, sekitar 15 menit. Secara tidak langsung ini akan menanamkan pada diri anak bahwa sekolah merupakan aktifitas wajib dan teratur yang harus dilakukan, sama seperti makan, mandi atau tidur.



Jauhkan Segala Sesuatu yang Mengalihkan Perhatian

Tidak bisa dipungkiri bahwa bermain selalu menjadi sesuatu yang paling disukai anak-anak. Wajar jika sesuatu yang berisik, visual menarik dan keceriaan akan mudah mencuri perhatiannya saat mengerjakan tugas sekolah. Padahal untuk mensukseskan jadwal sekolah sesuai waktu yang seharusnya meskipun dilaksanakan di rumah, maka fokus anak harus tetap terarah kepada tugasnya, agar waktu yang tersedia bisa dilalui dengan efektif, bukan dihabiskan dengan melakukan hal diluar materi pelajaran. Orang tua harus mengetahui apa saja yang mudah menarik perhatian anak. Biasanya suara televisi, mainan, keberadaan adik atau kakak disekitarnya. Sebisa mungkin jauhkan anak dari semua yang bisa mengganggu konsentrasinya, karena jika anak sudah beralih dari tugas sekolah maka mengembalikan anak ke posisi belajar membutuhkan waktu dan usaha lagi.



Tempat dan Perlengkapan Khusus Belajar

Rumah dengan banyak ruangan dan area yang cukup luas untuk dijadikan tempat belajar anak, memungkinkan anak untuk melaksanakan sekolah online di tempat yang berbeda-beda setiap harinya. Berdasarkan pengalamanku, ternyata cara seperti ini seringkali membuat anak tidak fokus mengerjakan tugas. Tidak mungkin orang tua mengkondisikan seluruh ruangan rumah untuk menunjang proses belajar anak, misalnya memindahkan televisi, mengontrol suara atau kebisingan dan sebagainya.


Selain itu penting juga untuk menggunakan meja khusus belajar beserta perlengkapan lain yang memang hanya digunakan anak saat melakukan sekolah online. Semua ini bertujuan agar suasana dan perlengkapan yang konsisten saat belajar menanamkan konsep layaknya tatap muka di sekolah. Jadi anak sudah tahu, bahwa jika ia berada di posisi tersebut dan dikelilingi perlengkapan yang sudah biasa dipakai untuk belajar, berarti anak sedang bersekolah.


Intinya, menanamkan pengertian bahwa anak sedang bersekolah meskipun dari rumah, adalah cara yang paling efektif untuk kesusksesan pelaksanaan sekolah online. Hanya tempatnya saja yang berpindah, namun sekolah tetaplah sekolah dengan pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan dalam jadwal yang telah ditetapkan.


Baca juga : Anak Sering Bertanya? Jangan Pusing, Hadapi dengan Cara Ini


Punish dan Reward

Salah satu metode mendidik anak yang masih aku gunakan hingga sekarang adalah memberi hukuman jika anak salah dan memberi penghargaan saat anak melakukan sebuah kebaikan. Punish/memberi hukuman yang dimaksud bukan berbentuk sesuatu yang melukai fisik atau psikis anak, namun lebih kepada hukuman ringan seperti tidak memberi cemilan kesukaannya dalam jangka waktu tertentu, merapihkan mainan, tidak boleh menonton acara favoritnya atau tidak boleh bermain gadget sementara waktu. Reward atau hadiah yang diberikan harus terlihat wujudnya, seperti menempel bintang di kertas yang disediakan, bebas memilih lauk kesukaannya untuk makan siang, bermain game kesukaan selama 15 menit, atau boleh membantu menguleni adonan saat bunda sedang memasak kue.


Penerapannya dalam sekolah online ini adalah saat anak banyak tingkah dan menolak mengerjakan tugas, maka ia harus menerima konsekuensi karena telah melakukan hal yang tidak baik. Sebaliknya, jika tugas sekolah selesai dikerjakan, maka akan ada hadiah yang bisa didapatkannya. Jangan lupa pula memberikan pujian dan pelukan, agar anak merasa benar-benar melakukan kebaikan yang menyenangkan orang tua.



Sounding

Anak-anak belajar secara bertahap dan membutuhkan waktu lebih untuk benar-benar mengerti konsep yang diajarkan, termasuk mengenai sekolah online ini. Sebelumnya anak sudah merasakan dan mengetahui bahwa bersekolah itu adalah memakai seragam, berangkat dari rumah menuju sekolah, duduk di kelas, ada guru yang mengajar dan bertemu teman-teman. Tapi tiba-tiba saja semuanya berubah, sekolah dilaksanakan dari rumah dengan metode berbeda. Orang tua tentunya harus betul-betul memberi pengertian kepada anak agar ia paham bahwa meskipun dilaksanakan di rumah, proses belajar mengajar tetaplah seperti biasa dan sekolah tetaplah "sekolah". Salah satu cara yang lumayan sukses aku terapkan adalah tidak lelah men-sounding anak mengenai hal ini. 


Biasanya aku memberikan gambaran tentang situasi pandemi yang melarang kita semua berkerumun, dan sekolah adalah sebuah contoh kerumunan. Metode sekolah online dengan melakukan video call beserta tugas-tugasnya adalah bentuk perwujudan sekolah yang berbeda, namun sekolah tetaplah membutuhkan jadwal, kerajinan dan fokus. Sekarang kita hanya berpindah tempat, namun penyampaian pelajaran, pekerjaan rumah (PR), ujian, terima rapor dan juara kelas masih tetap ada seperti biasa. 


Aku berusaha untuk menjelaskan dengan cara ala anak-anak dengan bantuan gambar, contoh kejadian yang serupa atau cerita sebelum tidur. Manfaatkanlah waktu yang paling tepat untuk memberi pengertian kepada anak, seperti saat akan tidur, bermain santai, saat memangku atau memeluk anak. Sesuaikan dengan kondisi anak masing-masing dan gali terus kreatifitas orang tua untuk melakukan proses sounding ini. Jangan lelah dan tetap konsisten, karena dengan hal inilah anak menjadi paham apa yang wajib dan tidak boleh dilakukannya saat melaksanakan sekolah online. Jika di sekolah tatap muka ada aturan yang dipatuhi, maka sekolah online juga sama.


Baca juga : Anak Suka Berteriak? Jangan Langsung Dimarahi, Cari Tahu Penyebabnya dan Atasi dengan Tips Ini


Itulah beberapa tips yang aku lakukan selama mendampingi anak sekolah online. Tidak sebentar, butuh waktu dan kesabaran agar semuanya berhasil membuat proses belajar menjadi efektif. Peran orang tua sangat menentukan pemahaman anak dalam setiap pelajaran agar tidak ketinggalan. Bukan hanya anak, orang tua juga harus berjuang bersama agar anak tetap bisa mengikuti pelajaran sebaik saat ia bersekolah tatap muka, syukur-syukur bisa lebih baik.


Hanya saat pandemi inilah orang tua sangat peduli dan berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Ukirlah kenangan indah dan rauplah pengalaman berharga demi mengembangkan ilmu parenting yang harus selalu diperbaharui.


Semoga bermanfaat.



No comments
Foto : freepik.com

Ayam merupakan sumber protein favorit yang bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan. Bukan hanya di Indonesia, tingginya tingkat konsumsi ayam juga banyak terjadi di berbagai negara. Kandungan ayam yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh sangat cocok dijadikan bahan makanan pendamping ASI (MPASI). Berbagai jenis ayam mudah dijumpai di pasaran, ada ayam kampung, ayam broiler, ayam organik dan ayam probiotik. Daging ayam yang dijual juga tersedia dalam berbagai bentuk kemasan, ada ayam utuh, ayam potong yang masih lengkap dengan tulang, ayam fillet, daging ayam giling, hati ampela, ceker dan kulit. Tinggal membeli sesuai kebutuhan dan bisa langsung diolah tanpa perlu repot-repot lagi membersihakan atau memotong-motongnya.
16 comments

Foto : freepik.com

Ibu bekerja yang lanjut kuliah S-2 pasti dianggap biasa. Tapi bagaimana jika seorang ibu rumah tangga yang melanjutkan studinya ke program magister? Apakah penilaiannya masih sama?


Ibu rumah tangga memang tidak dituntut untuk berpendidikan tinggi, sehingga jika ada ibu rumah tangga yang memutuskan untuk kuliah lagi akan dianggap melakukan sesuatu yang tidak penting serta hanya membuang-buang waktu dan uang saja. Buat apa? Ijazahnya dipakai untuk apa? Gelarnya tidak akan digunakan untuk penyetaraan apapun, bukan? Kenapa harus susah-susah kuliah lagi?


Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.

Dian Sastrowardoyo - aktris, ibu rumah tangga, Master Manajemen Keuangan


Jika dilihat sekilas, ibu rumah tangga memang dianggap tidak membutuhkan gelar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tapi tahukah bahwa ibu bukan hanya berperan untuk urusan sumur, dapur dan kasur saja? Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, ibu adalah penenang dalam keluarga, ibu harus bisa memiliki pikiran yang rasional dan kemampuan pemecahan masalah yang baik, ibu harus bisa menjadi teman bicara suami, dan ibu juga berhak untuk mengembangkan diri untuk sukses. Semua itu tentunya membutuh dukungan ilmu yang salah satunya bisa didapat dari jalur pendidikan.


Baca juga : Wanita Berdaster Jangan Minder, Ini Tipsnya!


***


Manfaat Ibu Rumah Tangga yang Memiliki Pendidikan Tinggi

Foto : freepik.com

Tidak ada salahnya saat seorang ibu rumah tangga memutuskan untuk kuliah lagi. Jika bisa membagi waktu dengan baik, tidak melupakan tugas utamanya mengurus keluarga, maka dengan kuliah akan banyak manfaat yang dirasa. Tidak hanya bagi si ibu itu sendiri, namun bisa berpengaruh positif pula bagi keluarga. Apapun alasan yang melatarbelakanginya, berikut 7 manfaat yang akan didapat jika ibu rumah tangga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dijamin nggak bakalan rugi!


Mendapat Gelar

Setiap mahasiswa pasti mendapatkan title gelar setelah berhasil menyelesaikan studinya. Begitu pula dengan ibu rumah tangga, akan ada gelar tambahan dibelakang nama setelah lulus nanti. Meskipun tidak terpakai untuk melamar kerja dan naik jabatan, tapi dengan memiliki gelar menyiratkan makna yang lebih dari sekedar pencantuman saja. Ibu rumah tangga yang "bergelar" secara tidak langsung menunjukkan bahwa ia adalah wanita berpendidikan, lebih cerdas, solutif dan berkelas. Mungkin saja dengan gelar tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian dan perlakuan orang lain dalam kehidupan bersosial.


2 Memperoleh Ilmu yang Benar-Benar Dibutuhkan

Ibu rumah tangga yang tidak terikat dengan pekerjaan, pasti lebih cenderung memilih jurusan yang benar-benar dibutuhkan di kehidupan atau yang dapat menunjang impiannya. Tidak masalah jika jurusan kuliah sebelumnya tidak sebidang dengan jurusan yang diinginkan, karena sudah banyak universitas yang menyediakan mata kuliah penyesuaian. Mungkin saat masih muda dulu menganggap kuliah adalah kewajiban yang harus dijalani, sehingga jurusan yang tempuh belum tentu sesuai passion. Setelah semakin dewasa, pengalaman hidup dan penilaian terhadap kebutuhan diri, pasar atau masyarakat bisa saja merubah pandangan terhadap jurusan yang benar-benar sesuai. Menjalani masa studi akan jauh lebih serius dan pastinya akan meningkatkan penyerapan ilmu saat belajar sehingga dapat mengembangkan diri dengan maksimal.


3 Mematangkan Pola Pikir

Selain gelar dan ilmu, kuliah sudah terbukti dapat mematangkan pola pikir lulusannya sehingga dapat melihat sebuah permasalahan dari sudut pandang yang tepat serta menemukan pemecahan masalah tersebut sesuai dengan ilmu yang didapatkan selama kuliah. Ini tentunya sangat berguna jika diterapkan dalam kehidupan keluarga. Ibu bisa lebih baik lagi dalam menyikapi permasalahan rumah tangga, permasalahan parenting, permasalahan keuangan dan berbagai permasalahan hidup lainnya. Ibu sebagai nadi keluarga tentunya membutuhkan pengelolaan emosi dan kemampuan pemecahan masalah yang baik. Dengan demikian, keharmonisan dan kestabilan kehidupan berkeluarga dapat terjaga serta kehidupan sosial yang berkualitas.


4 Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Jika selama ini kehidupan ibu rumah tangga selalu disangkutpautkan dengan wanita berdaster dan hanya bertugas mengurus urusan rumah, kenyataannya ibu rumah tangga juga bisa melakukan sesuatu yang sama dengan orang lain, yaitu berpendidikan tinggi. Pemilik gelar sarjana atau pascasarjana pasti dipandang setingkat lebih tinggi, apalagi untuk seorang ibu rumah tangga. Pengakuan sosial ini akan meningkatkan kepercayaan diri ibu rumah tangga karena tidak dipandang "biasa" lagi. Ilmu dan pengembangan diri yang didapat selama kuliah pasti memberikan perubahan, mungkin dari cara berbicara, berpikir, bertindak atau memberikan solusi. Hal ini juga akan memudahkan ibu rumah tangga untuk berbaur dengan semua kalangan masyarakat sehingga keberadaannya lebih dihargai dan dihormati.


5 Mewujudkan Impian

Kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ditengah kesibukan mengurus keluarga pasti tidak akan disia-siakan begitu saja, sehingga masa studi akan dilalui dengan penuh keseriusan. Pemilihan jurusan untuk melanjutkan kuliah akan didasarkan kepada kebutuhan dan impian yang hendak dicapai. Bekal ilmu yang tepat ini akan memudahkan ibu rumah tangga dalam proses menggapai apa yang diinginkan. Misalnya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi agar dapat menjalankan bisnis yang telah direncanakan, jurusan Desain atau Tata Busana jika ingin mengejar cita-cita sebagai desainer atau Tata Boga jika ingin membuka usaha catering, cafe, restaurant, bakery dan sejenisnya. Jalan untuk mewujudkan impian akan terbuka dan kesempatan mewujudkannya menjadi lebih besar.


6 Membanggakan Keluarga

Orang lain saja memandang lebih akan gelar magister atau bahkan doktor yang dimiliki seorang ibu rumah tangga, apalagi keluarga yang memiliki hubungan erat dengan ibu, tentu saja memiliki kebanggaan tersendiri karena memiliki wanita spesial di tengah mereka. Ibu bisa menjadi teman bicara yang sepadan dengan suami atau dengan teman-teman seprofesinya. Anak-anak juga akan kagum dan bangga saat menceritakan ibu mereka kepada teman, guru atau siapapun disekitarnya. Secara tidak langsung, pendidikan tinggi ibu akan menanamkan semangat belajar dan keinginan untuk menggapai hal serupa seperti apa yang dimiliki ibu mereka. 


7 Menambah Relasi

Meskipun bukan tujuan utama, memasuki kembali dunia pendidikan pasti membuka kesempatan untuk bertemu orang-orang baru. Program pascasarjana biasanya diisi oleh mahasiswa lintas generasi dengan usia yang bervariasi. Ditambah lagi dengan hadirnya dosen-dosen cerdas yang bisa ditanyakan banyak hal terkait studi yang diambil. Hubungan yang terbentuk ini sangat menguntungkan dalam upaya pegembangan diri ibu, seperti mencari tahu gaya hidup masa kini kepada kenalan yang masih berusia muda atau belajar banyak pengalaman bersama teman yang lebih tua. Seperti yang sudah sama-sama diketahui, relasi merupakan poin penting dalam melancarkan proses mewujudkan banyak hal, seperti untuk urusan administrasi, akses informasi, celah peluang dan sebagainya.


Baca juga : Mengurus Dua Anak Sendiri tanpa Pengasuh dan Asisten Rumah Tangga? Bisa Kok!


***


Ibu Penting Pertimbangkan Beberapa Hal Ini Sebelum Kuliah Lagi

Foto : freepik.com

Disamping banyaknya manfaat yang didapatkan ibu rumah tangga setelah melanjutkan kuliah dan menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin, ibu juga perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut agar tetap dapat menyeimbangkan antara aktifitas dan kebutuhan kuliah dengan tanggung jawab rumah tangga.


Diskusikan dengan Suami

Apapun yang dilakukam istri, sudah selayaknya harus didiskusikan terlebih dahulu dengan suami. Apalagi mengenai rencana kuliah yang bisa saja mempengaruhi kehidupan keluarga nantinya. Peran suami juga sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan, baik dari biaya, waktu, semangat atau berbagi sedikit tugas rumah tangga dan menjaga anak. 


Kondisi Keluarga

Ibu adalah orang yang paling mengerti bagaimana kondisi keluarga. Masa kuliah pasti membutuhkan waktu untuk belajar, sehingga kondisi keluarga yang merupakan tanggung jawab utama ibu sangat menentukan kelancaran studi tersebut. Misalnya jika saat ini masih ada anak-anak yang membutuhkan kehadiran ibunya seharian penuh dan belum mandiri, sedangkan tidak ada orang lain yang bisa dititipkan, maka sudah pasti saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk kuliah. Menunggu beberapa tahun lagi bisa menjadi pilihan tepat meskipun butuh kesabaran dan keikhlasan untuk menundanya.


Biaya Kuliah

Kebutuhan hidup yang semakin mahal tentu membutuhkan pengelolaan keuangan yang tepat dalam rumah tangga. Pastikan keseluruhan biaya kuliah mulai dari uang pangkal, uang semester atau uang-uang lainnya tidak mengorbankan kebutuhan pokok keluarga seperti makanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Jika butuh waktu untuk menabung, lebih baik menunda sebentar waktu kuliah agar tidak menyusahkan dan berujung masalah kedepannya.


Metode atau Waktu Kuliah yang Paling Memunginkan

Sebelum memutuskan universitas mana yang akan dipilih, tentukan dulu ketersediaan waktu yang dimiliki. Apakah bisa untuk mengikuti kuliah tatap muka pagi, malam atau kuliah daring yang tidak terikat tempat dan waktu. Jika bisa menitipkan anak sementara kepada orang yang dipercaya, maka kuliah tatap muka bisa dipilih sesuai dengan ketersediaan waktu yang paling memungkinkan. Tapi jika ibu tidak bisa meninggalkan rumah dan tidak bisa memastikan kapan waktu yang bisa diluangkan untuk kuliah, maka metode kuliah daring akan sangat membantu. 


Universitas

Memilih universitas untuk melanjutkan kuliah lagi mungkin menjadi sebuah pilihan sulit bagi seorang ibu rumah tangga. Banyak batasan dan kriteria yang harus disesuaikan dengan tugas mengurus rumah dan anak. Pastikan universitas yang dipilih sesuai dengan anggaran dana yang dimiliki, pilihan metode dan waktu kuliah yang bisa diikuti serta lokasinya yang tidak terlalu sulit dijangkau. Pastikan pula akreditasi resmi dari jurusan dan universitas pilihan, karena bagaimanapun akreditasi merupakan parameter penting sebagai bukti diakuinya instansi pendidikan tersebut serta kualitas dan keunggulannya. 


Baca juga : Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga Juga Ada Ilmunya, lo! Yuk, Simak 8 Tips Berikut


***


Status yang sudah berbeda pasti sedikit-banyaknya mempengaruhi pemilihan universitas, waktu kuliah atau metode belajar. Mungkin akan ada beberapa pengorbanan untuk menekan sedikit ambisi diri karena sudah ada tanggung jawab wajib yang diemban selain kuliah. Misalnya jika keinginan hati ingin kuliah di kampus terbaik, ternyata tidak tersedia program kuliah secara daring dan hanya ada jam kuliah pagi, maka ibu sebaiknya menurunkan ego agar tidak memaksakan diri kuliah disana jika tidak bisa meninggalkan anak direntang waktu tersebut. Contoh lainnya juga biasa terjadi dalam menyesuaikan biaya kuliah dengan keuangan keluarga atau lokasi universitas. Makanya ibu sangat penting sekali untuk benar-benar merencanakan dan membicarakan tentang melanjutkan kuliah ini dengan suami atau anak jika sudah bisa diajak berdiskusi.


Ibu rumah tangga bukanlah wanita yang terbelenggu dengan urusan rumah, namun ibu rumah tangga juga berhak melakukan apa saja yang diinginkan asalkan masih bermakna positif dan tidak mengganggu kewajiban utamannya sebagai pengurus pekerjaan domestik rumah tangga. 


Meskipun jalan yang dilalui lebih menantang dan kesibukan menjadi berlipat ganda, pada akhirnya perjuangan dan pengorbanan ibu selama menjalankan studi akan banyak memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan mungkin nanti untuk lingkungan sekitar secara lebih luas. 


Semoga bermanfaat.


2 comments
Foto : freepik.com

Jika anak bosan dengan  nasi, maka misoa bisa menjadi sumber karbohidrat lain yang cocok dimasak sebagai menu MPASI. Seperti mi pada umumnya, misoa bisa dimasak dengan kuah (rebus) atau digoreng. Teksturnya sangat lembut, sehingga anak bisa dengan mudah mengkonsumsinya meskipun belum memiliki gigi lengkap. Cara memasaknya juga simple, sama dengan jenis mi lain, yaitu direndam atau direbus dengan air panas selama beberapa menit hingga matang. Dikombinasikan dengan bahan lain seperti protein atau sayuran dapat menghasilkan masakan yang sangat enak.

Misoa atau misua adalah mi halus dan tipis dari tepung terigu. Mi ini berwarna putih, dan selalu dijual dalam bentuk kering. Misoa tidak sama dengan sohun, yang dibuat dari tepung kacang hijau, dan bihun yang dibuat dari tepung beras.
- Wikipedia -

Berikut beberapa resep olahan misoa yang pernah aku masak untuk anak-anak. Meskipun tidak sering, namun misoa selalu berhasil mengatasi masalah GTM (Gerakan Tutup Mulut) yang bikin pusing. 



1 Misoa Telur Kuah


🌟 karbo : misoa
🌟🌟 prohe : telur ayam kampung
🌟🌟🌟 prona : tahu
🌟🌟🌟🌟 sayur : brokoli

Bahan :
Misoa, potong pendek
Telur ayam kampung
Tahu putih, lumatkan dengan sendok atau potong kotak kecil
Brokoli, cincang halus
Bawang merah dan bawang putih, haluskan
Kaldu sapi non MSG & gulgar (saya pakai merek Koala)
Garam
Air
Minyak untuk menumis.

Cara membuat :
🌸 Tumis duo bawang hingga wangi.
🌸 Masukkan air dan tunggu sampai mendidih.
🌸 Masukkan brokoli dan tahu, tunggu sampai setengah matang.
🌸 Masukkan telur, aduk cepat.
🌸 Masukkan misoa.
🌸 Tambahkan kaldu sapi dan garam.
🌸 Tes rasa.
🌸 Sajikan selagi hangat.

______________ 

2 Misoa Rebus Komplit


🌟 karbo : misoa
🌟🌟 prohe : telur ayam kampung, bakso sapi homemade (resepnya bisa dilihat disini)
🌟🌟🌟 prona : tahu
🌟🌟🌟🌟 sayur : bayam

Bahan :
Misoa
Telur ayam kampung
Bakso sapi homemade
Tahu, potong dadu kecil
Bayam, iris tipis
Bawang putih bubuk
Parsley kering
Kaldu sapi bubuk tanpa gulgar dan MSG
Garam

Cara membuat :
🌸 Didihkan air.
🌸 Masukkan bayam, tahu, bakso. Tunggu sayur setengah layu.
🌸 Masukkan telur, aduk cepat.
🌸 Masukkan misoa.
🌸 Tambahkan bawang putih bubuk, parsley, kaldu sapi bubuk dan garam.
🌸 Tunggu sampai misoa matang. Tes rasa.
🌸 Sajikan selagi hangat.

______________

3 Misoa Siram Salmon Saus Tomat


Untuk usia 1 tahun+
🌟 karbo : misoa
🌟🌟 prohe : ikan salmon
🌟🌟🌟 prona : tahu
🌟🌟🌟🌟 sayur : tomat dan wortel

Bahan :
Misoa
Ikan salmon fillet potong dadu kecil
Tahu potong dadu kecil
Wortel parut
Tomat
Bawang bombai cincang
Bawang merah cincang
Bawang putih cincang
Oregano
Kecap asin
Garam
Minyak untuk menumis
Air

Cara membuat :
🌸 Rebus tomat sampai empuk lalu lumatkan dan tekan-tekan menggunakan sendok diatas saringan kawat hingga mendapatkan saus tomatnya. Sisihkan.
🌸 Rebus misoa (bisa menggunakan air rebusan tomat tadi) dengan menambahkan sedikit oregano. Tiriskan dan diamkan sebentar, kemudian campur dengan evoo, aduk rata. Sisihkan.
🌸 Tumis bawang bombai, bawang merah dan bawang putih sampai wangi.
🌸 Masukkan ikan salmon, tahu dan wortel. Tumis sebentar.
🌸 Tambahkan saus tomat, kecap asin, garam dan sedikit oregano. Tes rasa.
🌸 Masak sampai semuanya matang.
🌸 Siram saus diatas misoa.
🌸 Sajikan dengan penuh cinta :)

______________

4 Misoa Goreng Ikan Dori


Untuk usia 1 tahun+
🌟karbo : misoa
🌟🌟 prohe : ikan dori
🌟🌟🌟 prona : jamur
🌟🌟🌟🌟 sayur : wortel, brokoli

Bahan :
Misoa
Ikan dori fillet
Jamur tiram
Wortel
Brokoli
Bawang merah
Bawang putih
Jeruk nipis
Kecap asin
Saus tiram
Minyak wijen
Garam
Minyak goreng
Air

Cara membuat :
🌸 Baluri ikan dori dengan air perasan jeruk nipis dan sedikit garam. Diamkan sebentar agar amisnya hilang. Potong dadu kecil atau iris tipis.
🌸 Rebus misoa dengan air yang ditambahkan sedikit minyak goreng agar tidak lengket. Setelah lunak, angkat dan tiriskan. Sisihkan.
🌸 Cincang jamur, brokoli dan wortel.
🌸 Haluskan bamer dan baput. Tumis sampai wangi.
🌸 Masukkan ikan, jamur, brokoli dan wortel. Tumis sebentar.
🌸 Tambahkan sedikit air.
🌸 Masak sampak air menyusut dan semuanya empuk.
🌸 Tambahkan kecap asin, saus tiram, sedikit minyak wijen.
🌸 Masukkan misoa dan aduk hingga tercampur rata.
🌸 Tes rasa. Jika kurang asin, tambahkan garam sampai mendapatkan rasa yang pas.
🌸 Bisa ditambahkan unsulted butter sebagai lemak tambahan selagi hangat. Aduk rata agar tercampur sempurna.
🌸 Sajikan dengan penuh cinta :)


Itulah beberapa resep olahan misoa yang bisa dijadikan referensi menu MPASI untuk anak. Memvariasikan menu makanan anak bisa menghilangkan rasa bosannya akan hidangan yang itu-itu saja. Sama seperti orang dewasa, ada kalanya mereka merasa bosan dengan makanan tertentu yang terlalu sering dimakan. Hanya saja anak kecil belum bisa mengungkapkannya sehingga dapat berujung dengan GTM. Orang tua harus bisa kreatif mengkreasikan menu makanan anak dengan tetap mengutamakan kelengkapan gizinya.

Semoga bermanfaat.





10 comments


Banyak anak banyak rezeki.
Ungkapan ini jangan disalahartikan bahwa dengan memiliki banyak anak, maka rezeki akan mengalir deras dengan sendirinya. Kehadiran anak memanglah sebuah pemberian besar dari Tuhan yang harus disyukuri, tapi jangan lupa bahwa anak juga perlu dicukupkan kebutuhan hidupnya dan dijamin masa depannya. Kehidupan anak sangat tergantung dengan orang tua, mulai dari lahir hingga dewasa nanti. Bukan hanya kebutuhan dalam bentuk fisik, namun kebutuhan batin seperti kasih sayang, waktu bersama dan perhatian juga wajib diberikan secara continue
4 comments
FotΓ² : freepik.com 
Masa tua pasti akan datang. Meski selalu dianggap sebagai masa untuk menikmati hidup, namun jika dijalani dengan cara yang salah, hidup malah tidak akan terasa nikmat. Bersantai sepanjang waktu merupakan cara impian mayoritas orang untuk menghabiskan masa tuanya. Ini dianggap begitu menyenangkan karena tidak perlu lelah bekerja, terikat waktu, dikejar target dan sebagainya, suatu hal yang sangat mahal didapat saat masih berusia produktif.
No comments
Foto : freepik.com

Telur adalah sumber protein yang cepat dan gampang untuk dimasak. Dicampur dengan bahan apa saja bisa, dijadikan bahan utama juga bisa. Diorak arik, diceplok, direbus, dicampurkan ke adonan kue, digulai, disemur atau dimasak dengan cara apapun sepertinya akan tetap enak. Harganya pun relatif murah dan mudah didapat dimana saja. Pokoknya telur selalu menjadi bahan makanan yang wajib dijadikan stok di kulkas. 
No comments
Source : freepik.com

Makanan laut merupakan sumber protein yang kaya gizi. Ikan dan udang merupakan dua jenis makanan laut yang sering aku jadikan menu MPASI anak. Selain mudah didapat, cara pengolahannya juga lebih familiar. Teksturnya lembut, sehingga cocok untuk dijadikan makanan bayi. Namun, orang tua perlu berhati-hati sebelum memperkenalkan makanan laut saat MPASI pertama, karena sangat riskan menimbulkan alergi pada anak.